SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PENGINTAIAN



Di pusat kerajaan mataram sangat kacau, banyak perampokan serta pencurian. Prajurit kerajaan seakan-akan kewalahan karna banyaknya kejahatan yang terjadi. Apalagi sebagian prajurit sudah di kirim ke beberapa kadipatan guna membantu penumpasan para penjahat disana.


" Ki Ageng... Aku dengar putri Diah Pitaloka juga ikut dalam misi penumpasan para penjahat!" Terang Ki Juru Sentanu dari padepokan singa brangasan pada Ki Ageng Gumilar.


Ha...ha...ha... Ternyata Dewata memberkati ku..." Tawa kelakar Ki Ageng Gumilar.


" Cepat kalian tangkap putri bodoh itu, jika tidak bisa bunuh saja. Dengan begitu aku rasa raja Mataram akan terpukul dengan kejadian ini, bawa prajurit terbaik kalian...ha...ha...ha." lanjut Ki Ageng Gumilar pada anak buahnya.


Ki Ageng Gumilar berencana menangkap Diah Pitaloka untuk di jadikan Sandra. Kalau pun tak berhasil maka dia akan membunuh putri raja Mataram, kabar itu pun sudah cukup untuk menggoyahkan batih sang raja.


\* \* \* \* \*



Kondisi kadipaten Bantul pun tak jauh dengan pusat kerajaan Mataram, walau satu komplotan penjahat telah tertumpas masih banyak para penjahat di kadipaten tersebut. Lokahita (nama samaran Diah Pitaloka) juga berada di kadipaten Bantul. Dia telah mumpas satu grombolan penjahat dan berencana ke kadipaten Gunung Kidul.



Patih Wiryo sangkolo pun selalu setia menemani gadis pujan hatinya, gadis dengan kulit kuning Langsat dan dengan lesung Pipit di kedua pipinya yang menambah manis gadis ini.


" Lokahita... Kita harus singgah dulu, karna malam hampir tiba" ucap Patih muda itu, dia segera mencari penginapan untuk 7 orang . Dua kamar untuk Lokahita dan Patih Wiryo satu kamar lagi buat 5 anggota mereka yang tersisa.


Waktu bersamaan Wisang Geni juga berada di penginapan tersebut. Dia datang lebih dulu dari rombongan Lokahita, saat Wisang Geni menuju kamar rombongan Lokahita berpapasan dengan pemuda yang berpenampilan mencurigakan tersebut.


Begitu juga yang di rasakan Patih Wiryo sangkolo beserta pasukan kan pun sempat saling lirik satu dengan yang lain. Setelah mendapat kamar yang di inginkan rombongan Lokahita menju kamar masing-masing.


Tok...tok... Sura pintu kamar Lokahita di mana didepan kamarnya sudah berdiri 6 pria, Lokahita mempersilahkan ke 6 pria masuk.


" Kakang apa kau punya fikiran yang sama dengan ku?" Tanya Lokahita pada Patih Wiryo sangkolo


"Aku rasa sama juga seperti yang kau rasa Dinda Lokahita" wajah Patih tersebut berubah merah setelah menyebut Dinda pada Lokahita, ini pertama kali dia memanggil seperti itu pada gadis ini.


Mendapat panggilan itu sang gadis pun memerah mukanya, dia tak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Tapi Lokahita tak terlalu mempermasalahkan semua itu.


"Mulai malam ini aku harap kalian awasi orang itu jangan sampai lepas!" Perintah Lokahita pada mereka termasuk sang Patih Wiryo.


"Baik..." Jawab 5 pasukan dan sang Patih hampir bersamaan dengan nada serta suara yang pelan supaya tidak menimbulkan kegaduhan.


Malam itu kamar Wisang Geni secara bergantian diawasi. Dia pun tahu bahwa sekarang dia diawasi, tapi wisang Geni tetap tenang seolah-olah tak tahu kalau dia sedang dimata-matai. Hingga pagi kejadian tersebut berlangsung, walau Wisang Geni tahu dari semalam dia sedang di awasi dia tatap tenang.


Setelah pagi rombongan Lokahita pun masuk ke warung makan terdekat sama dengan rumah makan yang di singgahi Wisang geni. Pemuda itu merasa bahwa dia di ikuti oleh 5 orang yang berada di sudut ruangan tersebut. Itu semua dapat di rasa dari hawa tenaga dalam yang terpancar dari tubuh mereka.


Wisang Geni tidak berbuat hal yang kiranya memancing perhatian orang-orang yang sedang makan dirumah makan itu. Dia merasa tenang karena tidak pernah berbuat salah dengan mereka. Setelah makan Wisang Geni memesan makanan untuk bekal perjalanannya.


"Berapa bibi?" Tanya Wisang Geni dengan sopan pada bibi penjual makanan itu.


"Semua 10 Kupang perunggu Aden" jawab bibi penjual makanan


"Sisa nya boleh bibi ambil" ucap Wisang Geni sambil menyerahkan satu Kupang perak pada bibi itu. Bibi itu sangat senang dengan pemberian Wisang Geni, itu sama hal nya upah dia 10 hari.


Kejadian tersebut disaksikan oleh rombongan Lokahita, mereka tambah yakin bahwa pemuda bertopeng itu adalah penjahat yang meresahkan penduduk. Alasan kelompok Lokahita ini didasari pemberian Wisang Geni pada bibi penjual makanan tadi. Kupang setara upah 10 hari kerja di berikan begitu saja pada orang yang tak di kenal, pikir Lokahita dan kelompoknya.


Wisang Geni yang bermaksud menuju pusat kerajaan Mataram setelah tahu akan di ikuti dia pun putar arah. Dengan demikian tujuan dia tak akan terbaca oleh kawanan orang yang mengikutinya ini.


"Jumlah mereka bertambah rupanya?!" Batin wisang Geni berbalik menuju arah kadipaten Gunung Kidul. Rencana Wisang Geni setelah kelompok ini lewat dia akan putar balik lagi melanjutkan perjalanan. Dan dia sendiri pun tak tahu kenapa mereka mengikuti dia dari kemarin malam.


Hal ini sungguh sangat menguntungkan kelompok Lokahita karena tujuan mereka juga kadipaten Gunung Kidul.


"Kita hadang di pinggir hutan dekat sungai itu!" Perintah Lokahita pada kelompoknya di ikuti anggukan kepala tanda setuju.


Wisang setelah sampai pinggir hutan Wisang Geni merasa banyak orang mengamatinya.


"Kenapa begitu banyak orang mengikuti ku, apa aku seperti penjahat, apa mereka penjahat yang hendak merampok ku?" Batin Wisang Geni sambil melangkah dengan tenang.


"Berhenti kisanak!" Terdengar suara lembut seorang wanita menghentikan langkah kakinya. Waktu di balik badan lima anggota kelompok ini langsung meloncat ke belakang Wisang Geni.


"Kemana tujuan kisanak?" Tanya gadis cantik tadi


"Apakah perlu aku menjelaskan kemana dan apa tujuan ku pada nona cantik ini?" Jawab Wisang Geni datar. Entah dari mana Wisang Geni belajar merayu wanita dengan kata-kata "nona cantik" mulutnya seakan berucap diluar kendali fikirannya.


Jawaban tersebut membuat emosi Lokahita, seketika itu dia memerintahkan menangkap pemuda itu.


" Cepat ringkus penjahat itu...!" Perintah sang gadis pada kelompoknya, gadis percaya dalam berapa gerakan pemuda ini dapat diringkus, karena kemampuan pemuda ini hanya di tingkat pendekar utama.


Sedang kelima bawahan dari Lokahita semua adalah pendekar utama, dia dan Patih Wiryo berada pada tingkat ksatria madya tingkat 1 yang sebentar lagi naik tingkat 2. Jadi meringkus pemuda bertopeng ini bukan perkara sulit pikir sang gadis.


Kelima orang langsung menyerang Wisang Geni, dan 7 orang yang ada di situ terkejut karena dengan mudah Wisang Geni dapat menghindar serta menangkis serangan kelima bawahan sang gadis.