
Tidak ingin berlama-lama, Wisang Geni segera mengikuti sang raja karna setelah ini sudah menanti urusan yang lebih besar, mengenai kerajaan Mataram.
Setelah sampai pada balai pengobatan sang raja langsung memerintahkan Geni untuk munjukan keterampilan yang di banggakan Pitaloka pada raja tersebut.
"Maaf kang... Aku merepotkan mu" Ucap Pitaloka sambil meminta maaf di hadapan pemuda tersebut. Ternyata apa yang dia terka memang benar adanya.
"Tak apa-apa adik ku," Jawab Geni melangkah ke balai pengobatan sembari membelai kepala bagian atas sang Gadis.
Wisang Geni mengeluarkan bahan obat yang di dapat dari Kerajaan Mataram dari dalam gelang penyimpanannya tanpa sepengetahuan mereka yang hadir disitu. Pemuda tersebut memilih bahan yang sekiranya diperlukan, dia menyalakan Tiga tungku secara bersamaan.
Para tabib atau ahli obat menduga pemuda ini menggunakan tiga sebagai cadangan jika pembuatan pertama gagal. Tapi yang membuat heran kenapa Wisang Geni memasukan kedalam tiga tungku yang menyala sekaligus bahan obat tersebut. Tidak ada dalam pikiran tabib istana bahwa pemuda tersebut akan membuat obat yang berbeda dalam satu waktu.
Karna ahli obat Kerajaan untuk membuat satu jenis pil dibutuhkan waktu yang relatif lama serta ketelitian tinggat tinggi agar obat yang dihasilkan bisa menjadi obat yang mujarab dan tidak gagal dalam proses pembuatan.
Wisang Geni tidak bermaksud sombong, dia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera ingin meminta bantuan sang raja perihal rencana yang sedang dia susun di dalam kepalanya.
Tak berapa lama aroma pil pun tercium oleh semua yang hadir dan menyaksikan proses penyulingan atau pembuatan pil tersebut. Tapi mereka bingung kenapa ada 3 aroma berbeda.
"Akhirnya selesai juga" Ucap lirih Wisang Geni yang masih dapat di dengar semua yang hadir disana. Pemuda tersebut membuka kuali dari tanah, serta memadam kan api yang masih menyala. Pemuda tersebut menutup kembali kuali dengan daun pisang, Semua yang hadir bingung dengan apa yang dikerjakan pemuda tersebut. Tapi mereka juga tidak berani bertanya karna mereka sendiri bingung dengan metode yang baru mereka saksikan.
Setelah kuali dalam keadaan dingin Wisang Geni mengeluarkan 3 butir pil dari Masing-masing kuali. Semua mata kaget, karna apa yang mereka pikirkan salah, malah pemuda ini membuat obat pada 3 kuali sekaligus.
"Yang mulia raja, pil warna merah merupakan pil penambah darah, yang warna biru adalah pil penambah tenaga, kedua pil ini biasa digunakan untuk memulihkan kesehatan pada mereka yang sedang dalam proses penyembuhan. Sedang pil hitam ini adalah pil jiwa, dimana paduka bisa mempergunakan untuk mengobati orang yang terluka dalam cukup parah. " Jelas Wisang Geni panjang lebar pada raja Hadi Wijaya.
Sang raja yang memang tak paham dengan pengobatan hanya memandang tabib atau ahli obat keraton. Mereka mengangguk tanda obat yang di buat pemuda ini memang kualitas bagus.
"Lalu pil mana yang dapat aku coba sekarang?" Raja Hadi ingin mencoba langsung obat yang di buat pemuda ini.
"Dua pil ini yang mulia raja" Ucap Geni pada raja Hadi sambil menyerah kan pil warna merah dan biru.
Setelah meminum reaksi sang raja begitu kaget tubuhnya seakan lebih semangat dan penuh dengan tenaga.
"Hah... Hahaha... Badan ku terasa amat sangat sehat dan bertenaga... " Tawa sang raja senang dengan pil buatan Wisang Geni.
"Geni benar semalam bocah Nakal itu meminta mu untuk mengajari ilmu pengobatan? Apa tidak terjadi sesuatu pada kalian" Tanya sang raja penuh sidik sambil alisnya dinaik-naikan.
"Ampun paman benar-benar kami tak melakukan apa-apa, tiap malam memang Pitaloka aku ajari ilmu pengobatan serta cara meditasi yang benar" Jawab Geni dengan gugup.
"Paman aku harap rencana ini hanya di ketahui oleh paman dan patih Sastro, karna semakin sedikit yang tahu tingkat kerahasiaan juga lebih tinggi" Saran Wisang Geni pada raja Hadi.
"Baik, aku ikut saran mu." Ucap raja Hadi sambil melangkah menuju aula keraton Pajang.
Sesampainya pada keraton raja Hadi membubarkan para pejabat lain hanya menyisakan dirinya, patih Sastro dan Wisang Geni.
"Bocah apa yang hendak engkau bicarakan?" Tanya sang raja pada Wisang Geni.
"Mohon maaf baginda hamba berkeinginan merebut kembali kekuasaan Mataram" Jawab singkat Wisang Geni.
Raja berfikir sejenak sebelum memberikan jawaban, disisi lain sang patih yang sedang berharap jawaban sang raja, dia sendiri punya keinginan yang sama dengan pemuda yang ada bersamanya. Tapi mengingat kuatnya Kerajaan Mataram sang patih mengurungkan niatnya. Tapi aneh kenapa waktu pemuda ini mengutarakan nya ada rasa percaya diri yang muncul dalam hati patih Sastro.
"Kau tahu apa yang baru saja kau ucapkan?! Apa kau tahu bahwa kekuatan Mataram tidak bisa dianggap remeh, Mataram Kerajaan besar, sedang Kerajaan Pajang adalah Kerajaan kecil, kosekuensinya kalau kita berusaha menggulingkan mataram, malah Pajang ikut diratakan dengan tanah oleh Mataram. Aku bukan takut anak muda, tapi bagai mana nasib rakyat dan prajurit ku? Aku sudah cukup bahagia kakang cokro dan keluarga dapat selamat" Ucap raja sambil memperhatikan pemuda tersebut.
"Mohon maaf paman saya tidak akan perang secara terbuka, Kita akan bertempur serang sembunyi," Ucap Wisang Geni yang memang sudah menemukan strategi yang tepat. Geni sudah lancar memanggil paman pada Raja Hadi.
"Coba kau jelaskan... " Pinta raja Hadi yang masih bingung, perang yang selama ini dia tahu hanya perang terbuka atau perang konvensional.
"Jadi begini paman... " Wisang Geni menjelaskan semua rencana serta dia yang telah menyusup kedalam Kerajaan Mataram, tak ada satu pun yang dia sembunyikan. Dan bagai mana nanti rencana selanjutnya serta berapa prajurit yang harus dia bawa serta siapa saja yang akan di ajak dalam perang merebut kembali Mataram.
"Apa kau yakin dengan rencana tersebut?"tanya raja Hadi sedikit ragu dengan paparan rencana yand di sampaikan Geni.
" Kurang lebih 10.000 pasukan Mataram akan kau benturkan 2000 pasukan dari Kerajaan Pajang, bukan perkara mudah anak muda, aku perlu berpikir ulang untuk rencana mu." Lanjut sang raja yang merasa itu semua mustahil.
Patih Sastro mendukung rencana Wisang Geni, tapi disisi lain di membenarkan keputusan sang raja, karna mustahil dapat merebut kembali Mataram hanya dengan 2000 prajurit.
"Maaf paduka rencana hamba memang mustahil, tapi apa kita punya jalan lain? Seandainya kita perang secara terbuka pun Kerajaan Pajang juga pasti kalah dalam hal jumlah prajurit, tapi kali ini akan hamba rusak dari dalam pertahanan tersebut" Jelas Wisang Geni