
Keadaan Kidul memang cukup jauh dari Mataram, dampak krisis perekonomiam juga berdampak pada kadipaten ini. Kadipaten yang terkenal ramai kini sepi, hanya beberapa pedagang yang berani berjualan di pusat pasar kadipaten Gunung Kidul. Akibat banyak perampok dan pencuri kadipaten pun memperketat akses masuk. prajurit-prajurit kadipaten pun tak mau kecolongan.
\* \* \* \* \*
Ditempat lain sebelum masuk pusat kadipaten Gunung Kidul terdapat hutan yang sepi. Sebelum nya jalan yang melewati hutan tersebut selalu ramai.
" Ketua mereka sudah lewat,..." Ucap seseorang dengan pakaian serba hitam.
" Biarkan mereka lewat dulu, nanti setelah mereka kambali akan kita hadang..." Ucap seseorang yang di panggil Ketua tersebut. Komplotan ini berjumlah 20 orang.
Rombongan wisang geni berjumlah 13 orang, setelah menempuh 7 hari perjalanan menggunakan pedati mereka istirahat dahulu,besok pagi baru beli sapi atau lembu yang di butuhkan.
" Sesepuh,...selain sapi kita juga akan beli beras serta bahan-bahan lain yang kita perlukan,dari itu kemarin saya menganjurkan sesepun untuk membawa pedati..." Jelas wisang geni pada sesepuh. Akhirnya sesepuh pun tahu maksud wisang geni. Tapi untuk istilah memancing belum terjawab...
Wisang geni dan rombongan tidak membeli sapi pada satu tempat atau satu pedagang, di membeli sapi dari beberapa pedagang, sambil mencari sapi atau lembu yang bagus wisang geni pun mencari informasi mengenai keadaan kadipaten Gunung Kidul.
Barang-barang yang di beli wisang geni banyak sekali, bahkan dua pedati yang mereka bawa terlihat penuh. Terutama bahan makanan, beras , jagung serta kebutuhan pokok lainnya.
" Nak Geni apa tidak terlalu berlebihan belanja sebanyak ini...?" Tanya sesepuh Sumartono bingung. Kalau hanya bahan-bahan seperti ini di desa mereka pun banyak batin sesepuh Sumartono.
" Tidak apa-apa sesepuh...ini akan jadi cadangan makan kalau nanti paceklik..." Kilah wisang geni.
Setelah semua keperluan sudah terpenuhi hari berikutnya mereka akan pulang ke desa daun hijau. Para pemuda cucu serta anak-sesepuh Ngadio dan Sesepuh Sumartono terlihat senang, lain halnya dengan Para sesepuh yang mulai kawatir, Karena hutan yang akan mereka lewati terkenal banyak perampok dan begal.
Di lain sisi wisang geni hanya tersenyum simpul melihat ke kawatiran dari ke dua sesepuh itu.
Akhirnya pagi itu mereka kembali ke desa daun hijau, perjalanan mereka tak ada kendala pada hari pertama. Para pemuda sedang mengiring lembu yang mereka beli, wisang geni berjalan kaki paling belakang, bersama dua sesepuh lainnya. Terkadang mereka juga naik pedati yang jalan nya tak terlalu cepat karena banyak nya muatan yang mereka bawa. Jalan yang mereka gunakan sama pada waktu mereka berangkat. Dari kadipaten Gunung Kidul menuju desa daun hijau mereka harus melewati 8 desa. Hari pertama mereka melewati 2 desa. 2 desa hari pertama yang mereka lewati adalah desa Sangkelat dan desa Brobosan. Dan mereka tiba di brososan untuk menginap.
Hari kedua perjalanan wisang geni merasakan bahwa mereka di ikuti, tapi dia tetap tenang seolah-olah tak terjadi apa- apa. Perjalanan mereka selama 7 hari melewati 8 desa, jadi perjalanan tiap desa di tempuh 1 hari 1 desa, kecuali desa Sangkelat dan desa Brobosan yang hanya di pisah jalan, sebelah barat desa Sangkelat bagian Timur desa Brobosan. Dihari kedua mereka berencana menginap di desa Plumbungan,karena sampai desa sudah sore.
Pagi ini langit cerah, cuaca sejuk di tambah lalu-lalang berung yang terbang hinggap dari satu pohon ke pohon lain menambah indah panorama alam. Pagi itu hari ketiga mereka melaksanakan perjalanan. Wisang geni telah merasa kan ada sesuatu yang janggal,
Tak berapa lama mereka berjalan melintas jalan pinggir hutan tiba-tiba mereka dihadang sekelompok orang.
" Berhenti kisanak..." Ucap tegas para penghadang. Tampak panik kumpulan wisang geni terutama 2 sesepuh tua itu. Para pemuda yang ikut dalam perjalanan itu pun tak jauh beda, karana para penghadang yang jumlahnya lebih banyak dari mereka dan semua membawa pedang.
" Maaf paman mengapa menghadang perjalanan kami..." Tanya Geni dengan Nada datar tanpa ekspresi takut.
" Tujuan kami...ha...ha..ha..." Timpal salah satu dari penghadang disambut tawah hampir semua penghadang secara bersamaan.
" Serahkan sebagian barang yang kalian bawa,...dan kalian boleh pergi dengan selamat..." Perintah salah satu dari penghadang yang berada paling depan. Wisang geni menyadari ada hal yang janggal, walau mereka semua membawa pedang tapi tak ada niat membunuh dalam jiwa meraka, hanya sebatas ancamen. Kalau mereka niat merampok kenapa mereka menghadang terlebih dahulu,kenapa tak langsung menyerang. Dari itu dia mengumpulkan bahwa para perampok ini sebenarnya hanya meminta sebagian harta bukan ingin merampok sepenuhnya.
" Paman yang gagah...tidak ada kah pekerjaan lain selain menjadi perampok..." Tanya wisang Geni mencoba menasehati kawanan perampok itu.
" Lancang...cepat serah kan saja 2 lembu itu dan 4 karung beras setelah itu kalian cepat pergi ..." Hardik Ketua perampok itu
Kedua sesepuh berniat mengabulkan perintah perampok itu,tapi dengan cepat wisang geni menahan ucapan sesepuh itu.
" Paman lebih baik kembali ke jalan yang benar tak baik merampok kami penduduk desa yang miskin ini..." Tolak Geni kepada kepala perampok itu.
" Kau pemuda bertopeng cepat serahkan saja apa yang kami minta sebelum kami berniat berkat..." Ancam salah satu dari perampok itu. Ketua perampok melihat bahwa diantara mereka tidak mempunyai kemampuan silat,jadi dengan ancamen nya pasti penduduk desa ketakutan.
" Maaf paman walau kami tak bisa ilmu silat kami tetap akan melindungi harta kami..." Ucap geni dengan Nada penuh percaya diri. Para perampok tak sadar jika wisang geni menyembunyikan kekuatan nya.
" Ambil paksa barang mereka..." Perintah sang Ketua
Lima orang maju hendak mengambil barang yang mereka butuhkan, seketika itu mereka kaget melihat wisang geni menyerang mereka, tak ayal pertarungan pun terjadi.
Wisang Geni tahu kalau kemampuan mereka hanya pendekar utama, hanya Ketua perampok itu yang mempunyai kemampuan Ksatria madya tingkat 1. Perampok yang berjumlah 5 orang itu pun kewalahan dengan ilmu beladiri pemuda bertopeng ini. Mereka seperti menyerang bayangan. Tubuh 5 orang perampok itu pun terpental tak sadarkan diri terkena pukulan serta tendangan dari pemuda bertopeng itu. Kejadian itu sangat cepat, bahkan Ketua perampok itu pun tak kalah kagetnya.
" Rupanya kau punya sedikit kemampuan...kalian semua serang pemuda itu..." Perintah sang Ketua di ikuti 15 orang lain mulai menyerang wisang geni.