
Gadis itu bergerak dengan lincah, setiap ayunan pedangnya menyebabkan jerit kesakitan para penjahat. Kemampuan gadis ini sedikit lebih hebat dari para pengawalnya.
" Cepat kalian berlutut dan bertobat...! Kalau tidak mau mati... " Bentak gadis cantik itu.
" Ampun nona muda... Kami tobat... " Ucap para perampok itu, mereka berasal dari para pedagang dan petani, jadi mereka tidak bisa ilmu silat. Seketika itu mereka langsung pergi, takut gadis cantik itu akan berubah fikiran.
Gadis muda berusia 19 tahun itu adalah putri dari Sultan Cokro raja Mataram, Diah Pitaloka. Anak kedua dari raja tersebut, walau sang putri di besar kan di lingkungan kerajaan dia memiliki kemampuan bela diri yang lumayan, setidak nya mampu untuk melindungi diri. Gadis yang beranjak dewasa ini laksana bunga yang sedang mekar-mekar nya, mata para lelaki pun enggan berkedip waktu memandangnya.
Bukan tanpa alasan Sultan Cokro memerintah kah wiryo sangkolo, disamping mereka saudara satu guru, Sultan berharap mereka lebih akrab, karena dengan seringnya mereka menghadapi kesulitan bersama maka akan ada ikatan yang kuat, Sultan berharap anak gadis nya dapat laki-laki yang baik seperti wiryo sangkolo. Memang tak sedikit para putra pejabat pun ingin meminang putri nya, tapi mereka hanya mengandalkan orang tuanya, lain halnya dengan wiryo sangkolo. Dia mendapat kan apa yang dia capai dengan usahanya sendiri.
" Putri... Bagai mana rencana selanjutnya..." Kata panglima wiryo.
" Kang mas jangan pangil begitu, takutnya orang curiga dan lagi aku kurang enak dengan panggilan itu, panggil seperti biasa saja seperti waktu kita latihan silat... " Terang putri Diah Pitaloka
" Baik... Adik Pitaloka... " Ucap wiryo sangkolo sambil menunduk kan muka. Dia tak tahu kenapa ada rasa aneh di dalam hatinya, tidak seperti biasa waktu latihan, panggilan seperti itu membuat hati nya bahagia, panggilan "kang mas" dari wanita yang dia kagumi selama ini, walau pun setiap latihan panggilan seperti itu sudah biasa, tapi kenapa... Dia merasa senang dengan panggilan itu.
" Kang mas... Jangan panggil nama asli ku nanti orang tahu, panggil aku Lokahita saja... " Terang Diah Pitaloka pada sang pada wiryo.
" Dengar... Kalian semua jangan panggil aku putri atau apa pun yang berkaitan dengan jati diri ku, panggil aku nona Lokahita saja..." Perintah sang putri pada prajuritnya, di jawab hormat sembari menundukkan kepala layak seorang pendekar.
Lokahita sendiri tak mau jati dirinya terbongkar akan lebih berbahaya kalau para penjahat tahu pasti dia akan di jadikan target penculikan, sejauh ini, hal itu lah yang dia kawatirkan.
" Kita akan menyusur kadipaten yang agak jauh dari pusat kota kang mas..." Ucap Lokahita pada Wiryo.
"Ba....baik... Putri... Maaf... Maksud ku adik Lokahita... " Wiryo sendiri kaget dengan ucapan Lokahita, dia sedang asyik dengan lamunannya.
Rombongan sang putri berada di kadipaten Bantul, dimana panglima yang bertugas melaksanakan pembersihan bernama patih Kecik, salah satu panglima perang atau Patih kerajaan Mataram, satu rekan dengan Patih Wiryo sangkolo.
Kehidupan kadipaten Bantul saat ini sangat memprihatinkan, kadipaten yang dulu nya jadi salah satu kadipaten paling maju dari segi perdagangan sekarang begitu sepi. banyaknya perampokan dan pencurian mengakibatkan jarang ada yang ke kadipaten ini, ditambah lagi para pedagang banyak ber- alih profesi jadi perampok. Lokahita sangat prihatin dengan keadaan kadipaten ini.
" Kang mas... Kita cari tempat makan dulu... " Perintah Lokahita.
Mereka pun masuk salah satu rumah makan yang cukup luas, berbentuk joglo dengan pelataran bisa untuk menampung kuda dan pedati.
Rombongan Lokahita masuk dan sedang makan, meraka terbagi menjadi tiga meja, dua meja untuk pengawal dan satu untuk dia dan Wiryo. Suasana sepi jadi mereka makan dengan santai.
Tiba-tiba terdengar bentakan suara yang sumbang dari pintu masuk.
" Pelayan... Aku pesan makanan yang paling enak,... " Teriak dari sosok tinggi besar, dengan pakaian telanjang dada jadi makin seram tampilan orang ini. Paman pelayan menghampiri dengan tergesa-gesa dan takut.
" Apa telinga mu tuli... Aku bilang yang paling enak... Ha... Ha... Ha... " Tawa renyah orang itu, di ikuti empat orang lainnya. Nama orang itu Singo Maruto, ketua begal atau penjahat yang terkenal kejam di disa itu. Sekilas matanya yang sedikit juling itu melihat gadis cantik makan dengan pemuda tampan. Naluri jahat seketika muncul dalam benak nya. Dengan perlahan mendekati meja sasarannya.
"Gadis cantik... Mari bergabung dengan meja ku... Tentu kau tak keberatan bukan,dari pada dengan pemuda lemah ini...ha...ha..ha..." Pinta Singa Maruto sambil menepuk dadanya.
Seketika nampak merah Wiryo mendengar ucapan laki-laki itu, tapi dia kembali bersikap tenang karna kaki Wiryo disenggol pelan oleh Lokahita, menandakan untuk diam.
" Ba...baik Tuan... Nanti saya akan gabung dengan tuan gagah ini,... Tapi ijinkan aku menemani kakang ku makan dulu..." Pinta Lokahita dengan nada sedikit memohon. Penjahat itu pun tertawa merasa senang.
Setelah laki-laki itu menempati meja nya, Lokahita berpesan pada Wiryo supaya mengikuti nya dari kejauhan. Dia tidak mau terjadi keributan di rumah makan ini. Wiryo mengerti tujuan dari Lokahita, karna Wiryo tau tuan putri ini pandai bersiasat.
Setelah selesai memberikan arahan pada Wiryo Lokahita menuju meja laki-laki itu. Dalam batin nya memaki orang ini. Dia sebenarnya sangat jijik tapi demi rencananya dia harus bertahan sementara.
"Mari mani duduk dekat kakang..." Sambil menarik tangan gadis itu di tertawa di ikuti para bawahannya. Laki-laki ini tak pernah bertemu wanita secantik ini sebelumnya, sontak air liurnya pun sesekali menetes lihat kecantikan gadis ini.
" Pendekar gagah... Jangan menarik tangan ku... Sakit... " Ucap Lokahita pada laki-laki itu, dengan nada yang di buat semanja mungkin, membuat laki-laki ini tambah ingin segera menikmati pemandangan yang ada di sampingnya ini.
" Kakang beruntung sekali dapat wanita secantik ini... Kalau kakang bosan serahkan padaku ya... Ha... Ha..." Ucap salah satu dari mereka.
" Bosan dengkul mu... Dia akan aku jadi kan istri,, goblok....!!! Ha... Ha..." Tawa renyah Singo Maruto sambil menjawab.
" iiich kakang genit... " Tingkah manja Lokahita sambil mencubit Singo Maruto.
Dalam hati nya ingin sekali merobek mulut busuk laki-laki yang dia goda ini.
Di lain meja Wiryo melihat tingkah manja sang pujaan hati nya berlaku mesra pada laki-laki itu merasa panas hati, ingin sekali di memotong tangan kotor laki-laki itu, yang dengan sengaja berani memegang dagu gadis yang selama ini jadi pujaan hatinya. Jangan kan memegan dagu Lokahita ( Diah Pitaloka) bersentuhan tangan pun dia tidak berani.
"Dasar laki-laki busuk...!!! Tunggu pembalasan ku nanti... " Batin nya dalam hati.
Acara makan pun selesai. Sambil melempar kupang perunggu ke arah paman pelayan tadi dia dengan santai sambil memeluk pinggang gadis yang ada di sampingnya.
" Kau ambil saja semuanya... Hari ini aku sedang senang... Ha.. Ha... Ha... " Ucap Singo Maruto sambil keluar dari rumah makan itu.
Wiryo yang panas hati nya segera menyusul beserta 10 orang bawahan nya. Dia mengikuti dari jarak 100 langkah, Jadi kemungkinan kecil akan ketahuan batinnya.