
"Terimakasih nak Geni... Entah aku harus balas dengan apa?" Ucap Braja Musti dengan sopan.
"Sesepuh tak perlu ada peradatan seperti ini... sesepuh jika tidak keberatan pergilah ke desa Bambu Kuning temui keluarga Paman Supar katakan sesepuh kakekku, dan mintalah mereka membuatkan pil jiwa. Dengan begitu sesepuh bisa lebih cepat pulih." Pesan Wisang Geni pada Braja Musti.
"Untuk sementara sampai Mataram kembali tenang saya harap sesepuh dapat melindungi keluarga tarsebut, dan kelak sesepuh dapat mendirikan padepokan Bangau merah didekat rumah paman Supar, dengan demikian sesepuh tidak perlu kawatir dengan anggota yang terluka saat latihan serta peningkatan kekuatan para murid karna keluarga paman Supar ahli obat hebat." Jelas Wisang Geni panjang lebar kepada Braja Musti.
Entah apa yang menyebabkan Braja Musti langsung menyetujui usulan dari pemuda ini, padahal dia orang yang sulit percaya dengan orang yang tak di kenal.
Wisang Geni bukan tanpa alasan membuat rencana seperti itu, keluarga paman Supar tidak bisa bela diri. Dengan adanya sesepuh Braja Musti dia berharap bisa melindungi paman Supar dan yang pasti dapat melindungi gadis yang telah merebut hatinya.
Braja Musti merasa tidak enak dengan kebaikan yang di berikan Wisang Geni pada. Yang awalnya dia merasa curiga akhirnya kini dia merasa senang dengan pemuda penyelamat nya ini.
"Nak Geni... Orang tua ini tidak punya apa-apa untuk membalas semua kebaikan nak Geni, bagai mana kalau aku menurunkan ilmu pamungkas ku padamu?" Tawar Braja Musti pada anak muda ini, karena selama dia mengajar padepokan Bangau Merah belum menemukan murid yang berbakat seperti anak ini. Walau sekilas kemampuan anak ini hanya setingkat pendekar utama tapi sudah mampu menandingi dia.
"Itu...aku... Baik lah sesepuh" jawab bingung Wisang Geni tak tahu berkata apa.
"Pemuda bodoh... Masih memanggil ku sesepuh!" Kekeh penuh kemenangan Braja Musti menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.
Akhirnya Wisang Geni memilih salah satu gua yang ada di hutan tersebut untuk merawat guru keduanya. Wisang Geni di ajari ilmu gumbolo geni, ilmu pamungkas dari Ki Braja Musti. Guru kedua Wisang Geni pun kaget setelah melihat perkembangan Wisang Geni baru sepekan dia belajar tapi sudah menguasai jurus ini dengan baik.
Semua itu dikarenakan ilmu gumbolo geni tak berbeda dengan jurus halilintar yang membedakan aliran yang terkandung adalah api. Ki Braja curiga kalau kemampuan Wisang Geni hanya pendekar utama.
"Murid ku... Sekarang guru akan latih dengan mu" ucap Braja Musti sambil menyerang Wisang Geni.
" Guru kedua...guru belum sembuh" jawab Wisang Geni sambil menghindar. Akan tetapi sang guru tetap menyerang tanpa memperdulikan keadaannya.
Pukulan dan tendangan saling beradu, walau sang guru unggul dalam jurus serta pengalaman tapi dia belum sembuh sepenuhnya.
Bloamm...duar... Bunyi jurus saling beradu. Kali ini Wisang Geni menggunakan jurus gumbolo geni di padukan jurus halilintar.pukulan tersebut melesat menuju dada sang guru. Ki Braja langsung menggunakan ilmu pertahanan Tameng wojo.
Duar... bloam...Serangan Geni bertemu dengan pertahan sang guru, Ki Braja kaget bukan main karena pertahanan dapat di hancurkan.
"Uhuk..uhuk... " Ki Braja terpental beberapa langkah ke belakang.
" Maaf guru... Murid tidak sengaja" ucap Geni sambil menuju sang guru untuk menolong nya.
"Murid bodoh... Kami kira guru mu akan mudah terluka?" Ucap sang guru bangga dengan hasil yang di capai Geni. Braja musti merasa jurus gumbolo geni yang di gunakan muridnya lebih dahsayat dari jurus sebelumnya.
" Benar guru...aku menggabungkan dengan jurus halilintar, mohon maaf guru bukan maksud murid membohongi guru, sebenarnya saya berada pada tingkat ksatria pilih tanding, tapi guru Resi Tomo meminta saya untuk menyembunyikan kemampuan bela diri murid" jelas Wisang Geni dengan panjang lebar serta penuh penyesalan.
"A... Apa?! Kau berada ditingkat ksatria pilih tanding?" Ucap kaget sang guru disertai rasa bangga pada muridnya.Q
"Walau kondisiku sehat pasti akan sulit mengalahkan pemuda ini" batin sang guru.
"Baik guru besok akan pergi ke desa Bambu Kuning untuk melanjutkan pengobatan ku" ucap sang guru sambil duduk mengumpulkan kekuatannya.
Wisang Geni menjelaskan pada Ki Braja tentang tujuan perjalan ke Nihon, serta pagi itu akan melanjutkan perjalanan.
" Maaf guru... Murid tidak berbakti tak dapat mengantar guru"ucap Geni penuh penyesalan pada guru barunya.
" Tidak apa murid ku...tujuan mu juga merupakan bakti kepada Resi Tomo, kelak jika padepokan guru sudah berdiri lagi jangan lupa singgah!" Perintah Ki Braja pada Wisang Geni.
" Maaf guru, murid akan titip seseatu untuk keluarga paman Supar mohon Sudi kira nya guru menyerahkan ini" pinta Wisang Geni sambil menyerahkan buntelan kecil pada Ki Braja. Sang guru tak melihat isi dari buntelan tersebut dan berjanji akan menyerahkan pada keluarga paman Supar.
Hari menjelang siang, akhirnya guru dan murid itu berpisah. Ki Braja Musti sudah hampir pulih, maka dia dapat bergerak seperti biasa cuma dalam tenaga dalam belum pulih total.
Setelah perjalanan 2 hari akhirnya Ki Braja sampai di kediaman paman Supar dan menjelaskan maksud serta tujuannya. Mendengar nama Wisang Geni wajah keluarga itu tampak bahagia terutama sang gadis cantik yang mulai tumbuh dewasa itu.
" Maaf Supar ini ada titipan dari cucuku Wisang Geni." Ki Braja menyerahkan buntelan yang di bawanya.
Paman Supar kaget melihat isinya Kupang emas sebanyak 500 Kupang.
" Mohon paman Supar membagi dua dengan kakek Braja Kupang ini." Tulis Wisang Geni pada sepucuk kertas dalam buntelan itu.
Seketika Ki Braja Musti pun kaget setelah paman Supar menyerahkan sebagian Kupang yang di berikan Wisang Geni untuk nya.
"Sungguh anak baik" batin Ki Braja, dia tahu Wisang Geni memberikan Kupang untuk membangun padepokan baru. Dia tidak langsung menyerahkan pada sang guru karena pasti sang guru akan menolaknya.
Wisang Geni melanjutkan perjalanan menuju kadipaten Bantul, kadipaten terakhir sebelum memasuki kerajaan Mataram.
Dua hari berlalu Wisang Geni telah sampai di kadipaten Bantul. Siang itu di memasuki desa terdekat untuk istirahat serta makan siang dan lagi bekal makanan sudah habis. Wisang Geni bermaksud mencari warung makan, sudah hampir 12 hari ini dia hanya makan buah serta daging ayam yang dia dapat dalam hutan sepanjang perjalanan.
Dia bermaksud bermalam di desa ini sambil mengumpulkan informasi yang dia butuhkan. Karena sepajang perjalan dia tak menjumpai seorang pun, ini disebabkan karena kacaunya kerajaan Mataram yang mengakibatkan krisis ekonomi serta penduduk takut melakukan aktifitas walaupun di siang hari.