SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BOCAH AJAIB



Setelah semua proses pengobatan yang tak begitu lama selesai Gilang kembali menekan punggung yang terkena serangan tersebut. Bunyi gemertak terdengar begitu keras.


"Arkh..." kembali Kebo Edan berteriak bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tulang punggung yang terkilir itu kembali pada posisi semula.


"Kakang coba kau berdiri,lakukan aktifitas seperti biasa!"perintah Gilang pada Kebo Edan.


Kebo Edan berdiri seperti sebelum terjadi pertandingan tadi.


"Tapi punggung dan dada ku masih sedikit nyeri" Ucap Kebo Edan.


"Itu hanya efek luka lebam pada bagian tersebut,kakang olesi dengan obat luka luar pasti besok sudah sembuh" terang Gilang pada Kebo Edan.


Semua mata yang menyaksikan hal tersebut terheran-heran bahkan raja Ageng Gumilar pun kaget dengan kesembuhan Kebo Edan yang cepat serta cara pengobatan yang ditunjukan oleh Gilang.


"Anak muda apa kau juga bisa membuat pil jiwa apa kau seorang tabib?."Tanya raja Ageng Gumilar.


"Hamba juga seorang tabib dan ahli pengobatan baginda" jawab Gilang dengan tetap tak menunjukan rasa sombong sedikit pun.


Semua orang terkejut mendengar jawaban Gilang, diusia yang masih sangat muda anak ini menguasai dua ketrampilan yang bisa dikatakan cukup tinggi.


"Lalu ketrampilan apa lagi yang kau bisa?" Tanya raja Ageng Gumilar pada Gilang sambil geleng-geleng kepala, sebenarnya ini bukan pertanyaan sungguhan, ungkapan pujian yang dikatakan hampir seperti sebuah pertanyaan.


"Hamba juga bisa menepa senjata raja"jawab Gilang dia mengira sang raja bertanya sungguhan. Mendengar jawaban Gilang sontak para penonton bahkan petinggi keraton ingin muntah darah mendengar jawaban Gilang yang polos.


"Baik pertandingan ini akan dilanjutkan 1 pekan lagi."ucap sang raja,beliau mengundur pertandingan dengan maksud ingin melihat kemampuan Gilang langsung dan bukan hanya dari pengakuan saja. Bahkan ke 4 jagoan raja Ageng Gumilar ingin tahu kemampuan pemuda ini. Mereka adalah ki Juru sentanu, ki Kebo Abang, ki Wanoro Seto dan ki Suro Manggolo.


"Sekarang kalian bubar semua, Dan kau anak muda segera tunjukan kemampuan mu!" Pinta raja yang tak sabar dengan kemampuan pemuda ini. Raja Ageng Gumilar sangat senang,dia berfikir jika ada 100 pemuda seperti Gilang dia pasti akan mudah menakluk kan kerajaan-kerajaan di tanah Djawa.


Karno menuju tempat Gilang,di juga ingin melihat apa Gilang benar bisa semua kemampuan yang dia sampaikan tadi. Dia juga penasaran dengan kemampuan teman barunya ini.


Raja beserta para petinggi menuju ke tempat balai pengobatan keraton Mataram, dia ingin menunjukan ketrampilan pembuatan pil jiwa.


"Paman tabib...saya minta tolong siapkan bahan-bahan yang ada di balai pengobatan ini."pinta Gilang pada paman tabib keraton.


Setelah semua bahan sudah siap Gilang memulai pekerjaan nya, ternyata  semua bahan yang dibutuhkan adalah bahan kwalitas bagus, dengan begini pil yang dihasilkan akan bagus juga.


Dengan cekatan Gilang memulai aksinya, semua mata yang hadir tertuju pada pemuda ini. Pembuatan pil tersebut memang sedikit lama, mereka menunggu dengar sabar. Setelah proses pembuatan selesai,tercium aroma yang begitu harum.


"Akhirnya selesai juga"ucap Gilang menyerahkan pil pada raja Ageng. Raja Ageng yang tak paham dengan pengobatan menyerahkan pil buatan Gilang pada tabib kerajaan.


"Pil jiwa kwalitas tinggi...!" Ucap tabib dengan kaget,karna sampai sekarang pun dia hanya bisa membuat pil jiwa kwalitas rendah, itu pun prosesnya bisa memakan waktu 2 pekan.


"Ha...ha...ha...bagus...bagus, bagai mana dengan penempaan senjata?" tawa senang raja Ageng Gumilar.


"Baik...kau istirahatlah...besok akan aku tagih ucapan mu...ha..ha..ha" jawab raja Gumilar tertawa sambil pergi meninggalkan Gilang.


"Kakang...jika kakang menjadikan pemuda itu sebagai murid aku yakin kemampuannya akan melebihi kita" bisik ki Wanoro Seto pada ki Juru sentanu yang sekarang jadi penasehat sang raja.


"Benar ki Wanoro Seto...aku berencana mengangkat nya sebagai murid setelah pemilihan penjaga penjara"jawab ki Juru sentanu pada ketua padepokan Halimum setan.


Setelah semua pergi tinggal Karno yang masih menunggu disana.


"Gilang...kenapa kau tak bilang jika memang ahli obat?"tanya Karno pada Gilang.


"Itu...itu karna aku memang tak begitu menyukai bidang pongobatan."jawab Gilang singkat. Dia tak ingin Karno akan bertanya macam-macam lagi.


Akhirnya mereka berdua kembali kebarak tempat prajurit baru. Prajurit-prajurit baru mereka tentu tadi melihat pertandingan antara Gilang dan Kebo Edan,mereka sekarang tampak lebih hati-hati dengan pemuda yang baru saja bergabung dengan prajurit Mataram ini.


Malam ini Gilang bermaksud mencari dimana penjara raja terdahulu yaitu raja Cokro kusumo. Dia telah mempersiapkan segala sesuatunya agar misi ini tidak ada orang lain yang tahu. Malam ini Gilang telah mengetahui letak atau tempat penjara tersebut.


"Dari mana saja kamu? Kenapa baru Masuk Barak?"tanya Karno  pada Gilang yang berjalan melewati tempat tidur Karno.


"Aku hanya keluar cari angin, didalam aku tak bisa meditasi,terlalu brisik"jawab Gilang sambil merapikan tempat tidurnya.


Mereka berdua  saling bercakap-cakap terutama mengenai masalah ilmu silat.


"Gilang dari mana kamu belajar ilmu pengobatan?..Gilang...Gilang!" Panggil Karno pada pemuda yang tempat tidur mereka memang berjajar.


"Sial kau sudah tidur rupanya...dasar *****(nempel molor)" ucap Karno kesal karna Gilang tidur duluan.


Pagi ini Gilang bangun lebih dulu,langsung dia membersihkan diri. Badannya terasa segar karna tidurnya semalam cukup pulas. Tak jauh beda dengan Karno setelah mereka membersihkan diri mereka menuju ke tempat penempaan senjata.


Disana masih belum ada kegiatan sama sekali hanya pandai besi kerajaan menyiapkan segala sesuatu yang di printahkan raja Ageng Gumilar  kemarin. Gilang mulai memilih besi dengan kwalitas bagus, Serta memilih campuran biji besi lain sebagai tambahan dalam proses penempaan yang akan dia kerjakan nanti.


Tak berapa lama rombongan raja Ageng Gumilar datang beserta petinggi lain yang ingin menyaksikan ketrampilan Gilang dalam menempa senjata.


"Hormat pada raja Mataram" teriak para penempa besi yang melihat raja Ageng Gumilar datang. Gilang dan Karno juga melakukan tindakan seperti para prajurit pada umumnya, menghormat pada sang raja.


"Apa kau sudah siap Gilang?"tanya raja Ageng Gumilar pada pemuda yang berlutut didepannya.


"Hamba sudah siap raja"ucap Gilang dengan sopan. Dia tak mau membuat raja menaruh curiga padanya.


Hal ini dia lakukan agar mempermudah usahanya dalam membebaskan kan raja Cokro kusumo yang sekarang telah menjadi ayah angkatnya.


Gilang pun mulai dengan penempaan sederhana dimana dia belum menunjukan ketrampilan yang di ajarkan oleh gurunya resi Tomo.