SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
RENCANA



Wiro,septo...kalian tahu dimana pasar tempat jual ayam..." Tanya wisang geni


" Tahu kakang...cuma pasar sudah tutup,tapi dirumah paman darman ada kakang...buat apa kakang...apa ibu mau hajatan..?" Tanya septo.


"Iya ...sudah sana beli ... Ini uang buat kalian" perintah Geni sambil menyerahkan 10 kupang perak pada kedua anak itu...


2 anak itu terlihat heran, 10 kupang perak....


* Kupang adalah alat tukar zaman itu, nilai :


1 kupang emas \= 20 kupang perak


1 kupang perak \= 20 kupang perunggu


2 kupang perunggu dapat membeli 1 ayam.


1 kupang perunggu \= upah para pekerja 1 hari.


" Ini dibelikan semua kakang..." Tanya Wiro


Pertanyaan tersebut hanya di jawab anggukan kepala dan sedikit senyuman oleh wisang geni. Setelah menyuruh anak-anak itu beli ayam wisang geni pamit mandi di sungai yang tak begitu jauh dari rumah paman Marlan. Rumah paman darma tidak jauh dari rumah Marlan,jadi tak berapa lama kedua anak ini sudah kembali. Masing-masing anak membawa 10 ekor ayam. Marlan dan Marni mulai bingung dari mana anak-anak dapat ayam sebanyak itu.


" Kang wisang geni menyuruh kami beli ayam bopo...ini sisa kupangnya "Jelas wiro


Terperanjat Marlan melihat kupang sisanya,kupang sebanyak itu di berikan geni pada anaknya tanpa fikir panjang. Bahkan Marlan harus kerja berbulan-bulan untuk mengumpulkan itu .


Selepas membersihkan diri geni masuk rumah,kaget karana kedua anak ini bawa ayam banyak sekali.untuk menutupi.rasa kagetnya wisang geni berbicara pada Marni


"Bibi tolong masak 2 ayam ya..."


"Baik nak Geni..." Balas singkat bibi Marni.


Sembari Menunggu masakan ayam bibi matang, mereka duduk di teras depan rumah.


" Kakang aku minta maaf....aku dan dek septo hanya kuat membawa ayam segitu" ucap Wiro sedikit menyesal.


Wiro baru sadar bahwa uang yang diberikan kepada kedua anak Marlan terlalu banyak.


" Tak apa-apa Wiro besok kita beli sama-sama biar bisa bawa lebih banyak" jawab Geni membuat kedua anak Marlan senang.


Akhirnya paman Marlan pun menceritakan kehidupan di kampung ini, desa daun hijau.


Selesai makan tampak jelas kedua anak paman Marlan bahagia sekali,bagi mereka makan dengan lauk ayam jarang sekali,itu pun kalau ada hajatan atau syukuran warga. Desa daun hijau memang desa miskin. Jauh terpincil dari pusat pemerintah kerajaan Mataram. Desa ini masuk kawasan kadipaten Gunung Kidul.


" Selesai makan kedua anak paman Marlan duduk diteres bersama wisang geni.


" Kakang...didesa ini tempatnya indah ada pasarnya,...pokoknya rame kakang" ucap septo menerangkan.


" Besok kita akan kepasar, kakang akan belikan baju buat kalian,kita akan beli makanan yang enak-enak" ajak wisang geni pada kedua anak itu,dia merasa iba...dengan keadaan mereka.


"Jangan ganggu kakang mu...cepat tidur" perintah Marlan pada kedua anak-anaknya. Geni berpesan pada Marlan dan Marni agar Geni di aku sebai keponakannya, agar warga sekitar tak curiga.


" kakang jangan lupa janji kakang ....besok ya..."


Marni juga heran,tidak biasanya anak-anak itu bisa akrab dengan orang asing.


"Paman boleh saya tanya...bagai mana keadaan kadipaten dan kerajaan Mataram...?" Selidik Geni.


"...kita masih beruntung geni tinggal disini,,,karena dikadipaten sana saya dengar 5 tahun terakhir kerajan memungut upeti (pajak) kadang menggunakan kekerasan,penduduk disana banyak mengeluh...kalau desa ini tiap tahun yang harus bayar ke kadipaten Gunung Kidul,kadang kambing tak jarang juga lembu(sapi).kadang warga desa bingung...perjalanan menuju kadipaten banyak perampok bahkan tiap kita belanja perlengkapan sering dihadang...warga tiap 6 bulan sekali menuju kadipaten...belanja perkakas seperti kapak,cangkul dan perlengkapan lain yang di butuhkan.karena didesa ini tidak ada penempa besi..." jawab Marlan menerangkan keadaan desa dimana mereka tinggal.


Wajah Wisang geni merah padan karena marah...mendengar cara penarikan pajak dari pihak kerajaan yang kadang menggunakan kekerasan."


Muncul niat untuk menumpas kerajaan yang kejam ini. Entah dari mana fikiran itu muncul, jiwa patriotik muncul, ketika mendengar keluh dan kesah para penduduk.


Dalam benak wisang geni semakin benci dengan raja Mataram,karena kejadian 4 tahun lalu,Ditambah lagi setelah mendengar cara pemungutan pajak kepada penduduk. Muncul ide dalam benak wisang geni,..."


akan kuhancurkan kerajaan kejam itu,,, aku akan menyusun kekuatan di desa ini" batin wisang geni


" Sudah nak Geni diminum dulu teh nya keburu dingin...jangan terlalu dengar omongan kang Marlan..." Ujar bibi Marni sambil meletakan minuman didepan pemuda itu...


" Ini kupang (uang)sisa beli ayam tadi...mending nak Geni simpan...jangan terlalu boros...kehidupan di kampung ini keras dan sulit..." Lanjut Marni sambil meletaktakan uang dedipan wisang geni.


" Itu buat bibi dan Paman saja..."jawab datar wisang geni seakan-akan tak membutuhkannya.


Pasangan suami istri ini membelalakan matanya seakan tak percaya,


" Paman dan bibi simpan saja,...pasti paman dan bibi lebih membutuhkan..." Sambil menaruh kepingan itu ditangan Sumi.


" Trimakasih nak Geni..." Ucap Sumi dengan senang.


"Paman...apa paman bersidia bekerja sama dengan ku...?"tanya geni.


"Katakan nak Geni.... Kalau mampu pasti paman bantu..." Tegas paman Marlan menyakin kan wisang geni.


" Aku punya sebuah rencana paman..aku ingin mendirikan rumah dimana di belakangnya ada peternakan lembu,kambing atau apapun itu yang pasti bisa di ternak...serta bisa memajukan desa ini..."ungkap geni mengenai rencananya.


Rencana wisang geni adalah menyusun kekuatan di desa ini...suatu saat jika sudah tepat waktunya akan dia gunakan untuk menumpas raja Mataram yang lalim,,,jadi wisang geni menggunakan desa daun hijau sebagai pemasok senjata dan sumber pangan untuk kerajaan Pajang.karna dia merasa raja Mataram ada raja yang tirani,kejam dan jahat. Maka dia akan melaporkan kejadian 4 tahun yang lalu...meminta kerajaan pajang untuk menumpas raja yang lalim ini. Dengan adanya pemasok senjata dan pangan dari wilayah Mataram maka jika kerajaan pajang menyerang pasti akan kuat serta penduduk pasti mendukung perjuangan melengserkan raja yang semena-mena ini,pikir wisang geni .


" Aku juga akan mengajari para pemuda jadi penempa besi yang hebat paman..." Terang wisang geni mengenai rencananya.


"Apa nak Geni bisa menempa besi juga...?" Tanya Marlan..


" Bisa paman..." Jelas wisang geni


" Terimakasih nak Geni sudah memperhatiakan desa kami,...untuk mengajari para pemuda jadi penempa besi memang bagus...karena didesa ini tidak ada penempa besi,,,tapi untuk pembangunan rumah...pasti memerlukan dana yang tidak sedikit...apalagi peternakan ...."ungkapan sesalnya ...


"Masalah itu paman tenang saja...besok siang aku mohon paman kumpulkan para sesepuh desa...biar aku yang bicara langsung..." Pinta Geni mencoba meyakinkan paman Marlan.