SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MEMANCING



Terlihat seorang pemuda duduk dalam sebuah ruangan yang langsung menghadap pada matahari, di depan rumah besar tersebut mengalir sungai yang cukup lebar, tepat di sebelah timur bangunan itu. Dengan peluh yang bercucuran pemuda tersebut sedang menghimpun tenaga dalam. Dengan tenaga dalam yang besar maka ilmu yang dia pelajari saat ini akan jadi lebih ampuh dan dahsyat. Sudah 4 bulan lebih wisang geni berada di desa ini, dia ingin segera melanjutkan perjalanan menuju Nihon (Jepang), sebagai bentuk balas Budi pada gurunya. Akan tetapi dia punya rencana lain. Akan menuntut balas dulu dengan Mataram baru dia pergi ke Nihon. Dia mulai menjalankan rencana berikutnya, buka lahan sawah,kebun obat serta peternakan.


"Aku harus segera menyelesaikan semua rencana ku..." Batin wisang geni sambil duduk dalam posisi miditasi.


" Paman Marlan... Boleh saya minta tolong paman...? Pinta Geni pada laki-laki paruh baya itu.


" Jika saya bisa pasti akan saya bantu Nak Geni..." Ucap Marlan.


" Saya minta tolong paman Marlan kumpul kan para sesepuh..."


" Ada apalagi nak Geni...? Tanya Marlan.


" Jadi rencana tempo hari yang berkaitan dengan peternakan dan pembukaan lahan paman..." Lanjut wisang geni menerangkan.


" Baik nak Geni..." Tanpa ragu Marlan menyanggupi nya.


" Seperti yang sudah-setiap para sesepuh berkumpul pasti ada hal penting yang di bicarakan. Tujuh dari sesepuh telah berkumpul, mereka saling menerka apa lagi yang akan dilakukan wisang gini. Merka yakin pasti ada sesuatu yang besar.


"Maafkan saya sesepuh... Karena meminta tolong para sesepuh lagi..." Sesal wisang geni pada para sesepuh.


" Ada nak Geni...tolong jelaskan biar kami mengerti ..." Uacap perwakilan para sesepuh.


" Jadi saya berencan membuka lahan pertanian dan perkebunan, pertanian bahan makanan serta perkebunan obat, Ditambah lagi peternakan sapi,... Yang mana nanti akan di kelola keluarga para sesepuh,... Dengan begitu kita bisa saling membatu. Serta keinginan saya mohon keluarga para sesepuh di jadikan satu saja..." Terang wisang Geni panjang lebar. Jelas para sesepuh bingung dengan kalimat terakhir... Menjadikan satu keluarga dari 7 keluarga yang berbeda.


" Untuk yang peternakan,pertanian dan perkebunan kami mengerti nak Geni,,,tapi kalau keluarga di jadikan satu itu yang kami kurang mengerti..." Ucap sesepuh Wiryo selaku perwakilan para sesepuh.


" Begini sesepuh,... Saya pernah dapat cerita mengenai klan atau keluarga di Nihon. Disana satu klan bisa terdiri dari beberapa keluarga berbeda, mereka saling melindungi dan menjaga satu sama lain. Itu yang menyebabkan mereka kuat. kalau semua warga desa bekerja sama dalam ikatan kekeluargaan maka desa ini akan maju..." Jelas wisang geni secara gamblang.


" Keputusan ini aku serahkan pada para sesepuh lainnya aku tidak berani ambil keputusan langsung..." Ucap sesepuh Wiryo.


" Jika sesepuh berkenan boleh pindah rumah sebelah barat rumah ini dan sebelah utaranya... Masalah biaya akan aku tanggung..." Karena sebelah selatan rumah Geni adalah hutan dan sebelah timur sungai besar. Geni yakin dengan keputusan ini,karena warga desa ini tidak lebih dari 250 orang yang terbagi menjadi 7 keluarga, jadi pasti bisa, tujuan nya adalah menyamarkan posisi rumah tersebut supaya tak nampak langsung dari luar.


" Dan kalau sesepuh setuju akan aku buat kan peternakan, perkebunan tanaman obat serta sawah-sawah..." Lanjut wisang geni. Dengan begitu secara tak langsung 7 keluarga akan jadi bawahan dari wisang gini atau bisa di katakan semua warga kampung akan menjadi pekerja wisang geni.


" Apa nak Geni bermaksud membuat klan atau keluarga seperti negeri Nihon...?" tanya salah satu sesepuh.


Setelah berunding cukup lama akhirnya para sesepuh pun setuju.


" Nak Geni kami sudah memutuskan...kami setuju asal nak Geni mau jadi tuan muda kami,.." ucap sesepuh wiryo disambut anggukan setuju sesepuh lainnya.


" Aku siap sesepuh...tapi bukan sekarang...tunggu waktu yang tepat. Tapi untuk sementara waktu biar sesepuh Wiryo yang jadi pimpinan perkumpulan keluarga ini...bagai mana...? Tanya wisang geni pada sesepuh Wiryo.


Semua setuju dengan keputusan wisang geni.


" Baik ....biar saya yang menentukan...Masalah penempaan besi serta pembuatan pil akan di jalankan keluarga sesepuh Wiryo dan sesepuh Sukam, untuk perkebunan dan sawah akan di kelola oleh keluarga sesepuh paijo dan sesepuh marto, serta peternakan yang bertanggung jawab adalah keluarga sesepuh sumartono dan sesepuh Ngadio...untuk masalah keuangan akan di pegang sesepuh Sarmin dan Paman Marlan..." Jelas wisang geni.


Langkah pertama yang akan dilaksanakan wisang geni adalah membeli sapi atau lembu untuk peternakan, pembukaan lahan sawah serta perkebunan tanaman obat sedang berlangsung.


" Nak Geni berapa banta kita akan beli sapi di kadipaten Gunung Kidul...? Tanya sesepuh Ngadio dan sumartono.


" Saya butuh 100 sapi paman,tapi kita akan beli dari kadipaten cukup 20 Ekor saja biar mudah membawa nya..." Jawab Geni


"100 Ekor...banyak sekali nak Geni ...? Kalau kita beli sapi apa tidak lebih baik dari desa-desa sebelah nak Geni...takut di rampok nanti di jalan..." Usul kedua sesepuh itu.


" Tidak apa-apa sesepuh...Tujuan ku memang mau MEMANCING..."


Kalimat yang di ucapkan wisang geni tidak dimengerti para sesepuh, tapi mereka tak mau berfikir lebih tentang apa yang di ucapkan Geni.


Perjalanan menuju kadipaten Gunung Kidul lumayan jauh, membutuhkan waktu 7 hari perjalanan. Untuk kembali mungkin bisa lebih karena mereka akan membawa sapi. Tapi raut wajah kedua sesepuh tampak senang karena mereka dapat bergabung dengan keluarga yang lain, serta jaminan kehidupan yang lebih baik setelah ini. Kedua sesepuh masing-masing membawa 5 orang pemuda. Kedua sesepuh pun masih belum tau arti kata "MEMANCING" yang di maksud wisang geni.


Yang di maksud wisang geni MEMANCING adalah memancing keluar para penjahat, dia kawatir kalau penjahat gunung yang sering merampok warga akan datang ke desa ini. Membasmi benalu harus sampai akarnya biar mati dan tak tumbuh lagi pikir wisang geni. Karena dari cerita warga para rampok gunung itu aneh,mereka tidak pernah menyakiti warga,hanya meminta beberapa harta yang mereka bawa.


" Perampok tetap lah penjahat yang keji, akan ku basmi mereka..." Batin wisang geni dalam hati.


Atas saran wisang geni mereka perginke gunung Kidul menggunakan pedati atau dokar sebutan masa itu, kereta yang ditarik oleh sapi atau lembu, dengan demikian semua orang tak terlalu capek, karena tenaga para pemuda akan sangat dibutuhkan waktu perjalan se-kembali nya dari gunung Kidul.


Pagi itu telah berkumpul 10 pemuda dari kedua keluarga sesepuh,mereka akan pergi ke kadipaten Gunung Kidul untuk beli hewan ternak, walau kedua sesepuh bingung dengan pikiran geni,kenapa harus membawa pedati ke kadipaten. Terkadang sesepuh tanya kenapa bawa pedati pula semua itu akan merepotkan jika nanti pulang dari kadipaten Gunung Kidul. Tapi wisang Geni sudah punya rencana lain, dia akan mendapatkan tangkapan besar dari umpan yang dia sediakan.