
"Kang Bejo ... Aku ke belakang dulu kang ..." Ucap sang gadis berlalu pergi dia hanya melihat sekilas pada wisang geni yang menundukan kepala sembari menenangkan gejolak harinya.
Bejo dan wisang geni menuju tempat tidur di mana disitu terbaring ayah Bejo , Supar lelaki berusia 46 tahun. Wajahnya pucat, badannya kurus. Nampak kepahitan di wajah laki-laki itu, dia menatap langit-langit rumah seakan Menunggu malaikat Yama datang menjemput. Wisang Geni tampak prihatin dengan paman Sipat, geni pun tahu keadaan keluarga ini tidak lebih baik dari keluarga lain di desa ini.
Wisang Geni mulai memeriksa keadaan paman Supar yang terluka Serius, beberapa organ dalam nya terluka cukup Serius.
" Bejo tolong ambilkan air panas ... Dan aku minta siapkan kain untuk kompres..." Printah geni.
Perlengkapan yang di butuh kan Geni disiap kan oleh Diah Ayu, kembali wisang geni menunduk kan muka menghindari tatapan gadis cantik ini.
Wisang geni mulai dengan pengobatannya. Dia mengeluarkan pil jiwa buatan nya di minum kan ke paman Supar. Kain tadi dimasuk kan ke air panas lalu di gunakan untuk kompres luka memar yang ada di dada dan perut paman Supar. Wisang Geni mengalirkan tenaga dalam dari tangan ke penggung paman Supar. Proses cukup lama.
Tak lama kemudian paman Supar batuk disertai keluar darah hitam dari mulut nya. Paman Supar belum bisa bicara hanya pandang matanya menatap pemuda yang berusaha mengobati nya. Dadanya yang semula sakit waktu di gunakan bernafas serta perut yang terasa panas akibat peredaran darah yang tak lancar kini ber angsur-angsur membalik.
Setelah semua proses selesai hari sudah menjelang sore. Istri Supar baru pulang dari kebun sayuran. Dia pulang membawa ubi yang akan di makan nanti malam sebagai pengganti nasi. Istri paman Supar bernama Yanti.
" Eh... Ada tamu rupanya ..." Sapa Yanti singkat.
" Salam bibi...aku geni teman Bejo..." Balas geni sambil memperkenalkan diri.
Yanti belum sadar kalau geni tadi mengobati Supar. Yanti ke dapur untuk merebus ubi yang dia bawa. Sambil merebus ubi Diah Ayu menceritakan apa yang dilakukan wisang geni pada ayah nya. Supar kini sudah mulai membalik serta dapat bicara. Wajah yang semula pucat kini mulai nampak normal.
" Yanti... " Teriak Supar singkat.
Suara yang sudah satu bulan ini tak terdengar, suara yang begitu familiar di telinga Yanti. sontak Diah Ayu dan Bejo pun berlari menuju sumber suara.
" Kang mas sudlwah sembuh...wajah kang mas juga sudah tidak pucat lagi..." Tanya Yanti dengan bahagia.
" Ini berkat penolong itu...dimana dia ..? " Tanya Supar pada Yanti dan Diah ayu yang duduk di tepi tempat tidur sang ayah.
" Kang mas wisang geni bopo...dia berapa di depan teras bopo..." Jawab Yanti dengan semangat karena tahu ayah sudah mulai membalik.
Bibi Yanti dan Diah Ayu segera menuju teras atau emperan rumah tempat geni duduk santai, sedang Bejo masih membereskan perlengkapan yang di gunakan wisang geni tadi. Bibi Yanti dan Diah Ayu tiba-tiba berlutut di depan wisang geni di ikuti Diah Ayu dan Bejo.
" Trimakasih nak geni,telah menybuhkan suami saya...tapi jujur kami tak sanggup membayar pengobatan ini " sesal Yanti meratapi keadaan kehidupan keluarganya
" Aduh bibi ... Jangan begini mari berdiri bibi." Balas wisang geni sopan.
" Terimakasih nak Geni telah mengobati suami saya... Entah dengan apa kami harus membalas nya..." Ucap Yanti walau bahagia dia tampak sedih karena keadaan keluarga nya yang miskin.
Wisang geni tahu apa yang menjadi beban fikiran bibi Yanti.
" Aduh ... Ada apa dengan ku kenapa mata ini selalu ingin memandang gadis itu" Batin wisang geni.
Kejadian tersebut tak di sadari mereka bertiga karena bibi Yanti, Bejo serta Diah Ayu menundukan kepala dengan tetap berlutut.
Karena merasa canggung wisang geni akhirnya memegang pundak bibi Yanti dan menyuruh berdiri.
" Mungkin beberapa hari ini saya harus numpang hidup pada bibi... Karena paman Supar harus di rawat sampai sembuh" Ucap wisang Geni. Bibi Yanti sebenarnya tidak masalah, tapi dengan keadaan seperti itu dia hanya bisa memberikan hidangan seadanya pada wisang geni.
Malam itu wisang geni bermalam di rumah keluarga paman Supar.
Di bermalam di teras rumah bersama Bejo, dia sadar apa yang dilakukan Bejo (mencuri) hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ketika Bejo sudah tidur wisang Geni meditasi, berlatih mengumpulkan tenaga dalam.
Pagi itu Wisang Geni bangun lebih cepat, dia hendak pergi ke sungai untuk membersihkan diri di sungai yang tak jauh dari rumah paman Supar. Setelah sampai dia terdiam di tepi sungai kakinya seakan kaku dan tak dapat di gerakan.
"Kenapa kakang diam... Kakang tidak berniat buruk pada ku kan?"
Sapa Diah Ayu yang baru selesai membersihkan diri di sungai itu. Diah Ayu sebenarnya tahu kalau Wisang Geni hanya berniat mandi, gadis itu hanya bercanda.
Tapi tidak dengan wisang geni yang menganggap itu Serius.
" Bu...bukan maksud ku seperti ini... Aku hanya ingin mandi" jawab Wisang Geni gugup. Wisang Geni baru pertama melihat pemandangan seperti ini, melihat gadis yang hampir tidak mengenakan busana karena gadis ini baru selesai mandi.
Wisang Geni adalah seorang remaja yang menginjak dewasa, pemandangan yang baru dia lihat sontak membangkitkan jiwa mudanya. Sembari mandi dia berusaha menenangkan perasaan dalam hati nya yang bergejolak entah kenapa dia sendiri pun bingung.
Setelah membersihkan diri dia kembali menuju rumah paman supar. Disana sudah ada 3 orang yang duduk di meja makan.
Bibi Yanti , Bejo dan Diah Ayu, Wisang Geni nampak malu ketika melihat Diah Ayu, dia teringat kejadian barusan. Di meja makan hanya terdapat hidangan singkong rebus. Hidangan yang cukup sederhana, namun hanya itu yang keluarga ini punya.
"Bejo... Kau belilah genteng untuk atap rumah ini, dan juga beli beras untuk makan paman Supar biar cepat sembuh." Ucap wisang geni sambil menyerahkan uang yang dia keluarkan dari kantong kecil itu, jumlah nya tak kurang dari 100 kupang perak, sungguh harta yang banyak. Tiga orang tersebut kaget bukan main melihat uang yang diserahkan.
Wisang Geni punya rencana baru, dia berencana menjadikan keluarga ini sebagai pengumpul informasi yang akan membantunya kelak. Dengan begini dia akan dapat informasi yang bisa di percaya, dia akan mengajari Keluarga ini dengan ilmu pengobatan. Dan menjadikan salah satu dari keluarga ini Ahli obat, dengan benyak orang berobat maka informasi akan mudah di dapat.
Satu pekan sudah terlewati. Kesehatan paman Supar sudah mulai membaik. Wisang geni setiap hari memberi perawatan lebih pada paman Supar. Ini karena dia teringat pada bopo nya di kampung halaman.
"Paman... bagai mana dengan keadaan paman?" Tanya wisang geni melihat paman Supar sudah kembali pada kondisi semula.
"Semua berkat nak Geni... Lihatlah sekarang aku sudah pulih dan bahkan lebih baik dari sebelumnya". Jawab paman Supar sambil menepuk dada yang berotot itu.