
Mengetahui yang datang Wisang Geni, paman Mantang dan paman Markum langsung memberitahukan kepada yang lainnya.
" Itu aden Wisang Geni " Ucap lirih dari atas pohon dimana paman Markum bersembunyi, walaupun lirih tapi ucapan tersebut dapat terdengar jelas oleh semua orang yang berada di situ.
Diah Pitaloka langsung keluar dari persembunyiannya. Gadis ini yang melihat Wisang Geni berjalan, gadis ini langsung berlari menghampiri sang pemuda, ingin rasa gadis ini memeluk Wisang Geni tapi dia malu, dia langsung menggandeng tangan pemuda yang memang sangat dia rindukan ini.
" Kenapa kakang lama sekali, kita disini menghawatirkan keselamatan kang Geni" Ucap gadis ini dengan tampang yang ceria. Dia tak menyadari bahwa tepat dibelakang Wisang Geni ada seseorang.
"Dasar anak nakal... Bukan menyambut ayah malah asik bermesraan... " Celoteh raja Cokro dengan sedikit keras, dia tidak marah hanya ingin menggoda sang putri.
Mendengar suara yang tak asing sontak mereka semua terkejut kecuali Wisang Geni.
"Ayahanda... "
"Yang mulia"
"Kakang Cokro"
Teriak ke lima orang hampir bersamaan, Matang dan Marku berlutut di depan sang raja, sedang ke tiga orang lain langsung berlari memeluk pemilik suara tersebut.
Sungguh pertemuan yang mengharukan, Wisang Geni memberi kan ruang yang cukup untuk melepas rindu keluarga ini. Pemuda ini langsung menuju tempat Markum dan Mantang lalu mereka bertiga membuatkan minuman hangat untuk sang raja.
Sembari menikmati minuman hangat dan makanan seadanya mereka menceritakan perjalanan masing-masing tak terkecualiĀ Diah Pitaloka. Wisang Geni hanya mendengarkan tanpa komentar sama sekali karna dia telah mendengar sebelum mereka.
Paman Markum dan Mantang pamit untuk berjaga, kini tinggal mereka berlima yang berada dalam goa tersebut.
"Jadi sekarang aku punya 3 anak, 2 putra gagah dan hebat 1 laki gadis manja yang bandel." Ucap raja sambil tertawa.
"Ach...ayahanda pilih kasih kenapa aku disebut bandel dan manja, sedang mereka tidak?!" Protes Diah Pitaloka sambil menunjuk pada dua pemuda yang berada di depannya.
"Benar suami ku kau punya 3 anak, tapi 1 nya anak mantu" tegas permaisuri pada raja Cokro Kusumo.
"Uhuk...uhuk..."Sontak Wisang Geni yang minum teh pun tersendak batuk mendengar ucapan permaisuri.
"Kakang minumnya pelan-pelan saja..." Ucap Diah Pitaloka yang lansung berdiri mendekat Wisang Geni sambil menepuk-nepuk punggung pemuda tersebut. Wajah Pitaloka pun memerah layak seperti udang rebus, di menutupi malu dengan tidakan menepuk-nepuk punggung Geni serta menyembunyikan wajah merahnya di balik punggung pemuda tersebut.
"Itu aku yang diangkat jadi adik oleh kakang Gesang yang mulia...maksudku ayah" jawab Wisang Geni sekenanya dia bingung harus berkata apa,gugup malu semua bercampur jadi satu. Jawaban Geni tidak sedikit pun menjawab pernyataan permaisuri.
"Lalu kapan kalian menikah?Aku sudah tak sabar untuk menimang cucu." Pertanyaan yang langsung membuat Pitaloka semakin menyembunyikan wajah di balik punggung pemuda tersebut.
"Itu...Aku...maaf ayah untuk saat ini aku hanya berfikir bagai mana kekuasaan Mataram kembali pada ayah." Jawaban yang terlalu dipaksakan, tak dapat di pungkiri Wisang Geni bingung harus berkata apa.
Bahkan raja sendiri pun sudah pasrah dengan keadaannya, dan memang raja Cokro Kusumo dari awal tidak punya ambisi untuk menjadi raja, hanya saja keadaan yang mengharus kan beliau jadi raja. Raja Cokro lah yang menjadi putra mahkota atau putra dari permaisuri raja terdahulu.
"Kita istirahat dulu...besok baru bicara lagi" raja Cokro menyudahi bercanda malam ini. Beliau tak ingin suasana yang ceria ini berubah menjadi bahasan yang menegangkan. Permaisuri pun tahu apa yang di pikirkan oleh suaminya, dan langsung menyiapkan tempat istirahat untuk raja Cokro.
"Masalah ini semakin rumit"batin Wisang Geni, dia tetap duduk di tempat semula sembari menyaksikan raja dan permaisuri pergi menuju tempat istirahat mereka.
"Kenapa kau masih bersembunyi di balik punggung." Tegur Wisang Geni pada Pitaloka yang masih diam melamun di belakangnya. Akhirnya Diah Pitaloka pun duduk di depan pemuda tersebut.
"Kakang...Kenapa kakang tak menjawab pertanyaan ayah?" Tanya Pitaloka yang memang mengharapkan jawaban dari Geni tentang pernikahan yang dilontarkan sang raja.
"Kau ini, kerajaan dalam masalah kau malah berpikir aneh-aneh.aku ini sekarang jadi kakakmu" jawab Wisang Geni yang memang tak dapat disangkal oleh Diah Pitaloka.
"Sudahlah kau tidur sana, aku lelah ingin istirahat" pinta Geni pada gadis yang ada didepannya.
"Apa kakang ku yang gagah ini tak ingin tidur berbantal paha ku lagi?" Goda Pitaloka.
"Boleh..." jawab singkat Geni ganti menggoda Pitaloka.
"Dasar mesum...sana paha paman Markum" jawab Pitaloka meninggalkan Geni sendiri.
Malam itu mereka beristirahat di tempat masing-masing. Walau dalam 1 goa tempat sudah terbagi jadi beberapa bagian walau tanpa sekat. Mereka hanyut dalam buaian mimpi masing-masing, yang jelas mereka semua dalam keadaan yang lelah.
Pagi ini semua kembali melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Hari ini Wisang Geni bangun paling akhir,tak seperti biasanya pemuda ini bangun sesiang ini.
"Dasar pemalas...cepat bangun dan mandi, kakang bau" celoteh Pitaloka yang berdiri sambil tolak pinggang,seperti ibu yang sedang membangunkan anaknya.
"Kenapa harus teriak-teriak, aku tidak tuli" jawab Geni sembari bangun dengan malas dari tempat dimana dia tidur.
"Cepat mandi biar aku cuci baju kakang" kata Pitaloka dengan posisi yang tak berubah. Semua yang mendengar ucapan ini terkaget.
Permaisuri serta raja sampai bengong mendengar ucapan anak gadis mereka. Pitaloka biasanya paling malas dengan kegiatan mencuci, gadis ini lebih senang berlatih silat dari pada melakukan pekerjaan seperti halnya anak gadis pada umumnya.
"Ach...Aku sudah biasa cuci baju sendiri, tak usah teriak-teriak" jawab Geni berjalan menuju sungai yang berada tepat di depan goa tersebut.
Setelah semua selesai makan pagi, mereka berkumpul untuk membahas rencana selanjutnya. Karna misi yang dijalankan Wisang Geni telah berhasil maka sang raja berencana akan pergi menuju Pajang.
Bukan maksud raja meminta bantuan untuk merebut kerajaan melainkan agar raja Pajang bersedia menampung kehidupan mereka sementara waktu. Raja Cokro ingin menjadi rakyat biasa, beliau lebih senang dengan kehidupan yang damai. Raja Cokro dan keluarga sudah menerima nasib mereka.
Tapi memang tak bisa dipungkiri batin sang raja masih kawatir jika Kakang tiri nya akan mengalah gunakan kekuasaan, apalagi ambisi ko Ageng Gumilar ingin menguasai tanah jawa ini.