SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BERMALAM DI SEMARANG



Setah sampai kadipaten semarang Geni belanja keperluan yang akan mereka pergunakan dalam perjalanan ini, kali ini Geni membeli beras serta perlengkapan untuk masak. perlengkapan yang sebelumnya tak terlalu pemuda ini pikirkan, itu pun atas saran dari Pitaloka, dia akan masak untuk mereka berdua jadi mereka tak akan kelaparan jika dalam hutan.


"Kakang Geni... Apa kakang masih ingat aku? " Sapa seorang gadis seumuran dengan Pitaloka, Gadis yang cukup cantik, namun tetap tak bisa mengalahkan gadis yang berada disamping pumuda itu. Sontak Pitaloka kaget kenapa mereka baru sampai Semarang sudah ada yang kenal dengan kakang Geni.


Batin Pitaloka panas, dia merasa bahwa pasti ada hubungan sesuatu antara mereka berdua. Walau hati gadis ini cemburu tapi masih bisa bersikap normal.


"Ternyata selera kang Geni rendah sekali" Batin Pitaloka yang yang merasa lebih cantik dan memang benar Pitaloka lebih cantik dari gadis yang baru menyapa Wisang Geni.


Geni memperhatikan gadis tersebut, lalu dia pun teringat tentang paman Bejo.


"Dimana saudarimu dan dimana kalian tinggal?" Jawab Geni kepada gadis yang baru menyapanya.


"Adik ku sedang membantu ibu, mari kang mampir ke kedai kami" Ucap gadis tersebut.


Melihat betapa akrabnya mereka berdua sontak Pitaloka tambah panas batinnya, gadis ini cemburu dan juga kesal. Masalahnya Geni hanya bercerita tentang gadis di desa Bambu kuning yang bernama Diah Ayu bukan di daerah semarang batin Pitaloka yang dalam keadaan panas hatinya.


"Eh... Istri kakang juga ikut?" Tanya gadis ini yang langsung menyapa gadis yang sedang berdiri disamping Geni. Sontak Pitaloka kaget kenapa gadis ini mengatakan bahwa dia istri Kang Geni.


"Mari ke kedai mu aku juga sudah berjanji pada paman Bejo akan mampir jika sampai Semarang" Ucap Geni yang langsung menggandeng tangan Pitaloka untuk ikut bersamanya. Pitaloka pun masih terdiam dan belum mengerti tentang semua ini.


"Nak Geni... Mari nak duduk bagai mana dengan istri nak Geni apa sudah sehat" Tanya bibi pemilik warung yang menghampiri kedua orang tersebut sambil menjabat tangan Geni dan memeluk Pitaloka seperti mereka sudah kenal dengan akrab.


"Yayuk...cepat kau hidangkang makanan paling enak biar nak Geni dan istrinya makan dulu" Perintah bibi itu pada gadis yang membawa mereka kesini tadi. Yayuk pun pergi ke dapur untuk menghidangkan makan pada tamu sepesial mereka sedangkan bibi tadi melayani tamu-tamu lain.


"Kakang apa kau kenal dengan keluarga ini? Kenapa bibi itu seakan tidak asing bagiku?" Tanya Pitaloka pada Geni.


"Apa kamu lupa dengan keluarga yang kau tolong dan akhirnya kau menelan pil asmara itu" Geni mengingatkan tentang keluarga paman Bejo yang dia selamatkan.


"Oh.... Iya aku ingat kang" Pernyataan yang cukup keras terucap dari mulut gadis cantik ini. Semua mata para pengunjung tertuju pada gadis ini karna memang cukup keras.


"Maaf tuan-tuan suami ku memang agak tuli" Kata Pitaloka membela diri karna semua mata yang ada disitu melihatnya.


Akhirnya semua jelas bahwa gadis tadi adalah anak dari paman Bejo yang bernama Yayuk dan adiknya bernama Sri rohayah,dan bibi tadi Tinah istri dari paman Bejo. Geni juga menjelaskan bahwa pastinya Pitaloka tak begitu mengenali wajah keluarga paman Bejo karna waktu itu dia dalam keadaan setengah pingsan karna pengaruh Pil asmara.


"Untung saja tadi aku tak langsung marah pada Yayuk, jika tidak pasti masalahnya bakal runyam" Batin Pitaloka yang sadar setelah mendengar penjelasan Wisang Geni.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri, mirip orang tak waras" Tanya Geni pada Pitaloka


"Kenapa kakang menghina ku..." Ucap Pitaloka kembali sedikit keras karna dia kaget mendengar ucapan Geni.


"Maaf tuan-tuan suami ku agak tuli jadi harus sedikit keras kalau mau ngomong" Lanjut Pitaloka kembali jadi pusat perhatian para pengunjung.


"Habisnya kakang mengatakan aku tak waras bikin jengkel saja." Balas Pitaloka kali ini dia berkata lirih pada pemuda yang ada disampingnya.


Tentu percakapan mereka didengar oleh orang yang berada disitu.


"Pasangan yang aneh"


"Kasihan wanita begitu cantik dapat suami tuli"


"Walau cantik tapi sayang tidak waras" Setidaknya itulah pendapat para pengunjung yang ada di kedai makan itu.


"Kakang dengarkan banyak yang mengatakan aku cantik, jadi kakang beruntung pergi dengan ku" Pitaloka mengucap bangga karna memang banyak yang mengatakan dirinya cantik.


"Tapi banyak yang kasihan walau cantik tidak waras" Balas Geni membuli Pitaloka.


"Ih... Jahat, itu semua gara-gara kakang" Ucap gemas Pitaloka sambil mencubit lengan pemuda tersebut.


Aduh....aduh... Iya... Cantik... Cantik"ucap Wisang Geni yang merasakan kesakitan akibat cubitan Pitaloka. Kegiatan bercanda mereka berhenti setelah Yayuk dan Sri datang menyiapkan makanan yang tidak mereka pesan. Semua menu terbaik dikeluarkan bibi Tinah. Mereka(keluarga paman Bejo) bermaksud menjamu tamu istimewa dengan menyuguhkan hidangan yang spesial. Tak berapa lama paman Bejo pun muncul dengan tergopoh-gopoh.


"Maaf nak Geni, paman tadi lagi nimba air sumur dibelakang, paman tak tahu kalau nak Geni datang ke kedai kecil kami." Ucap paman Bejo disertai pelukan hangat layaknya seorang paman pada keponakannya.


"Tidak apa-apa paman, maaf malah merepotkan paman dan keluarga." Jawab sopan Wisang Geni lada paman Bejo.


Akhirnya kedai paman Bejo tutup sementara, mereka makan pagi bersama-sama. Enam orang duduk pada satu meja yang besar, kegembiraan jelas terlihat disana. Tapi ada yang janggal, Pitaloka terlihat sedih dengan keadaan ini, tapi untuk menutupi kesedihannya dia tetap tampak ceria didepan paman Bejo dan keluarga.


Hal tersebut jelas terlihat oleh Wisang Geni.


"Kenapa Pitaloka tampak bersedih, apa dia tak suka berada di sini" Batin Geni coba menerka perasaan Sang gadis.


Selesai acara makan aktifitas pun berjalan seperti biasa, Pitaloka pun membatu membersihkan perlengkapan yang digunakan.


"Nak Geni, jika tidak berkeberatan sudi kiranya menginap beberapa hari di gubuk kami." Ucap paman Bejo memohon pada pemuda yang talah menyelamatkan keluarganya.


"Baik paman, nanti biar aku bicara dengan istriku dulu" Jawab Geni dengan sopan.


Pitaloka yang mendengar percakapan ini pun melihat Geni, seakan memberi kode anggukan kepala tanda menyetujui usulan paman Bejo.


"Baik paman kami akan menginap, sebelumnya trimakasih paman" Ucap Geni menyanggupi tawaran paman Bejo.


Akhirnya paman Bejo mengantar Geni dan Pitaloka menuju rumah yang letaknya berada di belakang kedai tersebut. Disana hanya ada 3 senthong(kamar dalam bahasa jawa). Rumah sederhana yang cukup asri, 1 kamar memang diperuntukkan tamu, 1 buat paman dan bibi dan kamar 1 lagi untuk kakak beradik Yayuk dan Sri.