SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
WASIAT DAN HARTA WARISAN



Cahaya merah di ufuk timur mulai tampak,kicau burung mulai bersahutan,tanda mentari akan mulai muncul. Tampak seorang kakek duduk di depan gubuk kecil,Menunggu seseorang yang akan keluar dari gubuk itu. Dia adalah Resi tomo,duduk dengan tenang Menunggu sang murid.


"Murid ku...sebelum kau pergi guru akan menyerahkan barang-barang ini padamu..." Sambil menyerahkan buntelan serta sebuah pedang pada sang murid.


" Barang apa guru...?"tanya wisang geni singkat. Dalam hati wisang geni ada rasa tidak enak waktu melihat barang-barang itu.


"Ini adalah pedang yang selama ini menemaniku,padang pusaka keluargaku,dan akan ku wariskan padamu,karena aku tak membutuhkannya lagi..."ucap Resi tomo.


" Tapi guru...???" Ucap wisang geni tak terselesaikan.


" Dengar murid ku...belum tentu di Nihon sana masih ada keluarga ku maka pedang itu kuwariskan kepadamu,Dan jika kau Bertemu keluargaku disana tolong kau berikan kitab ini..."pinta Resi tomo sambil menyerah kan dua kitab yang sudah usang.


"Kitab apa ini guru...?"tanya wisang geni heran karena tulisannya dia tidak tahu .


" Kitab ini kamu sudah menghalnya murid ku...kitab ini adalah kitab dewata dan kitab pedang dewa yama" terang sang guru pada muridnya.kitab dewata merupakan jurus ilmu silat tangan kosong,sedang kitab pedang dewa yama adalah kitab ilmu pedang yang selama ini dipelajari wisang geni.


*Kitab dewata:


- jurus langkah kilat


- jurus halilintar


- jurus tubuh dewata


- jurus jiwa suci.


*Kitab pedang dewa yama:


- jurus pedang kilat.


- jurus pedang hujan musim seni.


- Jurus pedang tarian dewata.


- jurus pedang dewe yama.


"Kenakanlah ini...agar wajah mu tersamar"perintah sang guru menyerahkan samaran wajah yang hanya menutup sebagian wajahnya,sepintas wajah wisang geni seperti lebih tua.


Wisang geni tampak kaget atas usul gurunya,Tapi dia tidak berani membantah. Wajah Wisang geni lebih aneh,karena sebelah sisi tampak lebih tua...


" Guru dengan wajah seperti ini ....apa nanti ada yang mau menikah dengan ku" protes wisang geni tampak tidak setuju.


"Bodoh dengan begitu kau akan menemukan gadis yang benar-benar tulus mencintai mu...dan yang pasti akan akan menyamarkan identitas mu..." Ucap sang guru sambil tertawa cekikikan.


Sembari merangkul wisang geni Resi tomo berbisik," gadis Nihon cantik-cantik..."


"Mana ada wanita mau dengan ku dengan tampang seperti ini ... Dasar guru mesum..." Gerutu wisang geni sambil menutup muka.


Pletok...bunyi kepala wisang geni yang kena jitak sang guru.


" Murid sialan...berani-berani menghina guru mu..."


" Maaf guru bercanda ....." Balas sang murid.....


Kebersamaan selama 4 tahun membuat mereka lebih akrab layaknya kakek dan cucunya.


"Geni pakailah ini..."sambil memberikan gelang bermotif naga pada muridnya.


"Apalagi ini guru...?tanya wisang geni heran


"Itu gelang ruang naga...kau teteskan sedikit darahmu,dan priksa dengan kekuatan batin mu isi didalamnya..." Perintah sang guru.


Tidak Menunggu lama wisang langsung mengikuti perintah sang guru.


"I..i..ini,,,guru...???terkejut seketika waktu wisang geni tahu isi gelang tersebut,terdapat ruang yang luasnya 10 x 10 langkah(meter). Isi dari ruang itu lebih membuat wisang geni terkejut lagi,dimana dalam ruangan itu terdapat ratusan peti yang isi nya mata uang dari berbagai kupang(alat bayar zaman dulu/uang),dan beberapa senjata. Wisang geni tidak dapat berkata-kata melihat apa yang diberikan sang guru padanya.


"Dulu Guru mu ini bukan pendekar yang baik murid ku...yang Nihon itu semua guru dapat dari rampasan klan serta para pendekar yang pernah ku kalah kan , dan kupang-nusantara itu ku temukan saat menjelajahi gunung Tidar ini,aku tak Tahu dari mana awalnya,kupang-kupang itu di gua dalam hutan ini...mungkin harta simpanan kerajaan zaman dulu..." Ungkap Resi tomo.


" Pergunakan uang itu untuk membantu sesama..." Pinta sang guru pada wisang seni.


" Ingat wasiat ku geni...kalau kau Bertemu klan guru di Nihon kau serah kan kedua kitab itu,,,dan tunjukan pendang kematian pada mereka...serta sampaikan bahwa kau lah yang mewarisi nya,dan satu hal lagi ...sembunyikan kekuatan mu jika kau melaksanakan pertarungan dengan begitu musuh-musuh akan meremehkanmu,ketika menyerang berikan mereka kejutan dengan begitu kemungkinan kau memenangkan pertandingan pasti lebih besar..." lanjut sang guru.


" Baik guru...murid akan ingat semua pesan dan amanat yang guru berikan pada ku...maafkan murid yang tidak berbakti ini guru..." Sambil sujud wisang geni memberikan hormat pada sang guru.


"Sudah-sudah...cepat berdiri matahari hampir diatas kepala...cepat kau mulai perjalanan mu...mumpung belum malam" perintah sang guru. Walau sang Resi sudah menjadi pertapa tetap saja seperti merasakan sedit kesedihan atas kepergian murid satu-satunya ini.


" Maaf guru....murid akan berangkat..." Sambil berdiri wisang geni menghapus titik air mata yang keluar,,,perasaannya sedih karena harus meninggalkan guru yang selama ini merawat dan mengajarkan berbagai hal padanya.dengan langkah perlahan wisang geni meninggalkan gunung Tidar,sembari melambaikan tangan mengucap salam perpisahan dengan gurunya.


" Guru ...sepulang dari Nihon aku akan mengunjungi mu..."


" Ada pertemuan pasti ada perpisahan ..." Ucap sang Resi lirih sambil duduk didepan gubuk tua...


"Semoga dewata melindungi mu muridku ..." Doa guru sambil menatap birunya langit.


Wisang geni berjalan dengan santai,karena di ingin menikmati indahnya panorama alam. Sambil membayangkan betapa kayanya dirinya saat ini. Kekayaannya saat ini mungkin setara dengan harta yang dimiliki sebuah kerajaan bahkan lebih. Namun bayangan itu semua terpupus ketika ingat pesan guru...gunakan harta membatu sesama.


Sudah merupakan anugerah dia dapat hidup sampai saat ini.


" Harta ini pasti akan aku gunakan untuk membantu sesama guru..." Bisik nya dalam hati...


Perjalanan dari puncak gunung Tidar memakan waktu 3 hari jika harus memasuki pemukiman penduduk terdekat. Wisang geni berjalan seperti penduduk pada umumnya dan dia telah menyembunyikan kekuatan sebenarnya. Dengan begini dia pasti akan lebih mudah mencari informasi di kemudian hari.



Dalam perjalanan itu, fikiran tidak fokus...mengingat orang tua di kampung,nasib saudara-saudaranya dan kejadian pembantaian 4 tahun lalu.


Hari menjelang sore,wisang geni pun mulai cari tempat istirahat.


Selepas mandi dia melihat bayangannya di air sungai,,, " aih... Topeng ini buruk sekali...tapi biarlah, nanti kalau sampai pemukiman penduduk aku beli topeng.


Yang pasti topeng ini aku tutupi dengan topeng lain lagi,biar orang tidak takut dengan wajah ku" batin wisang geni sembari memakai topeng nya lagi. Wisang geni memilih pohon dengan dahan yang lumayan besar dan cukup tinggi untuk istirahat ya,ini dimaksudkan menghindarkan dari binatang buas. Semilir angin malam menghantarkan nya hanyut dalam belaian mimpi...