SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
SIAPA???



Wisang Geni menyimak semua keterangan dari gadis ini dengan penuh perhatihan, dia tak mau menyinggung perasaan Lokahita. Gadis yang mempunyai tempat yang sama dengan Diah Ayu dalam hati pemuda ini.


"....jadi seperti itu kang,apa yang kakang tuduhkan semua itu tak berdasar. Dan aku berharap kakang dapat bertemu dan berbicara langsung dengan beliau." Keterangan Lokahita yang cukup banyak memberikan informasi pada Geni. Memang Lokahita bermaksud mengajak pemuda ini bertemu ayahnya agar kesalah fahaman ini dapat diselesaikan.


                               * * * * * * *


KERAJAAN MATARAM


Situasi wilayah kerajaan Mataram tak kunjung aman, justru semakin mencekam. Raja Mataram hanya bisa duduk dengan sedih,ketika melihat wilayah kerajaan mataram semakin kacau, ditambah hilangnya putri kedua dari sang raja,Diah Pitaloka.


"Prajurit panggilkan maha patih Sastro untuk menghap pada ku!" Printah sang raja dengan tegas, meski tampak jelas wajah beliau menyiratkan beban mental yang sungguh berat.


"Dewta yang Agung...apakan kerajaan yang di bangun leluhur harus berakhir di tangan ku?!" Batin sang raja sambil duduk pada kursi kebesarannya.


Pandangan sang raja menerawang jauh,mengingat kehidupan rakyatnya yang dulu makmur, sekarang hancur dia melai hanyut dalam lamunannya.


"Patih sastro menghadap paduka raja..." ucap maha patih satro,terlihat sang raja hanya duduk melamun dan tak menjawab seruan dari patih Sastro. Melihat sang raja tak menjawab dia mengulangi ucapannya dengan nada lebih kencang.


"Patih Sastro menghadap paduka raja..." seruan patih Sastro menyadarkan lamunan sang raja. Patih Satro pun menyadari keadaan sang raja, dengan keadaan Mataram yang kacau ditambah hilangnya putri kedua sang raja pastilah beban lelaki paruh baya ini tak sederhana.


"Kau sudah datang patih...duduklah, aku ingin bicara sesuatu padamu." Perintah sang raja dan segera patih Sastro duduk di kursi samping sang raja.


"Patih...empat tahun ini kerajaan dalam keadaan kacau, banyak perampokan yang terjadi. Apa Patih tidak curiga sesuatu?"tanya sang raja pada patih sastro.


"Hamba tidak berani menduga-duga sang raja, hamba kawatir akan menyinggung perasaan orang lain." Sang patih tidak berani menuduh lantaran dia sendiri pun tak tahu apa maksud raja Cokro.


Dengat penjelasan ku kakang patih, selama dua tahun terakhir ini aku menutus telik sandi untuk menyelidiki semua pejabat kerajaan termasuk dirimu. Semua tidak ada masalah dengan para perampok atau pembuat onar. Tapi setiap kakang perdana mentri(penasehat raja) ikut dalam pembersihan pasti ada kejanggalan disana." Terang raja Cokro pada Patih Sastro.


Patih Sastro nampak bingung dengan keterangan yang di berikan sang raja. Diatak tahu harus berkata apa menanggapi masalah ini.


"Setiap kakang Ageng Gumilar pergi ke suatu kota tak lama setelah dia pergi pasti ada perampokan atau pembantaian disana. Dan setiap kali kakang Ageng menghadap dia seperti tidak terpengaruh laporan para patih muda mengenai kerusuhan yang terjadi, wajahnya seakan datar dan akan tahu hal tersebut." Sambung raja Cokro menguatkan pendapatnya.


"Kalau pun ki Ageng Gumilar dalang dari kekacauan mataram apa tujuannya paduka?" Sambung sang patih masih bingung.


"Aku sendiri juga bingung apa maksud dan tujuan kakang Gumilar melakukan semua ini jika memang benar dia dalang dari semua ini?" Jawab sang raja bingung seperti halnya maha patih sastro.


"Besok bawalah semua prajurit yang ada,jemput putri ku di kerajaan pajang. Tanyakan kenapa mereka menculik putriku?" Perintah sang raja sedikit emosi kembali mengingat gadis cantik yang selalu riang dan susah diatur itu, yang selau bercanda dengannya.


"Ampun paduka...mendengar dari ketetangan paduka sebaiknya hamba hanya membawa 50 prajurit saja. Kita tidak boleh menuduh raja pajang menculik tuan putri. Kalau hampa membawa pasukan yang tersisa sama hal nya menantang perang kerajaan pajang." Patih Sastro memberikan pendapat pada sang raja.


"Jika memang ki Ageng dalang dari kerusuhan maka kita harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan paduka, jika keterangan paduka benar saya kawatir akan terjadi pemberontakan untuk menggulingkan kekuasan paduka. Biarlah prajurit yang tersisa berjaga untuk mepertahankan kota mataram." Lanjut sang patih memperjelas maksudnya.


"Kalau  itu baik menurut mu kerjakanlah kakang patih, aku menunggu kabar baik dari kakang Patih" perintah raja Cokro, dia berharap tak akan terjadi masalah dalam menjemput putrinya dari kerajaan Pajang.


Ambisi terkadang dapat mempengaruhi jiwa dan mental seseorang. Dari sini pula akan muncul berbagai hal yang menuntut untuk dipenuhi. Harta,tahta dan wanita seakan menjadi hal yang perlu untuk di penuhi dalam mumuaskan ambisi.


Jika ambisi sudah berbicara maka "Aku" menuntut untuk dipenuhi sepenuhnya, hak ku, punya ku ,milik ku, seakan-akan aku lah segala-galanya. Tidak perduli dengan norma dan susila. Tak memperdulikan kehidupan manusia lain, aku seakan-akan hidup sendiri tanpa orang lain.


Hal ini lah yang sering menimbulkan malapetaka baik untuk negara,masyarakat,keluarga dan bakan AKU akan menjadi korban dari Ambisi sang AKU sendiri.


Maka dalam kehidupan hendaklah menghilangkan "AKU" dalam kehidupan bermasyarakat, dengan begitu kehidupan dapat berjalan secara normal. Penting untuk mengenyampingkan "AKU" agar kehidupan dapat berjalan sesuai norma serta aturan yang telah ditetapkan.


Tuhan memberikan munusia manusia akal, fikiran dan nafsu. Bukan untuk diunggulkan salah satu dari ketiganya. Tapi memang diperlukan untuk menyelaraskan kehidupan. Saling terkait satu dengan lainnya. Jika hilang salah satu dari ketiga hal tersebut maka tak akan ada kata selaras dalam sebuah kehidupan.


Ini lah yang sedang terjadi di kerajaan Mataram di malah salah satu diri tiga yang di berikan oleh Tuhan di unggulkan salah satunya. Dimana nafsu lebih dominan,lebih kuat dari keduanya. Maka akan muncul Ambisi dari sang AKU yang selalu ingin dipenuhi. Tak ayal kehidupan yang tentram jadi terusik, karna perlu memuaskan nafsu dari sang AKU.


Mengabaikan akal dan fikiran, hal inilah yang memicu terjadinya kekacauan di bumi Mataram. Jika kita tidak bisa menyelaraskan akal, fikiran dan nafsu maka akan menimbulkan kerugian tak hanya kita,tapi masyarakat sekitar pun merasakan dampaknya. Jika kita berfikir menggunakan akal maka hal ini tak akan terjadi.


Dengan apa manusia dapat menyelaraskan ketiganya?. Manusia dapat menyelaraskan ketiganya dengan berfikir mengunakan akal agar nafsu tetap dapat kita gunakan seperti yang kita inginkan. Tidak mengutamakan nafsu untuk berfikir yang mana akan minimbulkan akal-akalan untuk mengakali segala sesuatu yang bisa diselesaikan dengan fikiran yang tenang.


Dengan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa setiap insan manusia pasti akan tahu dan sadar bagai mana cara mengendalikan nafsu dengan akal dan fikiran.