
Pagi mulai menyingsing, titik embun mulai terasa dikulit seorang pumuda menyadarkannya dari mimpi indahnya.
"Aku harus segera membersihkan diri di sungai..." Batin wisang geni. Setelah semua selesai dia pun melanjutkan perjalanannya.
Nampak jelas pemukiman penduduk tak jauh dari pandang matanya. Sudah lama dia tidak melihat pemukiman penduduk,bankan berinteraksi dengan manusia lain pun tak pernah kecuali guru nya.
Dari kejauhan nampak laki-laki paruh baya sedang sibuk merapikan rumput,seketika mengingatkan wisang geni kepada boponya, tak terasa rasa rindu keluarga pun menghinggapi perasaannya. Dia segera melangkah menepis segala bayangannya itu.
"Maaf paman...kalau boleh tahu nama desa itu apa paman...?" tanya wisang Sambil menunjuk ke desa yang tidak begitu ramai.
"Itu desa daun hijau anak mu...da..." jawab laki-laki itu, tampak terkejut melihat wajah pemuda yang ada di depannya
" Maaf...aku harus memanggil kisanak apa...?" Sambung laki-laki itu,dia bingung karena orang didepannya memiliki wajah aneh,sebelah muka seperti orang tua sebelah lagi masih muda.
"Usia ku baru 19 tahun paman..." Jawab wisang geni,dia sadar paman itu pasti kaget melihat wajah yang aneh.
" Dasar guru...kenapa menyuruhku menggunakan topeng ini,orang jadi takut melihat ku..." Gerutu wisang geni dalam hati.
" Apa kisanak mau ke desa kami...kisanak dari mana...?" Tanya paman itu membuyarkan lamunan wisang geni.
" Itu paman....aku....anu paman...aku dari puncak gunung tidar..."
Jawab wisang geni bingung.
" Aku tinggal dengan guruku paman...Resi tomo,apa paman kenal...?" Lanjut wisang geni.
" Owh beliau...dulu waktu desa kami terkena wabah penyakit 5 tahun lalu,beliau yang mengobati kami,jadi anak ini murid beliau..." Jelas paman tersebut.
"Mari paman aku bantu..."wisang geni langsung mengangkat rumput tersebut,sembari menyembunyikan mukanya di balik rumput yang di angkat.
" Tidak usah nak..." Ucapan paman itu,tapi rumput sudah terangkat wisang geni.
"Maaf paman...nama paman siapa ?aku wisang geni...panggil saja geni paman" tanya wisang geni sambil berlalu menuju arah desa.
" Nama ku Marlan geni...Kau akan kemana geni...?" Jawab Marlan.
Akhirnya dua orang itu bercakap-cakap, wisang geni menjelaskan bahwa Resi tomo memintanya turun gunung untuk membantu sesama manusia dengan kemampuan yang dia miliki.
Paman Marlan menduga bahwa si geni ini adalah tabib yang akan menolong masyarakat yang membutuhkan,karena Resi tomo di kawasan ini terkenal dengan kemampuan pengobatannya.
Dari Marlan wisang geni mulai tau kehidupan di desa ini, bagai mana keadaan mereka,semua keterangan telah disampaikan dengan jelas oleh paman Marlan.
Tak lama perjalanan mereka telah tiba di depan sebuah rumah sederhana. Istri Marlan bekerja menggarap ladang sayuran dibantu kedua anak Marlan yang usia nya 13 dan 15 tahun. Tak jauh beda dengan kehidupan yang dijalani wisang geni sebelum terjadi petaka itu.
Wisang geni dipersilankan masuk dalam rumah sederhana yang tak beda jauh dengan rumah bopo nya di sambung wangi.
"Geni...paman tak punya apa-apa istri ku baru masak sore nanti.."
Ucap sedih dan sedikit malu Marlan . Wisang geni pun sadar dengan semua itu.
Tiba-tiba mata wisang geni tertuju pada topeng yang tergantung pada sebuah tiang rumah paman Marlan.
" Paman topeng siapa itu ...?" Tanya geni pemasaran
"Owh...itu paman temukan di tepi hutan ,sewaktu paman pulang dari belanja keperluan desa di kadipaten Gunung Kidul..." Jawab Marlan sambil mengambil dan menyerahkan pada wisang geni.
" Kau ambil saja barang itu juga tidak di perlukan disini..."
" Trimakasih paman..." Ucap wisang geni sembari mencoba mengenakan topeng tersebut.
" Begini lebih baik ... " Batin wisang geni.
Marlan pun faham,pasti topeng itu akan di gunakan wisang geni untuk menutupi wajahnya yang aneh itu. Paman Marlan pun iba dengen wajah anak muda ini
" Masih muda dan gagah,,,tapi sayang...." Batin Marlan sambil menatap muka wisang geni .
Entah mengapa Marlan seakan senang dengan anak ini. hari sudah mulai siang...istri paman Marlan pun telah kembali dari kebunnya, dia tampak kaget dengan kehadiran Geni disamping suaminya.
Pemuda tersebut tampak sendang membantu suaminya membelah kayu yang akan di gunakan untuk masak. Bibi pun kaget karena anak muda ini mengenakan topeng yang biasa tergantung pada tiang rumah mereka.Sedang dua anaknya tadi kesungai setalah membantu sang ibu.
"Eh...ada tamu..." Sapa istri marni pada wisang geni.
" Bibi...aku wisang geni panggil saja geni bibi..." Jawab wisang geni sambil mengayuh kan kapaknya. Paman Marlan mendekati Marni.
"Tolong kau buatkan air panas buat minum tamu kita" ujar Marlan pada istrinya. Wisang Geni pun sudah tahu nama bibi ini serta nama-nama anak nya,hal tersebut sudah disampaikan Marlan,dan Marlan lah yang meminta nya untuk menginap.karna Geni sudah melakukan perjalanan jauh.
Siang menjelang sore , wisang Geni coba membantu masak bibi Marni di pawon(dapur bahasa Jawa).
" Bibi mau mau masak apa...?" Sosok bibi Marni mengingat kan Geni dengan ibunya,Sumi.
"Tidak usah nak Geni,biar bibi saja...lha wong cuma buat sambal trasi sama lalapan daun singkong..." Sambil tersenyum kecut Sumi menjawab pertanyaan Geni,sikap bibi Sumi sipan,karena dia sudah tahu bahwa Geni murid pertapa sakti yang tinggal diatas gunung Tidar. Hal tersebut di ketahui bibi Sumi dari suaminya.
"Bopo,,,"teriak 2 anak berlari menuju rumah mereka,dengan muka masam,karena siang ini gagal menangkap ikan.
"Hari ini aku dan kakang wiro tak dapat ikan bopo..." Keluh septo pada boponya.mereka Wiro dan septo anak dari paman Marlan.
Dari dalam dapur muncul wisang geni dengan penampilan yang aneh menurut kedua bocah itu,
" Kakang itu siapa bopo...? Kenapa menggunakan topeng bopo...? Tanya Wiro pada Marlan.
Sambil mengedipkan mata ke paman Marlan Geni berucap,,,
" Wiro ,septo sini....aku Kakang kalian..." Yang memang wisang Geni sudah tau nama anak-anak paman Marlan.
" Benar dia kakang kalian....kakang kalian itu tinggal di Mataram..."
Paman Marlan mempertegas ucapan Wisang geni...
2 anak yang hampir dewasa itu mendekati wisang geni dan langsung mencium tangannya.
" Kenapa kakang tidak pernah kesini tanya septo..." Tanya septo
" Dulu kakang kesini tapi kamu sama kakang mu Wiro masih kecil...jadi kamu mungkin lupa..." Jelas wisang geni.
" Tapi kenapa kakang pakai topeng bopo...?" Selidik Wiro
" Topeng ini sebenarnya punya kakang...terbawa bopo kalian,jadi kakang kesini ambil topeng ini lagi..." Sembil merangkul pundak kedua bocah ini menuju keluar rumah,karena kalau tidak pasti banyak hal yang di tanya kan oleh anak-anak ini.
Marlan dan Marni tidak tahu percakapan apa yang dilakukan anak-anaknya dengan wisang geni,mereka merasa bahwa wisang geni adalah anak yang baik.