
Nama pedang tersebut diberikan pada raja Hadi karna pembuat pedang tersebut masih mempunyai jiwa muda yang membara. Selesai acara tersebut tidak ada kegiatan lagi karna matahari telah condong ke barat.
Sebelum kembali ke tempat istirahat raja Hadi menemui Geni yang sedang kelelahan. t# satu hal yang perlu kau tahu, aku juga ingin ikut berjuang memperebutkan mataram" Ucap raja Hadi sambil berlalu dari hadapan Wisang Geni.
"Kakang...tahu pedang buatan kakang begitu hebat harus nya kau berikan pada ku" Sapa Pitaloka menghampiri pemuda tersebut.
"Kekuatan pedang itu begitu hebat, harus bijak menggunakannya, kalau di tangan mu pasti akan jadi kacau, ditambah lagi dengan kemampuan mu saat ini sulit untuk mempertahan pedang itu" Jawab Geni panjang lebar.
"Kalau begitu kelak kakang hurus buatkan aku pedang seperti punya paman Hadi, bahkan harus lebih hebat" Pinta gadis tersebut dengan nada sedikit memaksa sembari menggandeng tangan Wisang Geni.
"Gadis ini... Pasti keinginannya harus dipenuhi" Batin Wisang Geni mengikuti sang gadis. Sesampainya di keraton Wisang Geni sedikit lega karna raja Hadi mengabulkan permintaannya. Dalam hati pemuda ini berharap apa yang telah di rencanakan dapat berjalan dengan mulus.
\* \* \* \* \* \* \*
DESA DAUN HIJAU
Di daerah kekuasaan Mataram, tepatnya di desa Daun Hijau sang raja Cokro sudah sampai pada tempat yang dimaksud oleh anak angkatnya. Dia bertanya pada penduduk yang sedang memancing di pinggiran Kali Gede(sungai besar)
"Kisanak boleh orang tua ini bertanya,benar disini desa Daun Hijau, Lalu dimana rumah nak Wisang Geni?" Tanya raja Cokro pada pemuda yang sedang sibuk memasang umpan pada joran pancing nya. Pemuda ini adalah salah satu anggota pasukan Jogo Boyo yang di bentuk Wisang Geni. Pemuda tersebut tidak langsung menjawab melainkan memperhatikan dengan teliti lelaki paruh baya yang bertanya pada dirinya.
"Benar dan apa tujuan paman ke desa ini" Pemuda ini tidak langsung menjawab pertanyaan dari raja Cokro, kini giliran pemuda tersebut bertanya pada rombongan sang raja.
Raja Cokro tahu kenapa pemuda ini berlaku tidak begitu sopan pada orang asing, alasannya jelas karna Mataram dalam keadaan kacau, setiap penduduk pasti waspada dengan kedatangan orang asing.
"Aku adalah ayah dari Wisang Geni" Ucap sang raja sembari menyerahkan pengenal berupa tanda keanggotaan pasukan Jogo Boyo. Pemuda yang sedang memancing itu jelas mengenali tanda pengenal tersebut.
Sebuah lencana dari Emas, tanda pengenal pimpinan pasukan Jogo Boyo. Mengetahui lencana tersebut sang pemuda langsung berubah sikapnya.
"Apa benar paman adalah ayah dari tuan Wisang Geni?" Tanya pemuda tersebut dengan sopan, tidak seperti awal perjumpaan tadi.
"Kedatangan ku kesini atas permintaan Wisang Geni, tanpa petunjuk darinya(Wisang Geni) mana mungkin aku tahu tempat ini. Pemuda tersebut langsung mengembalikan tanda pengenal yang tadi di periksa olehnya.
" Baik Tuan besar, silahkan ikut hamba" Ajak pemuda itu, pemuda ini tidak begitu banyak bicara, dia juga tidak langsung mengajak ke rumah Wisang Geni melainkan menuju rumah paman Marlan. Semua tamu dari luar wajib bertemu penguasa desa ini, mereka menganggap paman Marlan adalah wakil dari Wisang Geni, hal ini karna paman Marlan lah yang di beri tanggung jawab untuk mengatur perekonomian oleh Wisang Geni.
"Tuan besar... Tuan sangat beruntung punya anak seperti raja kecil(Wisang Geni) dia sungguh baik dan perlu tuan besar tahu kemajuan desa ini tidak lepas dari peran dari anak tuan besar, dan kami warga desa daun hijau sudah menganggap aden Geni sebagai raja kecil kami" Jelas Paman Marlan pada raja Cokro.
Raja Cokro Wicaksono penasaran dengan sepak terjang yang dilakukan Wisang Geni.
"Marlan tolong ceritakan apa saja yang dilakukan bocah nakal itu?" Pinta raja Cokro yang penasaran dengan cerita Marlan.
"Mari tuan besar aku ceritakan sambil menuju rumah aden Geni" Ucap paman Marlan sambil menunjukan rumah tempat Wisang Geni.
"Jadi saya akan cerita dari awal bertemu dengan aden Wisang Geni, kami bertemu sewaktu saya mencari rumput di pinggir hutan.....
Jadi begitu, semua yang dilakukan memang sangat membantu kami tuan besar" Akhirnya paman Marlan menceritakan semua tentang Wisang Geni tanpa ada yang ditutupi.
Raja Cokro terkejut dengan apa yang dilakukan pemuda ini, tak terkecuali permaisuri, pangeran dan kedua pengawal raja Cokro, Mantang serta Markum. Mereka sampai tak mampu berkata apa-apa. Dengan kisah Wisang Geni perjalanan yang tak begitu jauh pun telah sampai pada rumah yang dimaksud.
Kembali kejutan ada di depan rombongan raja Cokro, kali ini mereka terkejut dengan bangunan yang awalnya di sebut gubuk oleh Wisang Geni. Telihat 8 buah rumah yang di kelilingi pagar laksana keraton Kadipaten, bahkan mungkin lebih baik dari itu. Penjaga yang melihat paman Marlan serta rombongan raja Cokro langsung menaruh hormat, karna informasi tentang raja Cokro sudah disampai kan pemuda yang sedang memancing tadi.
Pemuda yang menemui raja Cokro merupakan wakil dari pada kepala keamanan pasukan Jogo Boyo. Pemuda ini pernah ditolong Wisang Geni karna tergigit ular pada waktu pembangunan rumah ini dia adalah Parno.
"Mereka adalah pasukan penjaga desa ini tuan Besar, mereka ahli beladiri dan mampu menghilang di kegelapan malam" Terang paman Marlan pada raja Cokro.
"Apakah benar itu Marlan? Tanya raja Cokro yang semakin penasaran.
" Benar tuan besar, besok akan saya tunjukkan kemampuan pasukan jogo boyo pada tuan besar, untuk saat ini lebih baik tuan besar beserta nyonya istirahat dulu biar nanti saya perintahkan menyiapkan kamar"terang paman Marlan pada rombongan tersebut.
Banyak pikiran yang bergelayut pada kepala mereka(rombongan raja Cokro), bahkan desa ini punya pasukan pelindung mirip dengan sebuah istana raja, dan jika yang diceritakan Marlan benar maka pasukan jogo boyo ini bisa dikatakan lebih hebat dari prajurit utama kerajaan Mataram.
"Ayahanda memang tidak salah aku memilih Geni sebagai saudara angkat, tapi kenapa dia mempersiapkan ini semua? Apa jangan-jangan?!" Ucapa pangeran terhenti dan tidak terselesaikan.
"Sudah... Aku tak mau berfikir yang bukan-bukan, kita tunggu Geni kembali baru semua akan jelas" Ucap sang raja memotong ucapan putra mahkotanya.
Raja sebenarnya punya pikiran yang sama dengan putra nya, tapi dia tidak mau menuduh hal-hal yang kurang begitu jelas.