SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
RUANG PENJARA



Setelah penempaan awal selesai dia mulai menunjukan kemampuan dalam hal penempaan yang pernah diajarkan sang guru. Raja serta petinggi lain pun merasa asing dengan kemampuan ini. Bahkan penempa senjata yang bekerja di kerajaan Mataram tidak ada yang menggunakan cara ini.


Raja dan para petinggi(pejabat) dengan serius menyaksikan penempaan senjata tersebut. Matahari telah di atas kepala,Sudah setengah hari pembuatan pedang tersebut. Tinggal pembuatan gagang dari kayu,memang tampilan pedang ini cukup sederhana tapi jelas tampak pedang ini berkualitas.


"Karno aku ingin kau uji pedang buatan Gilang dengan pedang andalan mu!" Perintah raja Ageng Gumilar pada pemuda itu.


Karno mengeluarkan pedang andalannya, padang cahaya kilat.


Pedang Karno adalah pedang dengan kwalitas tinggi, dimana hanya ada 5 di kerajaan Mataram. 1 dia miliki 4 lain di Miliki oleh pengawal pribadi sang raja.


"Karno jangan sungkan-sungkan" ucap Gilang mencabut pedang yang baru dia buat.


Latih tanding pun terjadi, Latih tanding ini bukan melihat siapa yang lebih hebat,melainkan pada beberapa bagus pedang yang di buat Gilang.


Hanya beberapa jurus pedang yang di gunakan Karno patah.para pandai besi yang melihatpun kaget,karna senjata yang digunakan Karno adalah pedang yang dibuat oleh pandai besi paling hebat di kerajaan Mataram.


Pandai besi langsung menuju Gilang,mereka ingin memastiakan ada tipu muslihat apa tidak dengan pedang yang di buat pemuda tersebut.


"Pedang ini..."ucap penempa senjata tak terselesaikan.


"Raja...pedang buatan anak muda ini bisa disejajarkan dengan pedang pusaka, karna ketajaman serta kualitas yang memang belum pernah kami temui sekelas senjata biasa. Dan kwalitas ini biasanya hanya para empu yang mampu membuatnya" penjelasan para pembuat senjata tersebut.


"Karno kau ambilah pedang ini sebagai pengganti pedang mu yang patah"ucap Gilang sambil menyerahkan pedang yang dia pegang. Karno memandang sang raja,dia merasa tak enak hati. Raja hanya mengangguk tanda setuju.


"Trimakasih Gilang" ucap singkat Karno,dimerasa tak enak hati,tapi berhubung pedangnya juga patah akhirnya di menerima pedang dari Gilang.


"Bagus...bagus...ternyata kau memang anak ajaib" ucap sang raja puas dengan apa yang dia saksikan. Raja Ageng Gumilar akhirnya pergi dari tempat pembuatan senjata tersebut.


"Baik sekarang kalian boleh kembali berlatih lagi kembali ke pasukan induk kalian" perintah para petinggi yang juga pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Karno kenapa kau tidak pernah ikut kumpul kalau komandan regu memerintahkan?"tanya Gilang dengan penuh selidik.


"Siapa bilang?...aku adalah pengawas prajurit-prajurit muda, jadi tugas pokok ku mengawasi kalian."


"Jadi begitu..."jawab Gilang mengerti dengan apa yang disampaikan Karno.


Malam ini Gilang berencana Menyusup kedalam penjara lagi. Setelah persiapan sudah selesai Gilang berencana bergerak malam ini. Dia menggunakan baju serba hitam dan menutupi mulut serta hidungnya. Penampilan sama seperti kalangan ninja di negri Nihon.


Terlihat sepasang mata yang mengintai pergerakan Gilang,dia mengamati gerak-gerik pemuda itu. Gilang yang tak menyadari bahwa dia diamati bertindak seperti yang telah dia rencanakan. sudah berada di depan penjara sang raja.


Kondisi raja tersebut sangat memprihatinkan,banyak luka sayat walau kondisi tubuhnya dalam keadaan masih sehat hanya banyak luka yang terdapat pada tubuhnya,Serta luka dalam yang lumayan parah.


"Kisanak sedang apa?"jawab cokro yang duduk dalam posisi meditasi.


"Aku datang ingin menyelamatkan yang mulia raja" ucap Gilang kepada pria paruh baya yang ada dihadapannya.


"Aku tak tahu maksudmu kisanak,kalau kau ingin bertemu raja kenapa ke kau tidak ke keraton saja?raja pasti ada." Jawab pria paruh baya itu dengan nada sinis dan sedikit jengkel.


Raja tak mau mengaku karna dia merasa tidak kenal dengan orang yang ada di hadapannya ini. Ditambah lagi kerajaan yang dia miliki secara paksa diambil alih oleh sang perdana mentri(penasehat kerajaan). Pikiran sang raja kalut ketika dia memikirkan bagaimana nasib keluarganya terutama sang putri.


Gilang tahu bahwa pria yang ada di depannya adalah sang raja, hal itu dapat dia ketahui dari tahi lalat yang ada pada dagu sang raja seperti halnya penjelasan dari paman Markum.


"Jika memang tak ada sesuatu yang penting pergilah kisanak,disini bukan tempat untuk main-main" pinta raja Cokro pada sosok yang ada didepannya.


Gilang yang yang memang belum tahu benar dengan raja Cokro coba memikirkan cara agar dapat meyakinkan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Percuma kedatangan ku kesini jika raja Cokro tak ada, baiklah paman aku akan pergi...kasihan Diah Pitaloka, kakang Gesang serta ibu permaisuri yang sangat mengharapkan kehadiran beliau(raja Cokro)." Ucap Gilang memancing reaksi dari pria ini.


Mendengar nama keluarganya disebut raut wajah sang raja berubah,dia ingin lebih tahu keadaan dari keluarganya.


"Apa mereka selamat,dimana mereka kisanak?"tanya raja Cokro yang memang sangat merindukan anak-anak serta istrinya.


"Apa paman kenal mereka?sehingga paman menghawatirkan mereka."jawab Gilang yang memperhatikan mimik muka dari pria yang sedang duduk dalam posisi meditasinya.


"Baiklah...baiklah...berhubung kamu sudah tahu semuanya,akulah orang yang kau cari."akhirnya raja Cokro mengaku pada sosok yang tidak dia kenal.


"Yang mulia...mohon pulihkan kondisi tubuh anda, satu pekan hamba akan kembali lagi" pinta Gilang sambil menyerahkan pil jiwa serta pil penambah stamina pada sang raja.


"Setelah kondisi yang mulia pulih Aku akan datang menyelamatkan yang mulia" terang Gilang pada raja Cokro.


"Boleh aku tahu nama kisanak?aku tak begitu yakin dapat keluar dari sini dan tolong jaga mereka untuk ku" pinta raja Cokro pada orang yang telah memberi bantuan padanya.


"Aku Wisang Geni baginda, dan hamba harap paduka percaya pada hamba" pinta Geni pada raja Cokro yang putus asa dengan keadaan dirinya. Bukan tanpa alasan raja Cokro putus asa,karna memang penjagaan kerajaan ini sangat ketat di tambah mereka hanya berdua.


Setelah percakapan singkat itu Gilang pergi meninggalkan penjara tersebut, dia kembali ketempat dimana para prajurit muda tinggal.


Dalam ruang penjara itu memang hanya raja Cokro, tapi diruangan tak jauh dari ruang penjara tersebut juga ada ruang penjara untuk tawanan lain.


Kejadian tersebut diawasi oleh Salah seorang tawanan yang ada di sebelah ruang penjara dari raja Cokro. Dan apa yang di bicarakan serta apa yang dilakukan oleh orang tersebut dapat dilihat dan diketahui.


"Kau dari mana,mengapa baru pulang?" Tanya Karno yang melihat Gilang baru memasuki ruangan yang di jadikan tempat tinggal prajurit muda tersebut.