SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BINGUNG



"Kakek Braja Musti maaf cucu mu belum bisa menghadap kakek" Ucap Wisang Geni sambil memberi salam setelah bertemu Ki Braja Musti didepan rumah paman Supar.


Disana pun berdiri raja Cokro, tentu raja Cokro mengenali sosok Ki Braja musti, dia adalah pemimpin padepokan Bangau Merah, Padepokan yang selama ini dilaporkan oleh Ki Ageng Gumilar yang selalu membelot dan tidak mau nurut dengan Kerajaan Mataram.


"Geni... Apa ini kakek yang kau ceritakan tadi? " Tanya raja Cokro sedikit dengan penuh penekanan. Wisang Geni yang telah tahu kondisi sebelum nya dari cerita Ki Braja Musti sang guru baru nya merasa ingin segera menjelaskan agar situasi tidak tambah runyam.


"Ternyata kau putra raja yang suka menindas rakyat! " Balas Ki Braja musti yang merasa terhina dengan pernyataan sang raja.


"Harap kakek dan ayah bersabar dulu... Akan aku jelaskan semua kejadian yang terjadi di Mataram ini" Jelas Wisang Geni coba mendinginkan situasi yang mulai panas.


Geni akhirnya menjelaskan semua yang dialami Ki Braja serta mengaitkan segala kejadian dengan pemberontakan yang dilakukan Ki Ageng Gumilar.


"Keterlaluan kakang Gumilar, selama ini dia memberikan laporan yang tidak bagai mana mestinya pada ku!!! " Ucap raja Cokro geram dengan kelakuan Ki Ageng.


Setelah semua permasalahan jelas akhirnya dua orang yang bersitegang tersebut bisa menerima keadaan masing-masing.


Malam pun tiba, telah berkumpul tak kurang dari 13 orang dalam ruang khusus yang memang telah disediakan sebelumnya. Mereka adalah 7 macan lembah tidar, ayah Wisang Geni yang tak lain adalah raja Cokro, paman Supar, pangeran, Wisang Geni dan Ki Braja Musti Mereka bercakap-cakap ringan sebelum membahas pokok dari apa yang akan mereka bicarakan nanti.


Kang Bejo anak pertama paman Supar pun ikut dalam pertemuan tersebut, karna Wisang Geni merasa ada peran yang harus dilakukan kang Bejo. Rencana Wisang Geni tak akan berjalan tanpa bantuan dari berbagai kalangan, tentunya rakyat Mataram sendiri.


"Apa yang paman Ketahui tentang Kerajaan Mataram?" Tanya Wisang Geni kepada paman supar yang kelihatan bingung dengan berkumpul nya orang-orang ini.


"Yang saya tahu raja Mataram sudah berganti, dan kabarnya raja baru ini lebih mementingkan kekuatan prajurit Kerajaan di banding kesejahteraan rakyatnya" Ucap Paman supar sedikit lirih karna takut salah ucap.


"Tapi lebih baik begini, karna raja yang lama semena-mena, sering menindas rakyat, nak Geni tahu bagaimana keadan kami dulu" Sambung Paman Supar, karna memang itulah yang terjadi walau sebenarnya bukan raja Cokro yang bertindak demikian.


"Semua itu tidak benar... Itu bukan perbuatan ku! " Ucap Raja Cokro sedikit marah mendengar pernyataan paman Supar. Tapi emosi sang raja segera mereda manakala melihat tatapan teduh dari Wisang Geni.


"Jadi begini paman... Ayah ku ini adalah raja Mataram yang terdahulu, dan perlu paman tahu kejadian-kejadian yang menimpa rakyat Mataram terutama masalah pemungutan pajak bukan atas perintah ayah Cokro melainkan raja Mataram sekarang" Ucap Geni sesopan mungkin agar tidak menyinggung kedua orang yang dia hormati layak boponya sendiri.


"Apa... Ma... Maaf Tuan hamba tidak tahu, tolong maafkan hamba" Ucap paman Supar dengan wajah mendadak pucat pasi, tak dapat dipungkiri ketakutan jelas nampak pada pria paruh baya tersebut karna orang yang dia jelek-jelekan kini tepat berada di hadapannya.


"Sudahlah... Kau juga tidak tahu, biar putra ku saja yang menjelaskannya" Ucap ketus raja Cokro dengan mimik muka sedikit masam. Nampak disana ki Braja musti juga ikut tersenyum mendengar ucapan paman Supar tersebut.


Pada waktu bersamaan obrolan tegang tadi pun teralihkan dengan adanya suara yang tidak diharapkan.


"Buk...Pyar... " Suara dari kendi( tempat minum dari tanah) jatuh dan pecah. Di depan pintu masuk sudah berdiri seorang gadis yang membawa minuman serta singkong rebus sebagai suguhan untuk para tamu tersebut.


"Lain kali hat-hati gendok( pangilan gadis jawa) cepat ambil lagi" Ucap paman supar mencairkan suasana gugup yang ada dalam batinnya.


Sang gadis pun langsung beranjak pergi menuju dapur. Batin gadis ini sedang kalut, ada bahagia, senang tapi ada sedih serta putus asa pula.


" Kenapa aku tidak sadar, dengan apa yang telah diberikan kang geni pada kami, dan lagi apa seorang putra raja mau dengan gadis kampung seperti ku... " Batin Diah ayu sembari menyiapkan lagi singkong rebus yang tadi jatuh.


"Sudah cukup apa yang diberikan kang geni pada keluarga kami, aku tidak mau berharap lebih... " Ucap lirih dari bibir Diah ayu, walau memang hatinya terasa perih dia mencoba untuk tetap tabah.


Setelah semua siap, kembali Diah Ayu menghidangkan minuman serta makanan yang sempat jatuh tadi dengan yang baru, terlihat canggung cara dia menghidangkan makanan, tidak seperti biasa walau dia sendiri sudah coba dengan seperti biasanya, tetap saja dia seakan canggung dengan identitas kang Geni dan keluarganya.


Kejadian ini tidak lepas dari pengamatan Wisang Geni, dia tahu betul sikap sang gadis sedikit aneh.


" Apa Diah Ayu mendengar percakapan tadi?... "Batin Wisang Geni menerka-nerka.


Setelah menyiapkan hidangan alakadarnya Diah Ayu keluar dari ruangan tersebut dan obrolan pun berlanjut.


Setelah semua kembali dalam keadaan normal seperti semula Wisang Geni menjelaskan peristiwa yang terjadi pada paman supar dan Kang Bojo. Dua orang ini pun langsung bisa menerima penjelasan Wisang Geni.


" Lalu bagai mana rencana mu nak Geni? " Tanya paman supar bingung.


"Jadi kita akan merebut kembali kerajaan yang memang hak dari ayahanda Cokro." Ucap Geni mantap.


"Apa nak Geni akan berperang secara terbuka dengan Kerajaan Mataram yang mempunyai pasukan lebih dari 10.000 prajurit? " Tanya paman supar masih dalam Keadaan bingungnya.


"Benar paman... Kita akan perang terbuka dengan bantuan dari prajurit Pajang" Ucap Wisang Geni dengan mantap.


"Apa semua prajurit Pajang ikut nak Geni? " Tanya paman Supar.


" Tidak paman, saya hanya minta 1500 prajurit, sepertinya itu sudah lebih dari cukup" Jawab Wisang Geni dengan mantap.


"Apa... " Ucap kedua bapak dan anak itu dengan nada kaget serta tidak percaya.


Sontak semua orang berfikir itu adalah misi bunuh diri, bahkan ingin merebut kerajaan dengan seper sepuluh dari kekuatan, harusnya prajurit Pajang dia kali lipat kalau ingin merebut kerajaan Mataram. Bahkan raja sedikit ragu dengan keputusan anak angkatnya tersebut. Bahkan bawahan Wisang Geni pun kaget dengan pernyataan Wisang Geni tersebut, mereka tidak mengangkat anak muda ini akan nekat terlebih lagi mereka jelas kalah dalam jumlah serta persenjataan.


"Aku harap semua berjalan sesuai rencana yang telah saya susun, dari situ kita membutuhkan dukungan dari rakyat Mataram " Ucap Geni yang juga belum memberitahukan secara jelas rencana yang telah dia susun.