
Wisang Geni mencari tempat dimana dia dapat mengobati sang gadis, dan mencari tempat untuk istirahat malam ini. Dia menuju tempat pohon rindang tepat dibawahnya terdapat sungai yang tidak begitu besar.
Wisang Geni menyandarkan Tubuh Pitaloka pada sebuah pohon yang besar.
Geni mengoleskan obat luka luar yang dia punya kepada wajah serta bahu dan pundak sang gadis.
"Pada punggung juga kang" Ucap sang gadis pelan.
Wisang Geni hanya terdiam dan menuruti permintaan sang gadis, Tangannya bergetar mana kala menyentuh pundak yang putih mulus tersebut.
"Tadi kenapa kakang begitu marah? " Tanya Pitaloka pada pemuda yang sedang mengobati punggung sang gadis.
"Perkataan mereka sungguh keterlaluan" Jawab Geni singkat, dia tak bisa mencari alasan terpaksa berkata jujur pada gadis yang sedang menahan nyeri pada punggungnya.
"Apa kakang marah mendengar perkataan mereka yang meleceh kan aku?" Tanya Pitaloka penasaran.
"Benar" Jawab singkat Wisang Geni pada Pitaloka, batin Pitaloka senang mendengar jawaban tersebut, tapi disisi lain di juga takut akan kemarahan Wisang Geni.
Malam ini Wisang Geni memasak perbekalan yang mereka bawa, dia memasak cukup banyak.
"Kenapa kakang masak begitu banyak" Tanya Pitaloka masih terduduk dan bersandar pada sebuah pohon.
"Untuk mereka" Jawab Geni sambil mengalihkan pandangan kepada tujuh orang yang telah duduk bermeditasi, jasad anggota lainnya telah dikuburkan oleh tiga orang yang masih bisa bergerak setelah meminum pil jiwa pemberian Wisang Geni.
Walau Pitaloka dapat beraktifitas seperti biasa semua kegiatannya dibantu oleh Wisang Geni kecuali mandi dan ganti baju. Setelah semua beres Wisang Geni menyuapi sang gadis dengan penuh perhatian.
"Aku mau sakit terus kang" Ucap sang gadis sambil membuka mulut menerima suapan Wisang Geni.
"Kenapa kau malah mau sakit terus" Ucap Geni bingung dengan perkataan Pitaloka.
"Sebab kalau aku sakit, kakang perhatian dengan ku" Jawab sang gadis, Wisang Geni hanya tersenyum masam mendengar perkataan sang gadis.
"Ya sudah,... Kau sakit saja terus biar aku selalu menggendong mu" Ucap Wisang Geni pergi mengambil makanan buat anak buah barunya.
Mereka bertuju sudah dapat bermeditasi karna obat dari Wisang Geni, tapi kondisi mereka masih lemah.
"Paman... Kalian makanlah" Ucap Geni membangunkan mereka ber tujuh yang sedang meditasi memulihkan kekuatan.
"Maaf paman aku telah membunuh teman-teman paman, kalau tidak aku lakukan maka aku yang akan mereka bunuh,aku harap paman memahami keadaan ku" Ucap Geni sambil duduk diantara mereka.
"Sekarang kami adalah pengikut tuan, apapun yang tuan minta maka akan kami lakukan" Jawab macan kumbang dengan nada serius.
Walau batin ketujuh orang ini masih berduka, tapi mereka sudah berjanji, pantang untuk mereka ingkari. Mereka adalah pendekar-pendekar hebat, tapi sayang mereka salah menempuh jalan hidup.
"Kami adalah bajak laut atau orang yang merampok para nelayan serta pedagan yang lewat perairan" Ucap macam kumbang menjelaskan jati diri mereka.
"Tolong paman jelaskan secara detail." Pinta Geni bertanya dengan sopan karna mereka jelas lebih tua darinya.
Akhirnya Macam Kumbang bercerita tentang kehidupan mereka. Dia adalah pimpinan perguruan macam alas, serta bagai mana kehidupan mereka yang selalu bertindak sewenang-wenang pada yang lemah. Mereka adalah musuh dari Kerajaan Pajang.
"Perlu paman tahu kami berdua adalah keponakan Raja Pajang, sekarang paman adalah orang-orang ku, jadi mau tidak mau Paman semua tidak boleh memusuhi Kerajaan tersebut, semua yang paman lakukan harus seijin ku" Jelas Geni pada tujuh orang tersebut.
"Kami mengerti tuan" Ucap ke tujuh orang tersebut hampir bersamaan.
"Setalah makan minumlah pil ini paman, Geni menyerahkan pil penambah stamina, yang berfungsi memuliakan stamina setelah sakit. Wisang Geni menyalurkan tenaga dalam kepada mereka semua satu per satu. Itu semua bertujuan agar penyerapan obat maksimal, karna Wisang Geni tahu tenaga dalam mereka belum pulih sepenuhnya.
"Aku dan istri ku akan beristirahat kalian beristitahatlah besok kita akan melakukan perjalanan menuju Semarang" Ucap Geni mberitahukan tujuan selanjutnya pada pasukan barunya.
"Tuan... Tak jauh dari pantai kami punya sebuah kapal jelek,sekiranya Tuan berkenan istirahat di kapal kami" Ucap macam kumbang kepada Wisang Geni yang sekarang menjadi Tuannya.
Mendengar hal tersebut Geni langsung setuju. Akhirnya mereka semua menuju kapal bajak laut ini. Pitaloka masih dalam gendongan wisang Geni karna kakiny terkilir. Wisang Geni memang ahli pengobatan tapi dia tidak begitu pandai dalam hal pijit memijit. Tapi sebenarnya pemuda ini bisa cuma tidak enak akan hal tersebut, dia masih canggung terhadap gadis ini.
Setelah sampai pada tempat yang dituju, mereka melihat kapal bajak laut ini tak begitu besar, tapi cukup rapi, walau terkesan seram serta banyak tambalan di sana sini.
Kelompok bajak laut ini mpunyai nama yang mereka buat sendiri. Macan Kumbang, Macan Loreng, Macan Tutul, Macam Putih, Macam Hitam, Macan Gunung dan yang terakhir Macan Lebah, mereka mengubah nama asli dan menjadikan nama tersebut menjadi nama panggilan saat ini. Kelak merekalah yang akan menjadi pemimpin pasukan andalan Wisang Geni.
"Macan Gunung, Macan Lembah tolong kalian siapkan tempat buat tuan Geni, perintah Macam Kumbang pada kedua adik termuda mereka. Tempat yang yang ada hanya sebuah bilik dimana dulu tempat tersebut adalah tempat berkumpulnya para saudara tertua untuk membahas sesuatu.
Tempat yang sederhana dan hanya mampu untuk tidur maksimal 4 orang.
" Kapal ini kecil sekali kakang, tidak seperti kapal sebelumnya" Ucap Pitaloka protes dengan kondisi kapal tersebut.
"Apa kau mau tidur diluar?Aku dengar dari paman Macan Lembah disini banyak buayanya" Ucapan Wisang Geni agar Pitaloka mau beristirahat didalam kapal. Dia berencana tidur diluar dengan 7 orang bawahan nya.
"Setelah malam menjelang 7 orang itu tidak tidur, mereka melakukan meditasi untuk mengembalikan kondisi tubuh masing-masing. Mereka tak punya pikiran kabur atau membunuh tuan mereka, karna janji yang di ucapkan pendekar pantang untuk dilanggar. Mereka hanya berfikir bagaimana hidup mereka setelah ini.
Wisang Geni pun meditasi memulihkan tenaga setelah bertarung habis-habisan.
"Kakang... " Teriak lirih Pitaloka dari dalam kapal tempat gadis ini tidur.
Wisang Geni yang mendengar suara tersebut sontak menuju tempat sumber suara. Dia hanya melihat gadis ini duduk sambil. Memeluk lututnya.
"Ada apa Pitaloka" Tanya Geni panik dengan sendirinya. Sang gadis langsung memeluk pemuda di depannya.
"Aku takut kang, lampunya tiba-tiba mati" Kata Pitaloka sambil memeluk pemuda tersebut. Gadis ini takut karna lampu sentir (pelita) mati karna minyaknya habis.