
"Apa ada yang mau dengan orang jelek seperti kalian" Ucap Macan Loreng dengan bercanda di ikuti yang lainnya.
Pitaloka sudah bisa menerima mereka sebagai bawahan dari Wisang Geni, tak ada yang perlu dia takutkan, karna 7 orang ini berada di bawah kemampuan Wisang Geni.
"Ternyata Macan Lembah dan Macan Gunung lebih pantas ku panggil kakang dari pada paman" Ucap Geni pada kedua orang tersebut. Sontak kedua laki-laki ini tampak malu dan sedikit bangga dengan panggilan tersebut.
Mereka ber tujuh pun kaget, panggilan kakang Wisang Geni menandakan usia orang ini pasti lebih muda batin mereka.
"Kalau boleh tahu berapa usia Tuan" Tanya Macan Kumbang pada Geni mewakili mereka.
"Usia ku baru 20 hampir 21 tahun paman, sedang istriku 20 tahun" Jawab Geni dengan biasa saja.
Sontak rahang mereka seakan amau jatuh mendengar orang yang ada di depan mereka baru 21 tahun. Di usia yang begitu muda ketrampilan bertarung pemuda ini sangat hebat.
"A... Apa yang kami dengar tidak salah Tuan" Ucap Macan putih dengan terkejut.
"Kalau istri saya semuda itu apa dia mau dengan pria tua" Jawab Geni diperkuat dengan adanya gadis cantik di sampingnya. Mereka merasa percuma latihan selama ini, di usia yang masih begitu muda Tuan mereka bahkan hampir sebanding dengan seorang Resi.
"Tuan... Apa kelak kami boleh menimba ilmu dari tuan?" Ucap Macan Hitam pada Wisang Geni.
"Boleh paman, asal paman kembali ke jalan yang benar, serta menggunakan kemampuan bukan untuk menindas orang-orang lemah" Ucap Wisang Geni dengan muka serius.
"Trimakasih tuan" Ucap Macan kumbang sambil berlutut di ikuti saudara yang lain. Ucapan trimakasih ini bukan hanya untuk ilmu yang akan diajarka Wisang Geni pada mereka tapi juga menerima mereka yang mantan bajak laut, serta akan membawa mereka menuju jalan kebenaran yang selama ini tidak pernah mereka pikirkan bahkan dalam mimpi pun.
"Sudah paman tak usah seperti itu" Ucap Geni membangunkan mereka dari sujudnya.
"Sekarang kita berpikir bagaimana perjalanan menuju semarang, istri ku masih belum pulih" Ucap Geni sambil berpikir.
"Masalah ke Semarang gampang Tuan, kita bisa menggunakan perahu ini" Ucap Macam tutul pad Geni.
"Benar juga kenapa tidak terpikirkan olehku" Ucap Geni yang baru sadar bahwa ke tujuh anak buah barunya merupakan bajak laut.
Kali ini mereka ke Semarang menggunakan perahu yang awalnya di gunakan Macan Kumbang dan saudaranya sebagai alat untuk merampok, tampilan kapal sudah tidak begitu baik walau dalamnya tertata rapi. Kali ini perjalanan lebih cepat karna rute tak perlu memutar.
"Sebenarny kemana tujuan Tuan" Tanya Macan Kumbang pada Wisang Geni yang duduk di depan prahu yang sedang berlayar tersebut.
" Aku ingin ke Mataram paman" Jawab singkat Wisang Geni sambil memikirkan sesuatu.
"Kami akan tetap bersama Tuan, tapi apa Tuan sudah mendengar tentang kerajaan tersebut? Tanya kumbang pada Wisang Geni. Pemuda ini hanya mengangguk.
" Paman aku harap sebutan Macan pada kalian dihilangkan saja, karna terkesan kurang enak, bagai mana kalau aku panggil bagian belakangnya saja" Usul Geni pada mereka semua. Akhirnya kelompok ini setuju, lebih enak didengar jika tanpa embel-embel Macan.
"Paman dan kakang sekalian aku juga sudah memikirkan nama untuk kalian" Ucap Geni dengan serius.
"Apa itu Tuan" Tanya mereka serempak.
"Akan aku beri nama kelompok ini 7 Macan Gunung Tidar" Ucap Geni.
"Tapi kami bukan berasal dari sana tuan, apa Tuan berasal dari Gunung Tidar?" Tanya Kumbang pada Tuannya.
"Benar paman, dan kelak paman serta kakang harus mau belajar pada guruku di Gunung Tidar" Ucap Geni dengan nada serius.
"Maaf tuan kalau kami lancang, kami belum mengenal tuan dan nyonya muda" Ucap paman Kumbang pada Wisang Geni.
Sontak Pitaloka yang berada dalam bilik yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Aku sudah mengenal paman serta kakang malah aku lupa perkenalan diri pada kalian. Aku Wisang Geni, dan istri ku Pitaloka" Jawab Wisang Geni pada mereka.
Kapal pun melaju dengan cepat, karna penumpang sedikit serta angin cukup bagus,
"Kira-kira kapan kita sampai paman" Tanya Geni pada paman hitam yang memang juru mudi kapal tersebut.
"Kalau tidak ada kendala sore kita sudah bisa bersandar tuan" Ucap paman Hitam pada Geni.
Dalam perjalanan menuju semarang kali ini memang tidak ada kendala sedikit pun, hari sudah siang matahari sudah berada di atas kepala mereka. Sudah lebih dari setengah jalan dari awal mereka berangkat.
Wisang Geni mencoba mengobati kaki gadis ini di dalam bilik.
"Aduh... Ah... Kakang sakit," Desah lirih Pitaloka menahan sakit pada kakinya,
"Kenapa teriakan mu seperti itu" Protes Geni yang mendengar ******* gadis tersebut.
"Sakit tahu kang," Bela Pitaloka tak mau disalahkan.
Kaki gadis ini telah pulih namun nyeri masih terasa.
Perjalanan sudah hampir sampai. Matahari baru mau condong ke barat, perjalanan lebih cepat dari yang telah mereka perkirakan. Ke tujuh orang ini menyandarkan perahu mereka di sebelah kapal yang begitu besar dan indah. Kapal ini adalah kapal kenangan antara Pitaloka dan Wisang Geni.
"Kakang lihat kapal ini, kalau kita bisa punya kapal seperti ini pasti kita bisa pergi kemana pun yang kita mau" Ucap kagum dari kakang Lembah.
Mereka bertujuh kagum dengan kapal yang mereka lihat.
"Trimakasih paman" Ucap kakang Gunung pada penjaga Penjaga pelabuhan tanjung mas sambil melempar kupang perak untuk biaya bantuannya.
Setelah kapal sandar dari bilik keluar sepasang muda-mudi.
"Selamat siang paman, bagai mana keadaan paman?" Tanya Wisang Geni pada paman Waryo.
"Oh... Ternyata nak Geni," Mari nak Geni mampir dulu, sambil mempersilahkan Wisang Geni dan Pitaloka untuk mampir di tempat dia biasa bersantai melepas lelah.
Geni dan Pitaloka mampir serta menikmati hidangan ala kadarnya dari paman Waryo. Tentunya tujuh orang pun ikut bersama tuannya.
"Nak Geni siapa tujuh orang gagah ini" Tanya paman Wiryo pada pemuda di depannya.
"Mereka adalah saudara seperguruanku paman." Jawab Geni memperkenalkan bawahannya.
Dua orang ini pun telibat percakapan masalah pembangunan penginapan, tentunya tujuh orang tersebut tak mengetahui dan tak ambil pusing,
" nanti kami akan ke ke kediaman paman paman Bejo" Ucap Geni pada paman Waryo.
Ternyata paman Waryo membatu pembuatan penginapan yang akan dibangun. Waryo ditunjuk oleh paman Bejo menjadi arsitek serta memilih bahan yang digunakan. Dia masih tetap bekerja di pelabuhan karna pembangunan belum siap karna bahan baru di cari. Geni bermaksud mengunjungi paman Bejo dan keluarga, sekalian melihat apa ada kendala dalam proses pembangunan penginapan yang dia inginkan.