
Sepekan telah berlalu setelah terbongkarnya keluarga Wisang Geni, kini semua persiapan pun sudah lengkap sepenuhnya.
"Paman, apa persiapan sudah selesai? Jika sudah 3 hari ke depan kita akan berangkat" Tanya Wisang Geni terhadap paman supar.
"Semua sudah siap nak Geni, cuma yang saya pikirkan dimana kita akan membuka balai obat di pusat kerajaan Mataram?" Tanya Supar sedikit bingung, pertanyaan ini bukan tanpa alasan, jika rencana berjalan maka akan di butuhkan tempat guna merawat orang yang sakit dan berobat nanti.
"Paman tidak usah kawatir, akan aku siapkan sesegera mungkin, dan ingat nanti paman mengaku adalah saudara saya, lebih tepatnya paman bukan orang asing dan masih ada hubungan darah dengan ku" Jelas Geni pada paman supar menjawab keraguan pada wajah lelaki paruh baya tersebut.
"Baik nak Geni, saya percaya nak Geni sepenuhnya" Jawab paman supar dengan yakin.
Ditempat lain terlihat dua sosok gadis sedang bersenda gurau, walau terkadang masih ada sedikit canggung diantara mereka berdua. Mereka berdua adalah Diah Pitaloka dan Diah Ayu.
"Hayo ngaku... Kamu suka kang Geni kan?" Tanya Pitaloka pada gadis di sampingnya, Pitaloka sedikit sakit hatinya mana kala mengajukan pertanyaan pada Diah Ayu.
"Mbakyu... Jangan tanya itulah, aku jadi malu" Jawab Diah Ayu dengan mimik muka memerah seperti udang rebus.
Dalam hati Pitaloka menyusun sebuah rencana bagai mana dia akan berterus terang dengan apa yang dia rasa kan tentang dia dan Wisang Geni, karna dia tidak ingin membohongi perasaan gadis yang dia anggap sebagai saudaranya ini, Pitaloka telah menilai bahwa Diah Ayu memang layak untuk dicintai, karna kebaikannya serta tingkah laku yang baik, setidaknya inilah yang dilhat serta dirasa oleh Pitaloka.
"Ayu... Apa kamu tahu tentang status kang Geni sebenarnya?" Tanya Pitaloka pada Diah Ayu.
"Tahu mbak yu, kang Geni adalah putra raja" Ucapan Diah Ayu sedikit sakit hati mana kala dia tahu status mereka beda jauh.
"Perlu kau tahu ayu, kang Geni bukan saudara kandung ku, kang Geni adalah anak angkat dari ayah dan ibu" Wajah serius tampak pada Pitaloka waktu menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Maksud mbak yu apa?" Tanya Ayu sedikit bingung, walau tampak sedikit ceria menghiasi wajahnya.
Pada akhirnya Diah Pitaloka menjelaskan semua tentang status Geni pada Diah Ayu, dia tidak ingin menyembunyikan hal-hal yang kelak dapat merusak persaudaraan dirinya dan gadis desa ini.
Semua tentang Wisang Geni dan hubungan keluarga sekarang sudah jelas, ada rasa bahagia, tapi di lain sisi Ayu juga merasa bahwa Diah Pitaloka juga menyimpan perasaan yang sama dengan Wisang Geni.
"Mbak yu... boleh aku bertanya satu hal? Apa mbak yu juga suka dengan kakang Geni? Tanya Ayu dengan wajah serius.
Bagai disambar petir pertanyaan Ayu tanpa basa-basi.
" Aku... Sebenarnya... Begini Ayu " Terlihat gugup Pitaloka menjawab pertanyaan Diah Ayu.
Diah Ayu pun menyadari kegugupan tersebut.
"Jika memang mbak yu suka dan sayang dengan kakang Geni, aku iklas mbak yu" Ucap Diah Ayu dengan mimik muka dibuat setabah mungkin.
"Jika memang kita berdua sama-sama suka pada Kang Geni, aku harap kita dapat memiliki nya bersama" Ucap Pitaloka menyimpan kepedihan dalam ucapan tersebut.
"Maksud mbak yu apa?" Ucap Diah Ayu sedikit bingung.
"Aku telah berjanji pada kang Geni, tidak akan merusak hubungan kalian, aku rela menjadi pelayan kang Geni seumur hidup, karna dari perjuangan kang Geni lah keluarga ku dapat bersatu kembali.
"Nasib kita tidak jauh beda mbak yu, mungkin benar jika kita harus memiliki kang Geni, kita dapat memilikinya bersama" Seketika Ayu mengucap demikian, dia sadar bahwasanya orang hebat seperti Wisang Geni patut mempunyai pendamping lebih dari satu wanita.
Sebenarnya Pitaloka juga ingin mengutarakan hal yang sama, tapi gadis ini lebih cepat menangkap maksud perkataannya.
"Terima kasih Ayu" Ucap Pitaloka sembari memeluk gadis tersebut.
Sekarang kecanggungan diantara mereka berdua telah hilang, kini mereka semakin akrab dalam berbagai hal seperti halnya adik dan kakak.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, persiapan mereka pun sudah matang dan siap untuk berangkat. Rombongan Wisang Geni terdiri dari keluarga paman supar. Dan rombongan kedua berangkat lewat jalur sungai, rombongan tujuh macan Tidar dan raja cokro.
Rombongan raja cokro bermaksud menjemput pasukan bantuan dari Kerajaan pajang yang di pimpin langsung oleh Raja pajang, Hadi Wijaya.
Permaisuri tinggal di desa Bambu kuning sembari menyiapkan kebutuhan yang kelak akan di butuh kan jika memang ada sesuatu yang kelak diperlukan.
Perjalanan memakan waktu dua pekan jika jalan kaki, tapi kali ini mereka menggunakan pedati kuda agar pembawaan barang-barang lebih mudah. Perjalanan tersebut hanya membutuhkan waktu satu pekan atau tujuh hari saja.
Dalam perjalanan menuju Mataram memang tidak ada kendala. Tapi disisi lain perjalanan rombongan Geni yang sudah hampir sampai tujuan terpantau oleh telik sandi( mata-mata) kerajaan Mataram.
"Berhenti Kisanak!!! Mau apa kau menuju Mataram beserta rombongan?! " Ucap salah satu penjaga wilayah tersebut, dia tidak mengenal Geni dengan tampilan yang sekarang. Wisang Geni lupa menggunakan samaran seperti waktu di kerajaan Mataram.
"Kakang apa kau lupa dengan aku?! " Ucap Geni sambil berjalan menuju kepala keamanan tersebut. Kepala penjaga tersebut adalah Kebo Edan.
"Suara ini... Kau adalah Gilang?! " Ucap Kebo Edan yang mengenali suara serta ciri fisik lain dari Geni.
"Benar kang Kebo, aku ingin menghadap raja Ageng Gumilar" Jawab Geni.
"Kau ini ada-ada saja, kenapa kau menggunakan topeng itu, buat bingung saja" Gerutu Kebo Edan sambil berbisik.
"Kang Kebo bagai mana keadaan kalian sehat? Nanti sepulang menghadap raja aku ingin latih tanding dengan kalian bertiga" Ucap Geni sambil mengganti samaran yang dia kenakan, tentunya di bersembunyi di belakang pedati yang dia kendarai.
Yang dimaksud mereka bertiga oleh Wisang Geni adalah Kebo Edan, Karno dan Sukma Aji. Mereka bertiga adalah pejuang dari kerajaan Mataram yang terdahulu, atau anak buah dari raja cokro.
"Kau membawa siapa Gilang? Ada gadis Cantik pula, apa dia kekasih mu?! " Ucap Kebo Edan menyenggol baju Gilang serta masih memperhatikan Diah Ayu.
"Oh... Mereka adalah saudara ku kang, mereka ahli pengobatan" Jawab Geni sembari mengenal kan mereka satu-persatu.
"Kang aku boleh minta bantuan kakang untuk mencari penginapan untuk mereka?" Soalnya mereka belum ada tempat " Ucap Gilang pada Kebo Edan.
Keluarga paman supar tinggal di penginapan untuk sementara waktu karna rombongan ini belum
Punya tempat untuk di tinggali.