
Dengan gesit Geni menyambar Pitaloka yang ada diatas kuda sebelah dirinya.
Wuzz... Wuzz crap... Crap... Bunyi anak panah tepat mengenai kuda muda-mudi ini. Kuda ini lumpuh terjatuh, karna anak panah yang digunakan mengandung racun pelumpuh syaraf.
"Keluarlah kalian! Aku sudah mengetahui kalian mengikuti kami dari kadilaten kudus." Teriak Wisang Geni yang memang telah mengetahui akan adanya bahaya. Muncul 20 orang dengan muka dan perawakan seram. Kemampuan mereka bisa dikatakan cukup tinggi, Rata-rata mereka berada pada tingkat Ksatria madya tingkat 1 dan terlihat satu orang pada tingkat Ksatria madya tingkat 2 akhir, sebentar sedikit lagi akan mencapai tingkat Ksatria utama.
Wisang Geni cukup kawatir karna kemampuan lawannya kini lebih kuat, walaupun dia bisa menghadapi orang terkuat di kelompok itu, tapi bagaimana dengan Pitaloka? Jangan kan melawan banyak orang satu orang di antara mereka pun gadis ini pasti akan kesulitan.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Wisang Geni membuka omongan, sebenarnya Geni sudah tahu apa yang mereka inginkan, Geni hanya ingin bernegosiasi dengan para penghadang ini.
"Tuan baik... Kami hanya ingin meminta barang yang kalian bawa, dan satu lagi... Tinggalkan gadis istrimu untuk kami" Ucapan salah satu orang ini, mereka tertawa secara serempak, tawa kemenangan nampak di wajah kelompok ini. Mereka dapat mengetahui bahwa pemuda ini hanya pada tingkat pendekar utama sedang sang gadis berada pada tingkat Ksatria madya tingkat satu.
Jika dilihat memang 2 orang ini bukan lawan dari mereka.
"Tenang... Kelompok ini kemampuannya jauh diatas kita" Bisik Geni pada gadis yang berada dispingnya.
"Baik kang... Tapi aku tidak takut pada bajingan tengik ini" Jawab Pitaloka, darahnya seakan mendidih mengetahui mereka adalah grombolan orang yang suka memeras penduduk yang melintas tempat ini.
Wisang Geni bukan tanpa alasan mengajak mereka negosiasi, dia melihat lokasi sekitar apa ada perangkap atau tidak, serta merencanakan jalan pelarian kalau seandainya mereka terpojok. Perampok melihat Geni yak membawa bekal atau buntelan, ini diartikan bahwa wisang Geni adalah orang miskin.
Dari kelompok itu hanya ketua kelompok tersebut yang mewaspadai orang bertopeng yang mereka hadang. Dia merasakan aneh dan misterius orang tersebut. Dia tak mau gegabah seperti halnya anak buah pimpinan tersebut.
"Kisanak kau sungguh beruntung memiliki istri secantik bidadari, tapi tak lama lagi dia akan ku nikmati.. Ha... Ha... Ha... " Tawa lepas salah seorang perampom itu.
Mendengar kata-kata para penjahat ingin menikmati gadis yang bersamanya darah pemuda ini mendidih seketika, dan ingin menghabisi mereka semua.
"Pitaloka... Kau carilah tempat bersembunyi!" Perintah Wisang Geni pada Pitaloka.
"Tidak kakang, kalau harus mati kita akan mati bersama" Jawab Pitaloka dengan serius.
Pitaloka kaget melihat perubahan kekuatan Wisang Geni yang tiba-tiba menjadi ksatiria madya tingkait 2.
Wisang Geni tidak memanipulasi kekuatannya lagi, dia emosi karna ucapan para perampok yang melecehkan gadis yang dia sayang.
Wisang Geni memerintahkan Pitaloka untuk pergi bukan tanpa alasan, dia tidak ingin waktu bertarung kosentrasinya akan terpecah karna harus melindungi gadis ini. Sisi kelam wisang Geni muncul, kejadian yang dulu terjadi pada dirinya terbayang kembali. Yang ada dalam hati pemuda ini hanya kata-kata bunuh semuanya.
Para perampok yang menyadari keadaan ini pun sempat kaget, tapi karna menang jumlah mereka merasa diatas angin, kemenangan pasti akan jadi milik mereka.
Dengan kwalitas tubuh yang memang special, pemuda ini mampu bertanding dengan 2 tingkat diatas kemampuannya, serta penguasaan seni bertarung ajaran guru Tomo, jadi bisa dipastikan pemuda ini yang berada di atas angin. Tapi emosi yang meluap-luap akan mempengaruhi hasil dari sebuah pertandingan.
Pemuda ini seakan lupa harus mengendalikan emosi yang dia miliki.
Pimpinan perampok yang menyaksikan kaget melihat kejadian tersebut, dia pun tak mau menganggap remeh laki-laki bertopeng yang misterius ini.
"Kalian jangan lengah, abaikan wanitanya, pusatkan perhatian kalian pada laki-laki itu, kalau perlu sandara perempuannya."perintah kepala pimpinan perampok yang mulai sedikit cemas. Karna sang gadis yang bersama pria ini akan mudah di tangkap apalagi kemampuannya di level Ksatria tingkat 1.
"Aku peringatkan pada kalian sekali lagi, cepat bertobat atau kalian akan mati hari ini" Ucap Wisang dengan senyum sinis.
Kepala perampok memang sudah menduga orang bertopeng ini tidaklah mudah di mudah untuk dikalahkan. Walau di kepung banyak orang dia tetap tenang meskipun kemampuannya hanya pada tingkat pendekar utama pada awalnya. Apalagi setelah kini tahu orang ini dapat meningkatkan kemampuannya pada level yang cukup tinggi dan sama dengan dirinya(kepala perampok).
"Untuk mengalahkan kalian aku tak perlu membuka mata" Ucap Wisang Geni sambil menutup mata. Dia akan mengunakan jurus tarian dewata, jurus yang ampuh dimana jurus ini akan meluapkan segala emosi yang dia rasakan saat ini. Teringat nya di dengan kejadian pembantaian calon prajurit Pajang, ditambah perkataan para perampok yang melecehkan gadisnya.
"Aku punya pilihan untuk kalian, bertobat dan jadi anak buah ku, atau mati tengan tubuh tak dapat dikenali" Ucap Wisang Geni dengan nada yang amat sombong. Entah kenapa penuda ini bersikap aneh seperti itu batin Pitaloka yang belum pernah melihat Wisang Geni berlaku seperti ini.
"Baik jika itu keinginanmu, tapi jika kau kalah kau harus menjadi budak kami, serta serah kan istrimu untuk kami" Ucap wakil perampok yang sedang melakukan persiapan pertarungan dengan orang bertopeng ini. Janji seorang bajak laut memang pantang untuk di langgar, setidaknya itu lah sumpah yang mereka ucapkan sebelum membentuk kelompok bajak laut ini.
Bajak laut ini diketuai Ki Macan kumbang, seorang ahli beladiri di padepokan Macam Alas, dimana padepokan ini adalah padepokan yang pernah dihancurkan oleh Raja Pajang karna padepokan ini dikenal sebagai perguruan yang memang sadis dalam jurus-jurusnya serta perguruan ini selalu memungut upeti pada masyarakat secara paksa.
Itulah alasan yang mendasari raja Pajang menghancurkan padepokan ini, bahkan Raja Pajang yang mimpin pasukannya dalam penyerangan itu karna waktu itu perguruan ini meresahkan rakyatnya.
Ki Macan kumbang melihat orang yang akan menjadi lawannya sudah menutup mata.
"Tunggu apa lagi cepat serang! " Perintah sang ketua bajak laut itu pada anggotanya.
Mendengar perintah pimpinan mereka para perampok pun melancarkan serangan mereka. Tak kurang dari 10 orang menyerang langsung pada Wisang Geni.
Wisang Geni hanya tersenyum sinis merasakan energi para penjahat ini.