SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PERGI



Wisang Geni meyerahkan buntelan yang  berisi Pakaian pada Pitaloka.


"Mohon ibu dan kakang berpenampilan layaknya orang desa,agar tidak menimbulkan kecurigaan" pinta Geni, dia sudah menyiapkan Pakaian untuk semua yang ada di sana serta bahan makanan, walau hanya cukup untuk sementara waktu.


Akhirnya Wisang Geni memutuskan untuk pergi sendiri. Hal ini dilakukan agar lebih leluasa dalam bergerak. Walau dalam hati dia sedikit ragu dengan tindakan yang dia lakukan. Bukan karna takut lebih tepatnya karna dia belum paham sutuasi yang terjadi dalam kerajaan Mataram saat ini.


"Ibu,kakang dan kamu Pitaloka...tetaplah di dalam Goa ini sampai aku kembali,jika dalam 1 Purnama(bulan) belum kembali,segeralah menuju Kerajaan Pajang, aku yakin kalian disana lebih aman." Terang Wisang Geni.


Pitaloka kurang setuju dengan keputusan Wisang Geni. Tapi memang benar apa yang diutarakan Wisang Geni, pemuda itu akan sulit  dalam melakukan sesuatu jika dirinya ikut.


"Tapi kakang janji ya akan pulang dengan selamat,aku tak mau terjadi sesuatu pada kakang."ucap Pitaloka menunjukan rasa kawatir


layak nya sepasang kekasih.


"Adik ku...kau kan tahu kemampuan kakang mu ini..."jawab Geni dengan bercanda agar suasana bisa cair dan kembali seperti semula.


"Kakang masih bercanda...aku malas ah..." gerutu Pitaloka sambil cemberut.


Permaisuri yang melihat kejadian tersebut hanya bisa tersenyum. Dia melihat cara pandang putrinya pada Geni merupakan padangan cinta bukan teman atau saudara.


"Akhirnya putri ku bisa jatuh cinta juga"batin permaisuri sembari memperhatikan percakapan dua muda-mudi itu.


Malam itu mereka berkumpul membahas rencana Wisang Geni yang akan pergi menyelamatkan sang raja. Mereka mendengar secara seksama apa yang menjadi rencana dari Wisang Geni.


Kakang Gesang menjelaskan kendala dan hambatan yang mungkin akan dihadapi Wisang Geni nantinya.


Disisi lain Pitaloka mempersiapkan barang yang akan di bawa Wisang Geni di bantu ibunya.


"Putri ku...apa kau suka dengan kakang Geni mu,jika iya katakan padanya,takut di ambil orang nanti."goda sang ibu,walau dengan bercanda ini merupakan pernyataan serius dari sang ibu.


"Apa sih ibu...aku hanya kasihan pada kakang Geni, dimenyelamatkan aku,ibu dan kakang Gesang sekarang ingin menyelamatkan ayah, apa aku salah jika kagum dan suka padanya?jawab Pitaloka dengan wajah malu-malunya.


"Ibu tahu...tapi apa kakang Geni mu tahu?"selidik sang ibu pada Pitaloka.


"Aku kan wanita ibu...masak bicara seperti itu lebih dulu,"jawab sang gadis dengan muka tertunduk malu.


"Moga kakang mu Geni dapat kembali bersama ayahanda mu, hal ini akan kita bicara kan setelah semua masalah selesai."kata permaisuri sambil mengelus kepala putrinya. Pitaloka hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Pembahasan dengan kakang Gesang, paman Markum dan paman Mantang sudah selesai, Geni ijin istirahat lebih dulu karna besok dia akan melakukan perjalanan.


Didalam goa tapat Bagian tempat tidur yang di gunakan Wisang Geni sudah duduk Pitaloka sambil bersandar pada diding goa.


Dia menatap Wisang Geni dengan tatapan yang tak seperti biasa, gadis ini memastikan apa dia benar-benar suka dengan pemuda yang ada di depannya ini. Pitaloka pun belum tahu bagai mana rasanya jatuh cinta, ada perasaan lain dikala dia menatap pemuda ini. Tapi dia sendiripun bingung harus berkata apa


"Kenapa kakang melakukan semua ini?"tanya Pitaloka ambigu tak begitu jelas kemana arah pertanyaan tersebut.


"Apa maksudmu Pitaloka,aku tak paham dengan kata-kata mu?" Jawab Geni yang memang bingung dengan maksud perkataan Pitaloka.


"Kenapa kakang membantu keluarga ku dan kerajaan yang semula kakang benci?"tanya Pitaloka penuh selidik.


"Aku hanya menjalankan perintah guru,untuk membantu sesama manusia dan memerangi kejahatan dari muka bumi. Apa aku salah jika bereda di pihak yang menurutku perlu di bantu?"jawab panjang Wisang Geni menjelaskan maksud dan tujuannya.


Mendengar jawaban Wisang Geni yang begitu tulus dan mulia membuat hati sang gadis semakin kagum.hal ini menguatkan batinnya bahwa pemuda ini memang benar-benar pantas untuk dicintainya.


"Malam ini aku ingin berbincang-bincang dengan kakang,apa kakang keberatan? Tanya Pitaloka pada pemuda yang telah duduk disampingnya.


"Tidak...aku tidak keberatan sama sekali." Jawab Geni mulai tak canggung berbicara pada Pitaloka,sekarang dia sadar tak mungkin dirinya mencintai sang putri karna statusnya. Dan lagi sekarang Wisang Geni menganggap Pitaloka sama seperti adik kandungnya.


Percakapan kedua insan ini cukup lama, Dan memang percakapan ini tidaklah begitu Penting. Hanya percakapan ringan dan saling bercanda . Sang ibu menyaksikan percakapan tersebut hanya bisa tersenyum, karna jelas sekali sang putri benar-benar jatuh hati pada pemuda misterius yang sekarang telah jadi anak angkatnya.


Mereka berbincang-bicang hilngga larut malam,Pitaloka merasa nyaman berbincang-bincang denga  Wisang Geni.


"Kakang...kakang...ach dasar kakang Geni baru sebentar ngobrol sudah tidur..."ucap Pitaloka  yang jengkel karna Geni sudah tidur hanyut dalam mimpinya.


Pitaloka tak tega kalau membangunkan Wisang Geni,gadis ini hanya menggeser kepala Geni yang berada pada pundaknya ke pahanya,dia pun masih duduk dengan memangku kepala pemuda tersebut. Pada akhirnya Pitaloka pun tidur sambil duduk dengan memangku kepala pemuda ini.


Sang fajar Mulai menyingsing,menandakan sebentar lagi mentari akan menunjukan senyum hangatnya.


Kakang...bangun kang sudah pagi,kaki ku kesemutan!" bisik lirih Pitaloka sembari mengguncang pundak pemuda itu. Wisang Geni bangun dengan cepat, dia kaget setelah sadar kepalanya berada pada pangkuan Pitaloka.


"Aku Kira kakang terlalu nyaman tidur di atas paha ku?" Goda Pitaloka pada pemuda yang baru sadar dari tidurnya


"Iya...iya Sudan pagi"jawab gugup dari Geni.


Setelah semua persiapan Wisang Geni berpamitan kepada mereka semua. Pitaloka sangat ingin ikut tapi kakang serta ibunya mengingatkan bahaya yang bisa saja terjadi, menguatkan apa yang disampaikan Wisang Geni.


"Kakang cepat kembali...aku menunggumu" ucap Pitaloka kepada pemuda yang telah merebut hatinya. Dia telah menetapkan bahwa memang dia benar-benar jatuh hati pada pemuda tersebut.


Pagi itu Wisang Geni berangkat menuju pusat kerajaan mataram,dia diantar paman Markum mereka menuju ke lorong rahasia yang digunakan untuk kabur pangeran dan permaisuri. Perlu waktu 2 hari untuk sampai di tempat itu.


Paman Markum menjelaskan hal-hal yang diperlukan, Serta menggambarkan peta kerajaan pada Wisang Geni. Setelah paman Markum kembali ketempat dimana mereka harus menunggu bersama rombongan pangeran dan permaisuri.


"Aku harus melepas samaran ku agar prajurit Mataram tak curiga" batin Geni sembari melepas topeng yang selama ini dia kenakan.