SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
HUTAN MENTAOK



Pagi yang sangat cerah, udara pagi yang segar serta cahaya pagi yang mulai nampak dari kejauhan. Tapi itu semua tidak merubah rasa khawatir prajurit yang akan menuju alas mentaok. Seribu lebih prajurit telah berkumpul di halaman depan keraton. Sebenarnya mereka juga berfikiran tak jauh dengan Calon patih muda Karno, mereka merasa di korbankan oleh sang raja. Tapi apa boleh dikata, menolak pun tak bisa.


"Apa semua sudah siap" Ucap Karno dengan lantang dari atas kuda yang dia tunggangi.


"Siap... Siap" Ucap prajurit hampir serempak menanggapi ucapan pimpinan mereka.


"Melihat rombongan raja keluar dari keraton sontak Karno turun dari kuda dan langsung menghadap sang raja dengan hormat di ikuti prajurit lainnya.


" Yang mulia, hamba beserta pasukan telah siap, mohon restu dari paduka" Ucap Karno sambil menunduk memberikan penghormatan.


"Laksanakan seperti apa yang telah aku perintahkan, dan ingat, jangan sampai ada kesalahan! " Pesan Raja Ageng gumilar pada calon patih muda tersebut.


Perjalanan melewati alas mentaok akan memakan waktu kurang lebih 1 bulan, perjalanan yang cukup lumayan panjang, di tambah sesampai di hutan mereka harus membuat tempat untuk perbekalan.


Kurang lebih 1500 prajurit tidak ada yang menggunakan perlengkapan prajurit dalam misi kali ini. Mereka membawa pakaian layak nya penduduk biasa. Semua persenjataan disimpan dalam pedati atau kereta yang di tarik sapi atau lembu. Ini semua dimaksudkan agar tidak dapat di pantau telik sandi Kerajaan Pajang, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Raja Ageng dan penasehatnya.


Perebutan kekuasaan kali ini hampir semua aspek masyarakat ikut andil, pasukan jogo boyo akan di pimpin oleh paman Loka kaya dibantu dengan perguruan ki Braja musti beserta murid barunya. Mereka akan menyerang dari selatan keraton Mataram.


Dari dalam sendiri jika pertahanan telah kacau makan tawanan perang dalam keraton akan di pimpin oleh Kebo Edan Sukma Aji.


Dari utara keraton yang tak jauh dari pelataran luas dimana disana rencana akan menyerang prajurit dari Pajang, tentunya di pimpin langsung oleh Raja Hadi beserta Raja Cokro. Tentunya mereka akan melaksanakan strategi memancing harimau keluar sarang.


Dimana strategi memancing pasukan musuh masuk dalam perangkap yang telah dipersiapkan di pinggiran alas mentaok yang berbatasan langsung dengan keraton Mataram. Perangkap tersebut memang cukup sederhana hanya hujanan anak panah yang jumlah cukup banyak. Ini diharap dapat membunuh sebagian prajurit musuh.


Dan apa peran Gilang atau Wisanggeni?, pemuda ini akan melumpuhkan sebagian besar prajurit Mataram dengan racun. Memang tugas dirinya terlihat mudah, tapi jika hal tersebut diketahui pihak keraton mustahil dirinya akan selamat. Hal tersebut sudah di perhitungkan oleh Raja Cokro, Raja Hadi beserta prajurit lainnya, bahwa Wisang Geni lah yang akan menentukan awal serangan.


Dan hal ini lah yang meyakin kan Raja Pajang untuk mau membatu pemuda tersebut, dirinya tak lantas berdiam sebagai pengatur jalan peperangan, tapi dirinya mengambil bagian yang memang bisa dikatakan cukup berbahaya.


\* \* \* \* \*


Menjelang Siang Pasukan yang dipimpin Karno akan segara memasuki hutan mentaok, mereka beristirahat sejenak untuk sekedar makan dan minum.


"Dengar para prajurit yang gagah perkasa,... " Ucap Karno selaku pimpinan prajurit tersebut, sentak semua mata tertuju pada pemuda yang berdiri pada batu yang agak tinggi tersebut.


"Jelas Ki patih Raja kami adalah yang mulia Ageng Gumilar, dan jujur hidup kami tidak lebih tenang jika di banding Raja terdahulu" Ucap salah satu prajurit yang dituakan atau bisa dikatakan kepala prajurit.


"Benar... Seandainya Raja yang lama masih ada, apa kalian mau berjuang bersama beliau? Kerusuhan yang terjadi di Mataram memang Raja Ageng yang menciptakan guna menggulingkan kekuasaan Raja yang sah" Ucap Karno coba merebut hati dari prajuritnya, dia rasa cara ini yang ampuh untuk menyentil nurani dari para prajurit yang dia pimpin.


Sejenak semua prajurit terdiam, mereka memikirkan kehidupan yang mereka jalani saat ini. Penuh dengan tekanan serta ketakutan atas kekuasaan sang Raja.


"Lalu kami harus bagai mana patih? Kalau kita memberontak sama saja bunuh diri" Ucap salah satu dari mereka di ikuti anggukan yang lainnya.


Aku dengar Kerajaan Pajang ingin menyerang Mataram, kalian tahu bahwa Raja Pajang merupakan adik ipar dari Raja Cokro, apa kita tidak lebih baik bergabung dengan mereka " Ucap Karno coba meyakinkan. Mereka terdiam kembali tanpa suara saling pandang satu dengan yang lain.


"Kalau itu yang terbaik... Kami siap patih, demi anak cucu kita nanti, kita harus merebut kembali kehidupan, kebebasan yang diambil Raja Ageng" Ucap menggebu-gebu dari salah satu kepala prajurit tersebut.


"Benar.... Betul... Kita akan melawan Raja lalim itu" Ucapan dari prajurit saling bersautan. Patih Karno tersenyum melihat kekompakan serta keputusan prajurit yang dia bawa.


"Baik... Sekarang kita percepat perjalanan kita, semoga Pajang mau menerima kita sebagai Sekutu" Ucap Karno kembali menaiki kuda nya. Perjalanan pun segera dilanjutkan setelah semua selesai kegiatan makan siang, prajurit kini punya semangat baru, tidak seperti sebelumnya, mereka menganggap bahwa mereka adalah tumbal dari perang ini, atau sebagai umpan untuk mengetahui kekuatan musuh.


Di pihak Pajang pun mengetahui pergerakan pasukan Mataram ini, disamping berita dari telik sandi juga bentuk tubuh mereka yang masih tampak kekar walau usia sudah tidak muda lagi.


"Yang mulia, apa kita serang mereka sekarang? " Tanya salah satu telik sandi pada raja Cokro.


"Biarkan mereka singgah dulu, setelah mereka kurang waspada baru kita habisi mereka" Ucap raja Cokro dengan nada garang.


Tak berapa lama prajurit mataram masuki tempat dimana desa yang berada dalam hutan tersebut, Karno merasa ada yang janggal dalam desa tersebut.


"Kenapa desa ini aneh, sedikit sekali perempuan dan anak-anak kecilnya, apa mereka kawanan perampok, atau.... " Pikiran karno membayangkan suatu hal yang buruk, belum sempat dia memerintah kan pasukan bergerak melanjutkan perjalanan tiba-tiba terdengar sapaan yang penuh intimidasi.


" Kenapa kisanak buru-buru pergi, kasihan para prajurit yang kelelahan itu" Suara yang penuh wibawa di sertai tekanan tenaga dalam yang sungguh kuat pun terdengar tepat di belakang punggung nya.


"Maaf paman aku tidak tahu apa maksud paman" Ucap Karno menanggapi pertanyaan tersebut, batin Karno seperti tersambar petir karna penyamaran mereka terbongkar dengan mudahnya.


Walau Karno tetap tenang namun sang raja pun tahu bahwa jawaban pemuda ini bohong, sempat terlihat di sudut mata pemuda tersebut nampak panik dan ini lah yang dijadikan dasar paman tua yang nampak gagah tersebut, Paman tersebut adalah raja Pajang.