SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KEHIDUPAN BARU



"Sudah kau tidur saja, besok juga terang" Ucap Geni coba menenangkan Pitaloka.


"Kakang tidur disini dengan ku saja" Ucap Pitaloka yang masih ketakutan.


"Kenapa kau sekarang jadi cengeng begini" Ejek Wisang Geni pada gadis yang ada di pelukannya.


"Kakang sendiri yang membuatku jadi penakut, kakang bilang ada buaya" Ucap Pitaloka mencari pembenaran.


"Pokoknya kakang harus tidur disini, masa ada istri tidur sendirian dibiarkan begitu saja" Ucap Pitaloka sedikit keras agar terdengar ke tujuh orang yang duduk berjaga diluar kapal.


"Iya... Iya... Akan aku temani diri mu sayang"ucap Geni dengan suara yang tak kalah keras, pemuda ini bermaksud mengod gadis ini.


Ketujuh orang yang mendengar hanya tertawa cekikikan, tuan mereka yang begitu hebat, ternyata takluk dengan istrinya, setidaknya itulah yang ada dikepala mereka.


"Kakang apa nanti kita akan menjalani hidup seperti sebelumnya atau? " Tanya macan lembah pada saudara tertua nya Macam Kumbang.


"Entah... Kita sekarang menjadi bawahan Tuan Geni, ke jalan mana tentu kita harus mengikutinya" Ucap Macan Kumbang dengan raut wajah penuh kesedihan. Dan tak hanya Macan Kumbang yang bersedih, semua anggota Macan Alas ini pun bersedih.


Kesedihan ini di akibatkan meninggalnya ke 13 saudara mereka dalam pertempuran melawan Wisang Geni yang sekarang menjadi tuan mereka. Terkadang hidup memang tidak berjalan seperti yang kita inginkan, orang yang harusnya mereka benci sekarang malah menjadi Tuan, dan tuan ini juga telah membantu mengobati saudara yang sekarang masih bertahan. Segala resiko akan mereka terima, apapun itu.


"Kakang apa jalan yang selama ini kita tempuh salah, apa karna itu Dewata menghukum kita dengan meninggalnya saudara kita, karna kita dulu juga tak segan-segan membunuh target kita." Ucap Macan Gunung pada mereka yang masih bertahan hingga saat ini.


"Entah salah atau benar inilah yang kita alami sekarang, jadi kau tidak usah terlalu berpikir, tugas kita sekarang melayani mereka( Gini dan Pitaloka) berdua tanpa syarat" Ucap Macan Tutul pada kedua adik termuda mereka biar tidak membuat suasana tambah sedih.


"Semoga hidup kita menjadi lebih baik, kalau Tuan membawa kita pada sesuatu yang baik kalian harus merubah sikap dan tabiat buruk kalian!" Perinta Macan Kumbang pada mereka semua.


Dalam Kapal yang tidak terlalu besar terdapat dua orang insan manusia yang sedang bercakap-cakap.


"aku senang bisa bersama kakang" Ucap Pitaloka membuka pembicaraan.


"Aku juga" Jawab ambigu atau tak jelas dari pemuda ini membuat penasaran Pitaloka.


"Aku juga apa kang?... Apa kakang juga suka dengan ku?" Tanya Pitaloka yang mengharap jawaban dari Geni.


"Sudah kau tidur sana, nanti keburu pagi" Ucap Geni sambil terlentang menahan gejolak birahi dalam dirinya.


"Kakang... Aku sadar apa yang kita lakukan sudah terlalu jauh, dan aku juga tahu kenapa kakang bersikap seperti itu. Masih banyak yang harus kakang selesaikan, dari situ kakang tak punya kekasih, tapi tidak apa-apa kang, aku akan menunggu mu" Ucap Pitaloka sambil merubah posisi tidurnya menyamping memandang pemuda yang ada di di dekatnya.


"Perkataan yang sama, kenapa dia juga akan menungguku seperti perkataan Diah Ayu, aku jadi pusing" Batin Wisang Geni sambil menatap langit-langit kapal tua ini. Tiba-tiba Pitaloka menyandarkan kepalanya pada dada Wisang Geni.


"Kenapa jatung kakang berdetak kencang? " Tanya lirih Pitaloka sambil menoleh keatas arah wajah sang pemuda.


"Tidur adik ku sayang sudah larut, nanti ada buaya" Ucap Wisang Geni dengan nada bergetar menahan gejolak dalam dirinya.


Pitaloka pun tak jauh berbeda dengan pemuda yang memeluknya dari belakang ini. Gadis ini pun seakan terbakar dengan kelakuan Geni, apalagi setelah merasakan akan adanya buaya yang bergerak-gerak diatas pinggulnya.


"Apa benda ini yang diceritakan teman-teman ku yang telah menikah, ibu juga menceritakan hal yang sama, tapi kenapa ukurannya lain, dua kali dari yang mereka bicarakan" Batin kotor Sang gadis. Pitaloka adalah gadis yang sudah matang jadi dia pun telah tahu mengenai hal perihal tentang kehidupan suami istri.


Pagi ini setelah bangun Pitaloka sudah tak dalam pelukan Wisang Geni, dia sudah tahu pemuda itu memang selalu bangun lebih pagi darinya.


Wisang Geni sudah memasak nasi setelah pembersihan tadi pagi.


Aroma ikan asin bakar itu juga membangunkan ketujuh orang yang masih tertidur dalam posisi meditasi. Tak jauh dari tempat mereka meditasi.


Ke tujuh orang pun sontak bangun dari duduknya ingin membantu sang Tuan.


"Kenapa tuan masak sendiri, tinggal perintah kami semua pasti beres"ucap Macan Gunung yang juga ikut membantu Wisang Geni. Sedang yang lainnya juga sibuk mondar-mandir membatu ambil air dan sebagainya. Mereka sempat berpikir tak enak, tuan mereka masak karna istrinya sakit akibat pertempuran kemarin.


"Sudah paman... Biar aku yang masak paman silahkan berbenah diri, itu sudah aku siapkan pakaian seadanya untuk paman semua" Ucap Geni memperlihatkan tumpukan baju yang tertata rapi diatas sebuah pohon yang tumbang. Mereka saling pandang satu dengan yang lainnya. Disamping mereka merasa tak enak juga heran, tuan mereka tidak membawa buntelan, lalu dari mana dapat pakaian sebanyak itu.


"Paman(7 orang) harus merubah penampilan paman agar orang-orang tidak takut dengan penampilan paman sekalian." Ucap Geni menyadarkan mereka bahwa penampilannya memang menakutkan.


Pitaloka keluar dari dalam kapal berjalan tertatih-tatih, kakinya masih terasa sakit karna terkilir.


"Paman siapkan makanannya, aku mau antar istriku beebenah dulu" Ucap Geni langsung menuju Pitaloka.


Geni langsung memapah gadis ini untuk pergi berbenah.


"Kakang tunggu disini saja, aku takut nanti kakang ngintip aku mandi" Ucap gadis ini menggoda Kang Geni.


"Aku sudah melihat semuanya" Ucap Geni menimpali candaan sang gadis.


"Dasar mesum" Ucap Pitaloka sembari menuju parit kecil yang bisa digunakan untuk mandi.


Setelah semua selesai berbenah dan makan pagi, mereka bersiapelanjutkan perjalanan. Tidak nampak bahwa 7 dari 9 orang ini mantan bajak laut yang bengis, tampilan mereka seperti orang-orang pada umumnya.


"Sepertinya kehidupan kita akan berubah kakang, dan sekarang aku berfikir untuk membina keluarga seperti Tuan kita" Ucap Macan lembah


"Aku juga sama dengan mu Lembah, ingin punya keluarga" Ucap macam gunung menimpali ucapan Macan Gunung.


Usia keduanya hampir sama kisaran 30 tahun sedang ke lima saudaranya juga berkisar 35 tahun. Hanya Macan Kumbang usianya antara 40 tahun dan terlihat paling tua diantara ketujuh orang tersebut.