SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MULAI BERJALAN



" Awalnya saya juga bingung kang mas, tapi entah dari mana batin ku mengatakan bahwa anak angkat kang mas tidak akan mengecewakan kita" Ucap Raja Hadi yang memang pada awalnya ragu dengan rencana perebutan kembali kerajaan Mataram tersebut.


"Aku hanya juga ragu tapi,... Anak itu sudah berkorban banyak untuk kita" Jawab Raja Cokro meyakinkan Raja Hadi.


"Saya sudah menyiapkan pasukan pendam serta perangkap dalam jumlah besar, dan perlu kakang tahu hampir satu hutan ini sudah terpasang perangkap" Jelas Raja Hadi pada Raja Cokro.


"Aku juga diminta anak itu ( Wisang Geni) untuk berjuang dengan pasukan dari Pajang" Jelas Raja Cokro.


"Apa kamu yakin dengan 2000 pasukanmu kita dapat merebut kembali Mataram?" Ucap Raja Cokro sedikit ragu.


"Yang aku percaya hanya satu kang mas, anak itu pasti punya siasat lain" Jelas Raja Hadi meyakinkan Raja Mataram tersebut.


Kedua Raja itu pun melakukan percakapan yang cukup serius perihal perjuangan yang akan mereka lakukan, baik masalah kekuatan, persenjataan serta jumlah pasukan yang amat tidak seimbang.


Secara mental mereka sudah siap, tidak jauh berbeda dengan senjata maupun perangkap yang telah mereka persiapkan.


***MATARAM***


Dalam kerajaan Mataram juga sudah mempersiapkan penyerangan menuju Kerajaan Pajang, apalagi setelah mendengar informasi dari Gilang atau Wisang Geni, dalam waktu dekat Kerajaan tersebut akan melakukan serangan guna merebut kembali Mataram, dari sini Raja Ageng Gumilar mulai kebakaran jenggot, sang Raja pun mulai melakukan perundingan dengan ke empat patih andalan nya.


Dilain sisi Wisang Geni pun mulai menjalankan rencananya, pemuda tersebut mulai membuat racun dengan jumlah yang banyak, memang itu lah yang dia rencanakan dari awal. Bukan racun yang mematikan, melainkan racun yang dapat melemahkan kekuatan yang bisa bertahan kurang lebih satu pekan. Wisang Geni akan mencampur pada sumber air yang ada dalam kawasan kerajaan, baik lewat sungai atau sumur dan bahkan makanan yang akan disuguhkan kepada para prajurit.


Terlihat beberapa orang sedang berunding dalam sebuah ruangan, percakapan mereka tampak sangat serius.


"Karno, kau bawalah pasukan menuju Kerajaan Pajang, buatlah tempat bekal makan pasukan serta perangkap di hutan mentaok, agar ketika pasukan Pajang hendak menyerang kita dapat menumpas mereka dengan cepat." Perintah Raja Ageng Gumilar pada patih muda andalan Kerajaan Mataram tersebut.


"Ba... Baik, hamba laksanakan perintah" Ucap Karno sedikit ragu, dirinya bukan ragu karna takut pergi ke medan perang, melainkan ini semua akan melenceng dari rencana yang telah di dusun Wisang Geni.


"Selesai menaklukan Pajang secara resmi kau akan ku angkat menjadi patih Kerajaan Mataram,kau bawalah prajurit yang sudah tua,karna tugas mereka hanya membuat perangkap dan pembuatan tempat penyimpan perbekalan sementara bukan untuk perang langsung. " Ucap Raja Ageng Gumilar yang sempat melihat keraguan di wajah Calon patih muda tersebut.


Hal ini juga bisa dikatakan mereka adalah umpan pendahulu, karna jika mereka ketahuan tidak menutup kemungkinan mereka akan diserang dan mati terlebih dahulu, Setidaknya itulah yang Karno khawatirkan.


Raja Ageng beserta empat orang penasehatnya sudah menyelidiki Karno dan Gilang bahwa kedua pemuda itu tidak punya rencana lain bahkan mereka bisa dikatakan orang-orang berpotensi dimasa depan, setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Raja dan keempat penasehat tersebut.


Kali ini Gilang mendapat tugas sebagai kepala pelatihan para prajurit muda menggantikan posisi Karno. Hal ini lebih menguntungkan dirinya karna dapat dengan mudah menjalankan rencana yang telah disusun kurang lebih satu tahun lalu. Wisang Geni atau Gilang sekarang dia tahu mana prajurit baru dan mana anak buah Ki Ageng Gumilar yang dulu diperintah kan untuk membuat kacau atau onar di Kerajaan Mataram. Jumlah mereka bisa dikatakan banyak sekali, kurang lebih 3000 prajurit.


Walau rencana yang dia susun merupakan rencana licik, tapi memang hanya ini yang kemungkinan besar bisa berhasil.


Malam sebelum keberangkatan Karno tampak cemas, entah apa yang dia pikirkan, semua itu terlihat dari tindakan pemuda tersebut.


"Kau Kenapa kang? "Tiba-tiba Gilang menepuk pundak Karno dari belakang.


" Kau Gilang bikin kaget saja, rencana bisa kacau kalau begini" Ucap Karno sedikit sewot dengan dirinya yang harus memimpin prajurit berangkat menuju Pajang, rencana awal dia akan membebaskan tawanan perang dan menyerang dari dalam Kerajaan.


"Tidak usah khawatir kang, justru kakang bisa bergabung dengan prajurit Pajang, bukankah itu lebih baik, untuk masalah tawanan biar kang kebo edan yang memimpin mereka." Ucap tenang Gilang pada Karno yang mulai memikirkan ucapan Gilang tersebut.


"Iya kalau mereka bisa diajak kompromi, bagai mana kalau mereka langsung main serang, apa tidak kelabakan aku,... " Nampak lebih sewot lagi Karno yang mendengar ucapan Gilang yang tampak mudah menanggapi situasi tersebut.


"Ternyata kakang takut mati, ... Tenang kang dalam alas mentaok prajurit Pajang sudah siap" Ucap Gilang sedikit mengejek serta menakut-nakuti Karno.


Tambah pucat muka Karno mendengar ucapan Gilang, dia merasa seperti sapi yang hendak disembelih.


"Dari mana kau tau...kau jangan menambah suasana hati ku tambah kacau" Ucap Karna khawatir.


"Untuk posisi pasti aku kurang tahu, tapi aku sudah tau mereka ada di hutan tersebut" Ucap Gilang memang tidak salah, tapi cara bercandanya disaat seperti ini memang kurang tepat.


Melihat raut wajah Karno yang semakin panik Gilang berusaha menenangkannya.


"Kakang tidak usah khawatir, bilang saja kalian di pihak yang sama, dan juga prajurit kakang semua pasti mengenal Raja Cokro, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Hanya kakang harus berhasil meyakinkan prajurit untuk kembali memihak Raja Cokro" Ucap Geni tenang seakan-akan semua dalam kendalinya.


Karno masih duduk dengan diam sembari memikirkan ucapan Gilang, dan semua yang dikatakan pemuda tersebut memang benar, ditambah pasti kalau di bergabung dengan prajurit Pajang maka kekuatan semakin besar untuk membantu merebut kembali Kerajaan tersebut.


Dari awal Karno dan Gilang memiliki tempat tidur berdampingan, maka tak ayal mereka saling bercakap melepas lelah sambil rebahan.


"Sudah kang , tidur sana, perjalanan besok pasti melelahkan" Ucap Gilang sembari memejam matanya.


"Apa mungkin Raja Cokro sudah di alas mentaok, lalu lewat mana beliaunya? " Batin Karno ikut rebahan di atas tempat tidurnya. Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab dan masih janggal dalam batinnya. Karno memperhatikan pemuda yang ada disampingnya, pemuda yang usianya lebih muda dari dirinya tapi memiliki pemikiran serta berani melakukan sesuatu tampa ada rasa takut sedikit pun.