SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MENUNGGU SAAT YANG TEPAT



Hari ini pertandingan dimulai kembali, 4 peserta terakhir sudah memasuki arena pertandingan. Sorak-sorai para penonton mulai bergemuruh meneriakan jagoan masing-masing.


"Pertandingan pertama perebutan juara tiga, Kebo Edan dan Sukma Aji" teriakĀ  dewan juri yang memimpin pertandingan tersebut. Mereka berdua bersiap melaksanakan pertandingan mereka mengeluarkan senjata masing-masing, tapi kali ini Kebo Edan membawa golok yang tidak biasa dia gunakan, karna golok yang dia andalkan telah patah akibat pertarungan semalam melawan Gilang.


Pertarungan epik kembali terjadi tapi kali ini Sukma Aji terlihat lebih unggul dari segi serangan maupun jurus yang dia gunakan. Gilang menyaksikan dengan penuh perhatian, dia merasa bahwa Kebo Edan sedikit mengalah, tak sama waktu melawannya.


Tendangan kaki kebo Edan yang cepat tiba bersarang pada tubuh sukma Aji. Perbedaan kekuatan memang sangat terlihat disana.


Walau kombinasi jurus Sukma Aji lebih beragam tapi kekuatan dari Kebo Edan memang sangat luar biasa. Hasilnya jelas Sukma Aji terlempar keluar arena.


"Pertandingan dimenangkan Kebo Edan " teriak juri yang memimpin pertandingan. Dia sengaja mempercepat pengumuman karna ingin segera menolong Sukmo Aji. Karna raja berpesan 4 peserta itu jangan sampai terluka, dia ingin menjadikan ke 4 orang ini jadi patih/ perwira muda yang memimpin pasukannya.


Ahli pengobatan memeriksa luka yang diderita Sukmo Aji tersenyum kepada juri, mengisyaratkan bahwa luka yang diderita hanya luka ringan, tak butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Apalagi sekarang mereka memiliki Gilang yang memang ahli dalam pengobatan jadi tabib keraton sedikit tenang.


"Pertandingan selanjutnya merupakan pertandingan puncak, dimana mereka berdua akan memperebutkan Juara 1 dan 2" ucap juri memberikan peringatan pada para penonton yang hadir serta sebagai isyarat agar dua petarung itu segera menuju ke atas arena.


Tak menunggu lama dua peserta yang terakhir melangkah menuju arena, dua orang yang selama ini menjadi sahabat ternyata akan bertanding kali ini. Penonton yang melihat mereka berdua bersorak-sorai meneriaki jagoan masing-masing. Pertandingan penentuan segera dimulai,semua penonton menyaksikan dengan tegang.


"Pertandingan dimulai...!" Teriak juri yang memimpin pertandingan tersebut. Kedua pemuda itu pun bersiap dengan kuda-kuda masing-masing. Karno berinisiatif melancarkan serangan lebih dulu. Dengan pedang yang di miliki dia menyerang dengan cepat dan ganas.


Gilang hanya menghindar ke samping agar serangan karno tak mengenainya.


"Cepat keluarkan senjata mu aku tak main-main!" Bentak Karno kepada Gilang yang belum menggunakan senjatanya. Serangan demi serangan dilancarkan Karno seolah-olah dia ingin menyelesaikan pertandingan dengan cepat.


Gilang yang mulai tersudut mulai mengeluarkan senjatanya, pedang tumpul tak berbilah yang di temukan di dalam gudang perlengkapan keraton mataram. Bukan tanpa alasan Gilang menyimpan pedang usang ini,karna dia tahu pedang ini mempunyai bahan yang bisa dikatakan bagus bahkan paling baik dari semua senjata yang ada di gudang saat itu.


"Bersiaplah kau Gilang...!, jurus pedang selaksa iblis" ucap Karno menggunakan jurus andalannya. Jurus ini mirip jurus pedang hujan musim semi. Bedanya jurus ini berupa sayatan mendatar, sedang jurus pedang musim semi tusukan vertikal(dari atas kebawah) seperti air jatuh dikala hujan.


Jurus karno dapat dikatakan hebat,disisi lain Gilang harus bergerak lincah untuk menangkis serangan tersebut.


"Jurus pedang kilat" ucap lirih Gilang, dia bertahan dengan kecepatan yang luar biasa. Semua serangan yang dilancarkan Karno dapat tertangkis semua. Mata para penonton seakan tak berkedip menyaksikan pertarungan ini.


Bahkan sang raja Ageng Gumilar dan empat jagoan andalannya di buat terkagum-kagum dengan pertandingan dua pemuda ini.


"Aku akan menjadikan mereka berdua jadi patih,pasti kelak mereka jadi orang hebat" ucap lirih raja Ageng Gumilar disertai anggukan ke empat punggawanya.


Kali ini giliran Karno yang terdesak dengan kecepatan serangan yang dilancarkan oleh Gilang. Karno hanya bisa bertahan dengan sesekali melancarkan serangan balasan.


"Karno kau harus memenangkan pertandingan ini!" Ucap lirih Gilang melewati Karno.


Gilang yang sudah mengetahui bahwa Karno sudah pada ambang kemampuannya segera menangkis sekadarnya saja.


"Kena kau..." teriak Karno menghantam dada dari Gilang. Pertandingan yang penuh dengan Drama ini.


Dapat disaksikan, mereka melihat Gilang yang bertarung dengan asyik menyerang melupakan pertahanan, alhasil Karno pun dapat melayangkan pukulan penuh tenaga ke dada dari pada Gilang.


Gilang terpental mundur dan jatuh dari arena pertandingan. Nampak setetes darah mengalir di sudut bibirnya.


"Sial..."teriak Gilang penuh penyesalan karna dia harus menerima kekalahan itu. Ucapan pura-pura itu pun bisa mengelabuhi semua penonton yang ada disitu, tak terkecuali raja Ageng Gumilar dan ke empat punggawanya.


"Sungguh sayang...anak itu masih ceroboh dan kurang berpengalaman, jika dia bisa bersabar sedikit pasti kemenangan berada di genggamannya" ucap raja Ageng Gumilar.


"Pertandingan dimenangkan oleh Karno" ucap lantang dewan juri yang memimpin pertandingan tersebut.


"Juara pertama Karno, juara ke dua Gilang dan juara ke tiga serta ke empat adalah Kebo Edan dan Sukmo Aji" sambung juri mengakhiri pertandingan tersebut.


Bukan tanpa alasan Wisang Geni mengalah dalam pertandingan ini, seandainya dia menang maka pusat perhatian raja dan ke empat pengawal pasti tertuju padanya. Dan hal ini akan mempengaruhi pergerakannya nanti.


Setelah penyerahan hadiah serta penyematan gelar sebagai prajurit penjaga penjara serta pengawal pribadi raja ke empat pemuda ini pun kembali ke barak masing-masing. Mereka dapat bertugas mulai besok begitu titan sang raja Ageng Gumilar.


Wisang Geni pun segera kembali kebarak prajurit guna mempersiapkan rencana selanjutnya. Dia sudah memberitahukan semua rencana kepada empat rekannya tersebut, mereka menunggu malam dengan hati yang sedikit cemas.


Waktu yang dinanti pun telah tiba, ketika semua orang hanyut dalam tidurnya nampak empat orang sedang bergerak dalam gelap malam. Wisang Geni kembali menyusup dalam gelap malam, pemuda ini bergerak menuju ruang penjara raja Cokro.


Raja pun sudah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi, seandainya mereka ketahuan raja akan bertarung mati-matian melawan raja mataram.


Tak jauh beda dengan empat pemuda tersebut raja pun menanti dengan gelisah.


Platak...tring bunyi gembok baja yang jatuh ke tanah karna patah,nampak pemuda berdiri Di hadapannya.


"Raja mari ikut dengan hamba!" Ucap Wisang Geni sambil jalan di depan sang raja.


Raja tampak bingung kenapa tak ada penjaga yang biasa lalu-lalang.


Tidak adanya penjaga yang bertugas karna mereka terlebih dahulu disingkirkan ketiga teman-temannya. Raja mengikuti Wisang Geni dari belakang. Alangkah kagetnya dia setelah tahu tujuannya adalah ruang baca kerjaan.