SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PEDANG JIWA MEMBARA



"Ini juga sebagai serangan kejutan bagi mereka, jika kita tidak mendahului maka kita akan diserang terlebih dulu, maka dampak yang akan terjadi bisa jadi lebih parah paman, " Jelas Wisang Geni coba meyakinkan raja Hadi.


"Baik akan aku pikirkan dulu, tapi aku minta kau jelaskan secara detail rencanamu, aku tidak mau menuruti emosi jiwa muda yang akan membawa dampak buruk bagi rakyat kedua Kerajaan. Akhirnya Wisang Geni menjelaskan kembali rencana lebih rinci.


" Apa kau juga bisa penempaan senjata?" Tanya sang raja di sela-sela penjelasan Wisang Geni tentang rencana yang dia susun.


"Bisa paman, itu salah satu cara saya mendekati raja Mataram sekarang" Jawab singkat Wisang Geni dan dia mulai menjelaskan kembali pada rencananya.


Baik sang raja dan Patih Sastro terkesan mendengar rencana yang telah di persiapkan Wisang Geni.


"Memang luar biasa anak ini" Batin sang raja dan juga Patih Sastro, mendengar penjelasan dari pemuda ini.


"Baik aku akan memikirkan lagi, dan tolong di sela-sela aku berpikir kau buat kan aku sebilah pedang" Raja Hadi coba menguji pemuda ini. Percakapan ini berlangsung cukup lama tak terasa waktu sudah sore, percakapan 3 orang ini memang dilaksanakan secara tertutup dan tidak ada orang lain kecuali mereka ber tiga.


Wisang Geni menyetujui apa yang di minta oleh raja Hadi, dia kini pusing tentang permintaan dari sang raja untuk membuatkan pedang untuk beliau.


"Apa aku akan membuat kan senjata biasa saja atau senjata dengan kwalitas bagus?" Batin Geni bingung karna tidak mungkin dia membuatkan senjata yang biasa saja untuk sang raja.


"Apa kakang benar biasa membuat senjata mirip pandai besi? " Ucap Pitaloka sedikit dengan nada ejek kan. Wajar gadis ini bertanya karna dia belum pernah melihat Wisang Geni membuat senjata.


"Apa kau lupa aku ini anak pandai besi?! " Rajuk Wisang Geni pada pikirannya.


" Kenapa kakang pusing, beri saja paman pedang tua yang kakang miliki kemarin"ucap Pitaloka sedikit bercanda. Wisang Geni yang mendengar ucapan Pitaloka teringat akan pedang yang dia ambil dari gudang istana Mataram.


Geni mengambil pedang yang dia simpan pada gelang ruang naga yang dia miliki sembari melihat apa ada barang yang bisa di gunakan. Ternyata dalam gelang nya terdapat pula baru bintang. Batuan ini biasanya digunakan untuk campuran dalam pembuatan senjata. Wisang Geni juga sudah menguasai ilmu penempaan senjata yang di ajarkan resi Tomo, besok dia berencana menunjukan kemampuan yang dia miliki.


Wisang Geni kini tenang karna besok dia bisa melakukan apa yang diperintahkan paman Hadi atau raja Pajang tersebut.


Sang Raja sebenarnya setuju dengan apa yang direncanakan Geni, beliau hanya ingin menguji kemampuan serta mental pemuda ini. Dia juga tertarik akan cerita Wisang Geni yang menyamar jadi ahli senjata.


Seperti biasa kini si gadis bandel ini dengan santainya masuk kamar Wisang Geni, dia tak peduli akan tertangkap lagi karna alasan yang di sampaikan pada sang paman cukup sangat meyakinkan.


"Kenapa kau tidur kamar ku lagi?" Ucap Geni menegur sang gadis yang dengan santai masuk kemudian rebahan pada dipan(tempat tidur) yang ada di sana.


Keesokan harinya Wisang Geni pun menemui sang raja dan ingin segera menyelesaikan permintaan sang raja, hari ini dia akan memperlihatkan kemampuan terbaiknya dalam hal prmnempaan senjata. Bukan ingin sombong tapi semata-mata karna dia juga harus segera melaksanakan tugas dari gurunya juga.


Wisang Geni sudah berada pada tempat penempaan senjata, raja Hadi Wijaya dan patih Sastro serta patih muda Wiryo Sangkolo juga hadir disana. Wisang Geni segera melakukan proses penempaan.


Semua mata memandang dengan perasaan tegang begitu juga Pitaloka yang ikut melihat proses pembuatan senjata tersebut. Geni menggunaka metode yang gurunya ajarkan, serta dia menggunakan batu lintang sebagai bahan penempaan nya.


Wisang Geni belum pernah menggunakan batu bintang sebelumnya. Dia menggunakan tersebut menurut insting serta perkiraan yang di miliki. Proses penempaan pedang yang dia dapat dari kerajaan Mataram sebelumnya memang cukup sulit karna bahan yang digunakan merupakan biji besi dengan kwalitas bagus.


Hari menjelang sore senjata buatan Wisang Geni sudah jadi, dia kaget mengapa pedangnya menjadi seperti ini. Tapi ekspresi kaget tidak nampak pada raut wajahnya. Tapi beda dengan raja Hadi dan yang lainnya, mereka semua tampak terkejut dengan hasil pedang buatan pemuda ini.


Sebuah pedang dengan tampilan yang begitu elegan serta nuansa tajam yang bikin bulu kuduk berdiri, pedang tersebut seperti pedang pusaka yang penuh dengan nuansa magis yang kuat, Pedang dengan bilah yang berwarna merah membara.


"Ini paduka raja, hamba telah menyelesaikannya, dan saya harap paduka raja menyukainya" Ucap Wisang Geni sambil menyerahkan pedang buatannya. Wisang Geni yakin pedang ini adalah senjata yang kuat dan ampuh karna bahan yang dipakai cukup bagus.


"Apa aku boleh mencobanya" Tanya raja Hadi sambil memegang pedang tersebut.


"Mohon paduka coba di luar ruang agar dapat memastikan ke ampuhan pedang ini, dan satu lagi mohon paduka salurkan tenaga pada pedang ini" Pinta Geni pada raja Hadi.


Raja Hadi dengan penuh semangat berjalan keluar tempat penempaan tersebut. Berada di pelataran yang tak jauh dari tempat tersebut raja Hadi telah bersiap menguji pedang yang di pegangnya. Sesuai dengan instruksi Wisang Geni raja pun menyalurkan tenaga dalam pada pedang tersebut.


Semua mata langsung terbelalak kaget, tak terkecuali Raja Hadi Wijaya. Setelah pedang mendapat aliran tenaga dalam, warna merahnya lebih bersinar bahkan tampak seperti diselimuti kobaran api berwarna merah ke emasan. Raja Hadi mencoba mengunakan pedang tersebut, dengan jurus yang biasa dia gunakan untuk latihan.


Kali ini bahkan lebih mengejutkan lagi, setiap tebasan yang Raja lakukan dalam jarak 10 meter benda yang terkena hawa dari pedang ini terpotong bahkan kalau terbentur batu atau benda keras akan terjadi ledakan. Bahkan dari jarak yang cukup jauh pedang ini dapat menghancurkan benda yang dia lewati hanya dengan auranya saja.


"Ha... Ha... Ha... Bagus... Bagus... Geni kau mau beri nama apa pedang ini?" Tanya sang Raja pada pemuda yang tampak dingin dan tanpa expresi itu.


"Pedang tersebut milik paduka, hamba berharap paduka yang memberi nama" Jawab Geni singkat.


Raja pun berfikir sejenak sembari menyaruntkan kembali pedang tersebut.


"Pedang ini akan Aku beri nama...Pedang jiwa membara" Ucap sang raja sambil mengangkat pedang yang baru saja dia beri nama.