SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PELOLOSAN



Karna raja hanya memberi tahu kepada pangeran tentang jalur tersebut, tapi kenapa anak ini bisa tahu batin sang raja.


"Raja harap menunggu di ujung lorong ini" pesan Wisang Geni pada raja Cokro.


Sang raja hanya mengangguk tanda setuju, lalu segera raja keluar tanpa diketahui oleh siapa pun.


Setelah semua dirasa beres Wisang Geni  dan ketiga kawan nya bertarung satu dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan  agar perhatian mereka terpecah.


"Tring...tring...trang...bunyi senjata saling beradu.


"Cepat kepung... tawanan kabur..."teriak Kebo Edan sambil terus bertarung. Gemparlah keadaan istana Kerajaan mataram. Para prajurit pun hanya lari keluar menuju gerbang dan menutup pintu gerbang serta sebagaian hanya saling pandang tak tahu apa yang harus mereka kerjakan.


Raja Ageng Gumilar beserta empat pengawal andalannya telah sampai di gerbang keraton mataram.


"Ampun paduka raja tawanan berhasil di bawa kabur oleh seseorang"lapor Kebo Edan pada raja Cokro.


"Bedebah...lalu kemana Gilang dan Karno?!" Tanya sang raja pada kedua pemuda yang berlutut di hadapannya.


"Karno dan Gilang mengejar tawanan itu yang mulia" jelas Karno pada sang raja.


Raja Ageng Gumilar tahu bahwa tawanan yang di bebaskan adalah raja terdahulu, dia sedikit kawatir.


"Tak usah terlalu dipikirkan yang mulia raja, kalau pun raja Cokro ingin meminta bantuan Pajang kita akan menumpas mereka. Kita akan siapkan perangkap untuk mereka(kerajaan Pajang)." Terang Ki Juru Sentanu selaku penasehat raja.


Raja mulai tenang dengan situasi yang terjadi, sekarang dia hanya memikirkan bagaimana nasib kedua pemuda yang sempat menarik perhatiannya itu.


Ditempat lain jauh diluar kerajaan Mataram 2 pemuda menuju tapi hutan, mereka melakukan perjalanan dengan kuda rampasan yang di ambil dari kerajaan Mataram. Perjalanan yang cukup panjang dan tanpa istirahat. Yang mereka pikirkan hanya keselamatan sang raja.


Pagi pun telah tiba, raja telah sampai pada ujung lorong tersebut. Beliau bersembunyi di balik semak tak jauh dari gua tempat dia keluar. Nampak 2 pemuda yang berada di atas kuda sedang mondar-mandir di depan goa dimana dia keluar. Setelah mengetahui kedua orang tersebut adalah pemuda yang akan menyelamatkan dirinya di langsung bergerak menghampiri dua pemuda itu.


Melihat sang raja keluar dari semak-semak Karno langsung turun dan berlutut di hadapan raja Cokro.


"Semoga yang mulia panjang umur dan sehat selalu" ucap Karno dengan menundukkan kepala.


"Tidak perlu peradatan seperti itu berdirilah!" Perintah raja yang memang sudah mengenal patih muda itu. Wisang Geni melihat apa yang di lakukan Karno serta melihat apa yang dilakukan raja mulai percaya dengan apa yang Karno katakan tentang rencana mereka.


Akhirnya mereka membicarakan rencana selanjutnya.


"Karno kau sebaiknya kembali ke Mataram dan sampaikan aku sedang mengikuti kemana mereka membawa raja Cokro." Pinta Geni pada Karno.


Karno tahu bahwa Wisang Geni pasti punya rencana lain,dia tak bertanya lagi.


"Kau tidak usah kawatir itu bukan racun,melainkan obat pemulih stamina jadi yang kalian minum bukan racun" terang Geni pada Karno menghilangkan rasa kawatir pada wajah pemuda itu.


"Sial...Kau menipu ku lagi,awas akan aku balas" ucap lirih karno pada Wisang Geni.


Wisang Geni hanya tersenyum kecut mendengar ancaman bercanda dari Karno. Raja Cokro yang tak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya mengamati tanpa memberi komentar.Akhirnya Karno kembali ke kraton Mataram tanpa Wisang Geni, dia akan menyampaikan seperti yang telah diarahkan oleh Wisang Geni.


Setelah sampai akhirnya Karno pun menghadap sang raja. Pemuda itu berjalan dengan sedikit lesu, seakan apa yang telah dia kerjakan gagal dan tidak sesuai harapan.


"Mohon ampun baginda raja, saya beserta Gilang gagal menangkap orang yang membebaskan tawanan" Laporan Karno kepada raja sambil menundukan kepala seakan seperti dalam keadaan berduka dan menyesal.


"Tidak apa-apa Karno, aku sudah punya rencana lain, lalu dimana Rekan mu Gilang apakah terjadi sesuatu? " Tanya raja dengan tenang, dia tak akan mempermasalahkan hal kecil itu. Raja Ageng Gumilar pun sudah punya rencana lain jika raja Cokro meminta bantuan pada kerajaan Pajang.


"Gilang pergi mengikuti kemana Raja lama akan pergi, kalau pun mereka ke Pajang Gilang akan menjadi telik sandi untuk kita sang raja" Jawab Karno seperti yang telah di perintahkan Gilang atau Wisang Geni padanya.


"Bagus... Anak yang berani, semoga tidak terjadi apa-apa pada teman mu itu." Pernyataan sang raja, dia merasa kagum akan keberanian pemuda tersebut. Bahkan ke empat punggawa raja Ageng pun kagum dengan keberanian pemuda tersebut. Hal ini semakin memperkuat keinginan ki Juru Sentanu untuk mengangkat murid Gilang seandainya pemuda ini kembali.


Raja Cokro dan Wisang Geni pun menuju tempat dimana permaisuri serta anak-anaknya bersembunyi. Dengan mengendarai kuda, mungkin tengah malam atau besok dini hari mereka akan sampai. Dalam perjalanan ini tidak ada percakapan yang serius, hanya percakapan ringan untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka.


\* \* \* \* \* \* \*


Diluar goa yang berada di tepian hutan Diah Pitaloka menanti dengan Cemas, hampir 3 pekan Wisang Geni pergi belum juga kembali. Setiap hari gadis ini menunggu dengan cemas dengan keadaan Wisang Geni dan misi penyelamatan sang ayah.


"Kenapa kakang belum kembali? Jika 2 hari lagi belum juga kembali aku akan menyusulnya." Ucap lirih sang gadis yang kebetulan didengar sang ibu.


"Tunggulah satu pekan lagi putri ku, ingat pesan kakang mu Geni, jika dalam 1 purnama belum kembali kita harus mencari perlindungan ke Pajang" Ucap permaisuri yang tiba-tiba muncul dibelakang Pitaloka.


Sotak Diah Pitaloka kaget dengan jawaban ibundanya yang tiba-tiba muncul. Gadis ini tak menyadari kehadiran sang ibu karna terlalu cemas dengan keadaan pemuda tersebut.


"Tapi ibu... Nanti siapa yang akan menyelamatkan kakang Geni dan ayah? " Bantah Pitaloka pada jawaban ibunya yang tidak sejalan dengan pemikirannya.


"Memangnya kalau kakang mu Geni tak mampu membebaskan ayahmu kamu akan mampu? " Tanya balik permaisuri pada putrinya. Sang ratu mengingatkan pesan yang pernah disampaikan Wisang Geni pada permaisuri ataupun pangerang Gesang sebelum pemuda tersebut berangkat.


"Sudahlah kau istirahat sana sudah malam, apakah kau tidak capek? " Pinta sang ibu pada putrinya untuk segera masuk dalam goa karna malam telah larut.


Dari kejauhan terdengar langkah kaki kuda dengan perlahan, jelas suara tersebut membuat tiga pria yang berada dalam goa langsung siaga. Mereka mematikan api serta keluar dan mengintruksikan pada permaisuri dan Diah pitaloka untuk bersembunyi.


Wisang Geni yang telah berpenampilan seperti sebelumnya, dengan kedua topeng andalannya, raja pun sempat bertanya karna curiga, tapi dengan penjelasan untuk menyembunyikan identitas, raja pun dapat menerima alasan tersebut. Karna memang pendekar hebat punya ciri masing-masing.