SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KEKUATAN TAMBAHAN



Keadaan tersebut tidak lepas dari pengamatan para prajurit yang di bawa oleh Karno, melihat keadaan tersebut sontak para prajurit mataram langsung mengeluarkan senjata yang mereka bawa.


"Tak perlu begitu arogan, apa kalian tidak melihat sekeliling? " Tanya paman tua tersebut sembari menunjuk pada setiap sudut pohon dan tebing yang telah di siapkan para pemanah handal.


Tentu hal ini membuat mental prajurit sontak melemah, seberapa hebat mereka pasti akan kalah, ditambah pasti banyak perangkap yang telah di siapkan dalam desa ini batin hampir seluruh prajurit.


Entah dari mana datang nya dua orang pemuda yang usianya tidak terpaut jauh dari Karno langsung menyerang nya. Ayunan pedang serta tombak pun mulai beradu.


"Dasar penghianat, mati kalian... " Ucap pemuda yang wajahnya mirip langsung menyerang Karno dengan membabi-buta.


Mendapat serangan yang mendadak Karno langsung melompat ke belakang sembari melepaskan balasan.


Para prajurit yang melihat hal tersebut pun bersiap- akan membantu, Mereka terhenti setelah mendengar ucapan tegas dari Karno.


"Tahan serangan... Kami adalah Sekutu" Ucap Karno dengan keras sambil menghindari serangan yang kian ganas. Kedua pemuda tersebut tidak menanggapi ucapan tersebut, bahkan mereka menyerang lebih ganas.


Lain halnya dengan Raja pajang yang memang sedang menunggu kabar dari wisang Geni, beliau jelas harus lebih teliti dan tidak bertindak ceroboh karna dapat merugikan mereka sendiri dilain waktu.


Melihat Karno sudah mulai terdesak oleh kedua pemuda tersebut Raja Hadi pun sedikit bangga dengan kedua calon patih muda nya yang hebat.


"Apa kakang mengenal pemimpin mereka itu? " Ucap raja Hadi yang menyaksikan dari atas ketinggian pada raja Cokro yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.


"Iya... Dia adalah patih muda andalan kerjaan Mataram, apa dia sekarang telah menjadi antek-antek(bawahan/Sekutu) kakang Ageng?" Ucap raja Cokro sambil mengelus jengot tipis nya.


Karno hanya bisa berkelit dan menghindar dari serangan saudara kembar yang kian menggila. Nampak jelas pemuda itu hanya menghindar dan sesekali membalas walau tidak pada tempat vital dari kedua saudara kembar. Kejadian ini tidak lepas dari pengamatan raja Cokro dan raja Hadi, kedua raja ini pun sempat mendengar ucapan pemuda yang mereka kepung adalah Sekutu. Seketika raja Hadi mengambil tindakan tegas ingin menyelesaikan ini dengan cepat.


"Kalian berdua mundurlah...!" Ucap raja Hadi Sembari menyerang melepas pukulan dengan tenaga dala dari tempat yang lebih tinggi, kemunculan raja Hadi di ikuti sosok separuh baya yang penuh dengan wibawa seorang raja. Karno yang mendapat serangan tersebut terpental beberapa langkah kebelakang sambil menyetabilkan kuda-kudanya.


"Yang mulia raja...!!! " semua prajurit mataram berteriak hampir bersamaan tak terkecuali dengan Karno.


Semua prajurit mataram berlutut hormat termasuk pemuda yang baru saja bisa menyetabilkan keadaan setelah menerima serangan dari Raja Hadi, patih muda Kecik atau yang sekarang menggunakan nama samaran Karno.


"Beribu ampun paduka, hamba beserta prajurit tidak tahu kalau paduka ada disini, dan kami adalah prajurit paduka yang setia" Ucap patih Kecik yang sekarang bernama karno tersebut.


"Siapa yang kau panggil raja, aku tidak mengenali mu" Ucap raja Cokro sedikit memicingkan matanya.


"Hamba adalah patih muda Kecik yang dulu paduka raja tugaskan membantu tuan putri" Jelas kecik sambil. Membuang samaran wajahnya, kini jelas sudah para prajurit siapa sosok pemuda yang memimpin perjalanan mereka sekarang. Pemuda yang memang pernah menjadi patih muda mana kala raja Cokro masih menjadi raja mataram.


"Mohon ampun paduka kami dan pasukan masih setia kepada yang mulia raja" Ucap patih muda Kecik penuh keyakinan dengan wajah sedikit menunduk.


"Jelaskan semua dengan rinci baru kalian akan selamat" Ucap raja Hadi yang memberi peringatan pada patih muda tersebut.


"Mohon maaf tuan ini ada surat buat paduka Cokro"ucap kecik sembari memberikan selembar gulungan yang terbuat dari kain tersebut.


" BAGINDA, HANYA BANTUAN INI YANG DAPAT HAMBA BERIKAN, SELALU PERHATIKAN PUSAT MATARAM, ADA PERTANDA JANGGAL DISITU YANG MULIA HARUS SEGERA MENYERANG"


 Surat yang di tulis oleh Wisang Geni singkat dan mengandung penuh makna serta harapan baru di mata raja Cokro.


"Perlakukan para prajurit seperti saudara, mereka adalah Sekutu" Perintah raja Cokro pada prajurit pajang,raja Hadi pun tahu ini adalah bantuan yang di kirim oleh pemuda hebat tersebut (Wisang Geni), sungguh tak disangka dia dapat menarik begitu banyak pasukan Dari mataram sebagai Sekutu.


Dalam kerajaan Mataram semua berjalan seperti biasanya sudah satu pekan Raja Ageng Gumilar mengirim pasukan ke Pajang, rencana untuk menyerang Kerajaan Pajang telah di susun rapi, dan siap untuk langkah selanjutnya.


"Gilang, apa yang kau lakukan" Ucap Ki juru Sentanu melihat Geni sedang membuat sesuatu barang aneh.


" Maaf tuan, hamba sedang membuat bahan peledak yang dapat memberikan pertanda pada pasukan jika dalam keadaan darurat" Ucap Gilang dengan sopan dan masih tetap dengan kesibukannya.


Gilang pun menjelaskan bahwa jika barang ini di ledak kan maka akan menciptakan bunga api yang dapat mengabarkan bahwa kerajaan dalam keadaan bahaya, ki juru sentanu hanya manggut-manggut dia sudah tahu akan hal tersebut, tapi memang beda bentuk serta ini lebih kecil dari biasanya. Juru sentanu hanya berlalu karna tahu kemampuan bocah ini memang luar biasa.


Disamping itu Gilang juga telah menyiapkan racun yang akan dia gunakan untuk melemahkan pasukan Mataram, hal ini telah dikerjakan pasukan jogo boyo yang dia datangkan dari desa Daun Hijau, pasukan ini memiliki kemampuan menyusup yang baik serta penguasaan senjata rahasia, jadi memang pasukan jogo boyo memang tepat melaksanakan misi ini.


Seandainya bisa Wisang Geni langsung memberikan racun tersebut kepada para petinggi atau prajurit anak buah Raja Ageng Gumilar, tapi hal ini kemungkinan kecil berhasil karna disamping mereka adalah para pendekar yang cukup hebat para prajurit tersebut jarang menempati wisma yang memang di peruntukkan pada mereka. Para prajurit mantan penjahat tersebut lebih senang tidur dan mabuk-mabukan di tempat judi. Jadi hal tersebut akan lebih sulit dilaksanakan.


"Slamat malam penasehat juru sentanu, jika di ijin kan hamba ingin mencoba tanda bahaya yang pernah saya ciptakan guna melatih kesigapan prajurit dalam menanggulangi bahaya yang akan mengancam" Ucap Gilang pada ki Juru sentanu.


"Baiklah jika memang itu dirasa perlu" Ucap ki juru sentanu sambil berlalu pergi, tentunya dirinya akan melaporkan kejadian ini pada sang raja agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai tanda tersebut.


"Pemuda yang luar biasa,,, memang pantas dia aku jadikan patih muda kelak setelah penaklukan kerajaan pajang" Ucap raja Ageng Gumilar kagum pada apa yang dilakukan Gilang untuk kerajaan Mataram saat ini.


PENGUMUMAN


Salam sehat untuk kita semua, mohon maaf author jarang aktif karna kami sering tugas luar, mohon pengertiannya trimakasih dan semoga kita di beri perlindungan Tuhan yang Maha Esa, Amin.