SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
NYAMAN DISAMPINGMU



Pagi di Kerajaan Pajang ini sangat indah, panorama yang menyejukkan mata bagi yang melihat. Disana sepasang muda-mudi sedang duduk di gazebo yang terbuat dari kayu serta Bambu. Mereka berdua bercanda dengan riang seakan tak ada beban dalam hati atau pun pikiran mereka.


"Kakang kapan kita berangkat menenui ayah dan ibu? Aku sudah rindu mereka" Ucap Pitaloka di tengah canda mereka. Sebenarnya gadis ini rindu akan perjalanan bersama pemuda ini, karna dia merasa di Kerajaan Pajang ini dia merasa di kekang. Gadis ini memang mempunyai jiwa petualang, maka dari itu dia tak betah dengan suasana kehidupan istana, baik itu di Pajang atau pun kerajaannya sendiri Mataram.


"Mungkin besok atau lusa kita akan menuju desa Daun Hijau" Jawab Geni sambil minum teh buatan gadis ini.


"Apa jauh kang desa itu dari Mataram, kita akan berkuda lagi?" Tanya Pitaloka penasaran.


"Kita akan pergi menggunakan Kapal, lebih cepat serta lebih nyaman" Jawab Wisang Geni singkat. Mendengar perjalanan menggunakan kapal gadis ini senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"tanya Geni dengan heran, padahal sebelumnya gadis ini lebih suka perjalanan lewat jalur darat.


" Siapa...? Aku tidak senyum-senyum kakang ngaco ach"jawab Pitaloka menutupi rasa malunya. Dia merasa senang karna kalau lewat kapal dia dapat berdua dengan pemuda pujaan hatinya.


"Apa kita akan mengunakan kapal yang dulu itu kang?" Kembali gadis ini bertanya pada Geni yang sedang melamun.


"Kita tidak menggunakan kapal itu, terlalu besar aku akan cari kapal yang lebih kecil agar mudah dalam bergerak serta tidak menimbul kan kecurigaan" Jawab Wisang Geni menerangkan bahwa posisi meraka tidak boleh ada yang mengetahui apalagi prajurit Kerajaan Mataram.


Tidak berbeda dengan Pitaloka, Wisang Geni pun senang melakukan perjalanan dengan gadis cerewet yang ada dispingnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Wisang Geni selalu terbayang dengan kejadian-kejadian bersama Gadis ini, terlebih pemanasan yang beberapa kali sempat membuat dirinya terlena dan ingin selalu mengulangi kegiatan tersebut.


Kegiatan yang membuat jiwa muda mereka selalu terbakar, bergelora dan meminta ingin segera di tuntaskan. Perasaan yang sama memang menyelimuti kedua insan ini. Pitaloka selalu ingin menyelesaikan pertarungan epik dengan Wisang Geni, gadis ini memang sudah menambahkan hati pada pemuda yang sedang bersamanya saat ini.


Lain dengan Wisang Geni, walau pemuda ini juga ingin menyelesaikan pertarungan epik tersebut, tapi dia masih mempunyai beban yang harus dia kerjakan, yaitu mencari keturunan sang guru serta menyerahkan barang yang menjadi hak keluarga sang guru.


"Kakang... " Ucap Pitaloka dengan manja, suara yang begitu nyaman ditelinga bagi yang mendengarnya. Geni sudah hafal dengan gelagat seperti ini, pasti gadis ini sebentar lagi akan meminta sesuatu.


"He'em" Jawab singkat Wisang Geni mempersilahkan Pitaloka untuk menyelesaikan kalimat nya.


"Kang sekarang aku kenapa tidak bisa tidur kalau tak ada kakang disamping ku ya? Aku merasa nyaman di pelukan kakang" Ucap jujur serta polos dari Pitaloka, gadis ini berucap sambil menundukan kepala karna malu.


"Aku pun senang dapat berada di samping mu, tapi ingat kita masih punya tugas berat, dan lagi aku sendiri masih ada beban lain, aku harap kau dapat mengerti, dan jangan bicarakan masalah hubungan terlebih dahulu. Karna aku ingin fokus pada masalah yang kita hadapi sekarang" Ucap Wisang Geni menerangkan apa yang menjadi beban pikirannya.


Pitaloka pun menyadari beban yang di rasa pemuda ini, dia tak ingin membuat beban pikiran Wisang Geni bertambah jika dia banyak menuntut suatu hal. Bagi Pitaloka apa yang sudah di berikan Wisang Geni pada keluarga nya sudah merupakan berkah dan tak kan dapat di tukar dengan harta benda sekali pun.


"Aku ingin bertemu mereka berdua" Ucap Wisang Geni yang beranjak dari gazebo tempat mereka berbincang saat ini.


Wisang Geni hanya menjawab dengan anggukan serta menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri, sebuah isyarat jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini. Pitaloka mengerti dengan hal tersebut, juga menggangguk tanda mengerti.


Tak berapa lama kedua muda-mudi ini telah sampai pintu gerbang Kerajaan Pajang, dimana kedua kakak beradik ini berjaga. Geni kali ini tidak berkeinginan untuk menjajal atau bermain-main dengan mereka berdua. Dia berencana mengajak kedua kepala prajurit yang tak lain dan tak bukan adalah kakang Suro dan kakang Waseso.


Melihat kedatangan Wisang Geni dan Pitaloka kedua saudara kembar ini langsung datang menghampiri.


"Maaf pangeran... Maaf tuan putri ada yang bisa saya bantu" Tanya Suro dengan sopan, dia tak mau kecerobohan adiknya terulang kembali.


"Tak usah terlalu sungkan kakang kepala prajurit, kami hanya jalan-jalan saja" Ucap Pitaloka menjawab sapaan dari kedua pengawal yang tampak sopan itu, tidak seperti waktu pertama mereka bertemu.


Kakang berdua bisa ikut kami sebentar, aku ingin sedikit meregangkan otot persendian ku"ucap Geni sambil melaksanakan peregangan seperti halnya senam pagi.


"Baik pangeran kami mengikuti perintah" Jawab Suro menyanggupi ajakan Wisang Geni, kedua pemuda ini tahu kemana arah tujuan pembicaraan ini.


"Pangeran kami mau minta maaf soal kejadian sepekan yang lalu" Ucap Waseso smbil berjalan mengikuti Wisang Geni dan Pitaloka.


"Jangan panggil aku pangeran panggil saja Wisang Geni kang" Pinta Geni pada kedua pemuda tersebut.


"Baik Den Geni" Jawab kedua nya hampir bersamaan.


"Terserah kalian lah... "Gerutu Geni ketika di panggil Aden(raden) .


Suro dan Waseso tidak lah salah jika mereka tak berani memanggil Wisang Geni hanya dengan nama, mereka memprediksi atau memperkirakan bahwa Wisang Geni adalah anak raja Mataram, atau mungkin keponakan raja Mataram. Bahkan gadis ini adalah keponakan langsung dari sang raja, berarti secara tidak langsung kedua muda-mudi ini kerabat keraton Pajang. Dari situ Suro dan Waseso tidak mau ceroboh dan salah ucap lagi.


Setelah sampai tempat latihan mereka bertiga siap untuk melaksanakan pertandingan, Wisang Geni hendak memberi tahu tentang kelemahan jurus yang di gunakan kedua saudara kembar ini. Karna mereka berdua akan menjadi pendamping dirinya dalam pertempuran merebut kembali Kerajaan Mataram.


Tidak jauh dari tempat latihan ada sepasang mata tampak mengamati kegiatan tersebut. Walaupun orang ini belum pernah bertemu lansung Wisang Geni tapi dirinya sudah mendapat keterangan serta informasi tentang pemuda bertopeng ini.


Orang ini adalah Resi Kumboyono, seorang resi yang bertugas melatih prajurit Kerajaan Pajang. Dia mendapat laporan dari dua murid andalannya Suro dan waseso tetang keponakan Raja Pajang yang mempunyai kemampuan hebat.


Resi Kumboyono yang penasaran ingin sekali bertemu pemuda tersebut, serta ingin bertanya tentang siapa guru dari pemuda tersebut.