
Tring... Tang... Plak... Buk... Bunyi serangan bajak laut itu beradu dengan pedang kematian yang dipegang Wisang Geni, pertempuran dahsyat pun terjadi, serangan disertai tenaga dalam yang cukup hebat.
Wisang Geni kali ini tidak mudah mengalahkan para lawannya. Karna lawannya saat ini berada tak beda dengan tingkatan yang dia miliki. Para penjahat ini ada para guru pengajar dalam padepokan Macan Alas, maka kemampuan mereka tak dapat di pandang remeh.
Trang...Boom... Dar... Serangan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi menciptakan gelombang tenaga yang besar.
Tiga orang penjahat pun menyerang Pitaloka, kali ini Pitaloka tak memiliki senjata apa pun, tak ayal gadis ini pun menjadi bulan-bulanan para penjahat.
"Sini manis aku tak akan menyakiti mu" Ucap salah satu penjahat yang mengepung gadis ini. Walau kemampuan gadis ini cukup hebat, melawan 3 orang dengan kemampuan yang sama dengannya yaitu Ksatria madya tingkat 1 gadis ini tak mampu berbuat banyak.
Wisang Geni yang merasakan Pitaloka terancam dia pun keluar dari kepungan.
Swing. . . Crap... Slash... Suara tebasan dari pedang Wisang Geni memotong tangan orang yang hendak mencengkram dada gadis ini. Disusul tusukan pada dada orang yang berada sebelah kanan gadis ini. Tiga orang yang menyerang Pitaloka mati seketika dengan kondisi yang tak utuh.
Melihat kejadian tersebut sontak marah lah kawanan perampok ini, melihat saudara mereka mati dengan demikian. Gerakan pemuda ini sangat cepat, lengah seper sekian detik tiga orang yang hendak melecehkan gadis ini meregang nyawa tampa ada perlawanan.
"Aku sudah cukup bersabar, tapi kalian memaksaku melakukan ini." Ucap Geni geram menyaksikan kondisi gadisnya yang dalam keadaan tak baik, banyak luka lebam di sekujur gadis ini karna pukulan serta tendangan yang diderita gadis ini. Walau dia masih dalam keadaan sadar hanya luka lebam dan sedikit luka dalam tapi menyaksikan hal ini amarah wisang Geni semakin memuncak, dan ingin segera menghabisi perampok ini.
"Tarian dewata... " Teriak kencang dari wisang Geni membuat ciut nyali 10 orang yang tadi mengepung dirinya. Wisang Geni kali ini benar-benar dalam keadaan marah.
Tring... Trang... boom ... Wisang Geni yang memang mempunyai bakat luar biasa sehingga dia dapat memadukan jurus-jurus yang dia kuasai. Di juga mengunakan ajian gumbolo geni dalam satu kali waktu bersamaan dengan jurus pedang tarian dewata.
Tak ayal 10 orang yang mengepung pemuda itu kocar-kacir, melihat ini sang pimpinan bajak laut itu akhirnya turun tangan. Tapi sayang dia terlambat menyadari akan kekuatan lawannya. Sepuluh orang mati tanpa jasad yang utuh, sungguh pertarungan yang keji. Walau para bajak laut orang-orang yang keji dan brutal, mereka tak pernah membunuh Sekejam dari orang misterius bertopeng ini.
Wisang Geni sudah kalap, dia tak memperdulikan lagi keadaan musuhnya. Dia seperti iblis pencabut nyawa, walau musuhnya telah mati dirinya tetap mencincang mereka satu persatu seakan-akan menikmati setiap goresan tubuh pada jasad yang sudah tak bernyawa tadi sembari menahan serangan tujuh orang yang kini menjadi lawannya.
Pitaloka miris menyaksikan pertarungan Wisang Geni, dia tak menyangka pemuda yang begitu baik kini berubah laksana binatang buas yang mengamuk.
Para bajak laut yang tersisa sudah tak memperhatikan Pitaloka, yang menjadi pikiran mereka hanya bagai mana membunuh pemuda ini.
Tapi memang mereka memang salah memilih lawan walau dalam prediksi kekuatan pemuda ini setara dengan ki Macan Kumbang tapi penguasaan seni bertarung nya memang lebih hebat, kali ini Geni melempar pedangnya. Dia bertarung dengan tangan kosong. Karna ke tujuh orang ini tak menggunakan senjata, mereka bertujuh adalah petarung tanpa senjata.
Di pihak bajak laut di untungkan karna tenaga lawan mulai habis, tapi dilain sisi mereka akan merasakan panas nya ajian tersebut jika menghantam tubuh mereka. Ke enam anggota bajak laut sudah terkapar dengan luka dalam yang cukup parah.
Tinggal ki Macan Kumbang yang masih dapat melakukan perlawanan. Ketua kelompok ini akan menggunakan ajian pamungkas nya, cakar Macan kumbang. Jurus dengan cakaran yang begitu kuat bahkan kekuatannya dapat menumbangkan sebuah pohon besar.
Mereka berdua bertarung dengan sengit dan sebisa mungkin terkena serangan lawan, sekali terkena serangan akibatnya pasti buruk. Metal dari Macam kumbang sudah hancur karna semua anak buah nya telah kalah dan hanya tersisa tujuh orang saja. Dia bertarung dengan putus asa, serangan yang dilancarkan pun tidak maksimal.
Plak... Plak... Duk... Boom... Dua pukulan saling beradu, menciptakan gelombang tenaga yang besar, kedua petarung terpental mundur, ki Macan Kumbang muntah darah dan jatuh tersungkur, Wisang Geni hanya mundur beberapa langkah ke belakang.
Wisang Geni pikirannya masih belum kembali normal, hanya kata"bunuh" Yang ada di otaknya saat ini. Dia berjalan pelan menuju Macan Kumbang, seakan memberikan intimidasi pada lawannya.
"Cepat kau bunuh kami, jangan siksa kami seperti ini" Ucap kepala bajak laut ini.
Perkataan dari ketua bajak laut seperti siraman air dingin pada kepala Wisang Geni, dia mulai tersadar dari emosinya.
"Membunuh kalian? Apa kalian lupa akan janji yang sudah disepakati?" Ucap Wisang Geni dengan ekspresi muka datar.
Terbesit rasa bersalah yang besar dalam hati pemuda ini, "kenapa hanya perkataan yang melecehkan Pitaloka bisa membantai para perampok dengan begitu brutal, lalu apa bedanya aku dengan mereka?" Pikiran waras Wisang Geni berangsur-angsur pulih.
"Semua telah Terjadi... Tak perlu disesali" Pikir Wisang menenangkan batinnya.
"Kau minumlah ini, dan bagikan pada mereka satu persatu, mulai sekarang kalian adalah anak buah ku" Ucap Geni melempar botol kecil berisi pil jiwa pada perampok tersebut.
"Dan satu lagi... Kuburkan teman-teman kalian dengan layak" Sambung Wisang Geni melangkah menuju tempat dimana Pitaloka berbaring lemas.
Gadis ini tidak menderita luka yang parah, cuma di ngeri, takut menyaksikan pertarungan Wisang Geni. Tepatnya bukan pertarungan mirip singa yang sedang mencabik-cabik mangsanya.
Gadis ini kaget sewaktu Wisang Geni membopongnya.
"Kakang... " Hanya kata itu yang terucap dari bibir mungil sang gadis. Ada rasa takut dalam hati gadis ini menyaksikan pertarungan yang dilakukan Wisang Geni. Dia sendiri juga tak tahu kenapa pemuda ini sebegitu marahnya, apa mungkin karna perkataan para perampok yang melecehkannya? Batin gadis ini masih penasaran dengan sikap pemuda yang menggendong dirinya ini.