SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
TERTANGKAP BASAH



Raja Cokro yang mengetahui keponakannya masuk kamar Wisang Geni pun membiarkannya, dia percaya bahwa kedua muda-mudi ini mampu menjaga diri, dia percaya akan keputusan dari raja Cokro yang menyerahkan keselamatan putrinya pada pemuda yang menurutnya masih misterius ini.


"Kalau kang Cokro percaya kenapa aku harus ragu," Batin sang raja sambil menuju tempat peristirahatannya.


Didalam kamar tampak dua insan manusia saling berbincang-bincang. Walau di hati kedua insan ini telah tumbuh apa yang namanya cinta tapi kedua nya sama-sama tidak mau membahas hal ini karna situasi memang sedang kacau, terutama daerah


"Kakang aku mau tanya sesuatu, boleh?" Pinta Pitaloka pada pumuda yang ada disampingnya.


"Silahkan" Jawab Wisang Geni singkat, bukan tidak mau atau malas bicara, pemuda ini sedang berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dada. Setiap detik bersama Pitaloka, perasaan ini bertabah besar.


"Apa yang kakang rasakan waktu kita... " Pertanyaan tak terselesaikan dari Pitaloka, tapi Wisang Wisang Geni tahu kemana arah tujuan pertanyaan tersebut.


"Lalu apa yang kau rasakan waktu itu...? Geni tak menjawab malah melontarkan jawaban yang sama pada Pitaloka. Sontak wajah cantik dari gadis ini memerah, Pitaloka ingin tahu perasaan Wisang Geni, belum dapat jawaban malah ditanya dengan pertanyaan yang sama.


Kali ini Wisang Geni memandang gadis itu dengan tatapan penuh arti, mendapat tatapan seperti itu sontak sang gadis jadi salah tingkah. Dia pun tak mampu mengungkapkan perasaan nya.


"Kenapa kakang menatapku seperti itu, apa ada yang aneh" Tanya gadis itu mencoba mengalihkan arah pembicaraan.


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaan ku," Kali ini ganti Wisang Geni yang meminta jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan sang gadis. Wisang Geni merubah posisi rebahannya, sama dengan apa yang gadis ini lakukan, Pitaloka serba salah dan langsung tengkurap menghindari tatapan Wisang Geni, dia berusaha menghindar dari tatapan sang pemuda.


"Aku malu kang, kakang jangan memandangku terus" Ucap Pitaloka sembari membenamkan wajahnya pada bantal yang ada di depannya. Tak beda dengan Wisang Geni, gadis ini pun mehan gejolak dalam dadanya, setiap berada di samping pemuda ini dia ingin mengulang kejadian yang pernah mereka laksanakan.


Entah hanya perasaan Geni atau dia yang terlalu bernafsu melihat gadis ini, batin pemuda ini mengatakan bahwa gadis ini ingin sekali mengulang kejadian tersebut. Geni kembali duduk bersandar pada dinding kamar tersebut. Pemuda ini mencoba menahan amukan gelombang nafsu yang mulai bertambah besar, dia seakan tenggelam dalam lautan nafsu tersebut. Jiwa mudanya menuntut untuk segera menuntaskan apa yang membuatnya haus.


Wisang Geni mencoba menenangkan perasaannya, tapi kali ini seakan beda, pikirannya seakan buntu dan tak mampu berfikir jernih lagi. Ditambah penampilan Pitaloka yang begitu cantik dan anggun menggunakan pakaian yang belum pernah Geni lihat gadis menggunakannya, sungguh lain sekali.


Suasana berubah hening, canggung dan serba salah, kedua muda-mudi ini tenggelam dengan perasaan masing-masing. Genin kembali rebahan miring menghadap sang gadis, dia ingin menggoda gadis tersebut.


Mulut Wisang Geni sudah tak mampu berucap lagi, tapi tangan pemuda ini malah membelai kepala dan punggung gadis ini. Sontak gadis ini terbakar dan panas oleh sentuhan pemuda yang ada di sampingnya. Pitaloka merubah posisinya miring membelakangi pemuda tersebut.


Dengan begini jarak mereka pun semakin dekat, Wisang Geni langsung memeluk sang gadis dari belakang, nafas berat kedua nya pun terdengar, hembusan nafas Wisang Geni tepat mengenai tenggkuk gadis tersebut. Wisang Geni lebih agrisif malam ini, dia menarik tubuh sang gadis agar lebih dekat, bahkan hanya pakaian yang mereka kenakan lah yang membatasi keduanya.


Geni mengecup belakang telinga gadis tersebut, sembari membisikan sesuatu padanya.


"Aku sayang kakang" Ucapan serak dari Pitaloka menutup obrolan ini.


Raja Hadi walau percaya dengan kedua muda-mudi ini tetap kawatir akan hubungan keduanya, dia bermaksud memanggil Pitaloka dan ingin menasehati nya.


Pagi ini Pitaloka tampak ceria sekali, tak nampak beban dalam diri gadis cantik ini.


"Kemarin gadis nakal... " Ucap raja Hadi pada gadis yang menyapanya. Mereka berdua berada di aula keraton yang sepi, dan raja Hadi merasa ini waktu yang tepat untuk menasehati keponakannya ini.


"Kemana kau semalam, dan apa yang kau lakukan dikamar kakang mu Geni?" Pertanyaan tanpa basa-basi langsung terlontar dari mulut sang raja. Wajah Pitaloka pun berubah merah mendengar ucapan pamannya tersebut.


"Apa aku belum cerita kepaman,kalau kang Geni itu ahli pengobatan, aku hanya belajar ilmu pengobatan paman. " Jawaban bohong dari Pitaloka tapi di ucapkan dengan nada serius untuk menutupi rasa malu sang gadis.


Raja Hadi mendengar apa yang keponakannya katakan kaget, dia memang tertarik dengan semua hal terlebih ilmu silat dan ilmu penempaan senjata, walau tidak begitu tertarik dengan ilmu pengobatan, tapi dia kagum pada orang yang mampu mendalami ilmu ini, menurutnya ilmu pengobatan adalah ilmu yang sulit baginya, dari situ sang raja tidak begitu tertarik.


"Coba kau panggil kakang mu, aku ingin tahu apa dia memang jago dalam ilmu pengobatan." Sang raja memang senang dengan pemuda yang berbakat, terlebih kalau mereka masih sangat muda, sebab ilmu pengobatan biasanya hanya dikuasai orang-orang yang sudah cukup berumur.


Di Kerajaan pajang dia jarang menemui pemuda yang bisa mempelajari ilmu pengobatan di usia yang masih begitu muda, ditambah Geni juga merupakan pendekar hebat, itu menurut yang mereka ,karna sang raja belum melihat kemampuan silat dari pemuda ini.


"Wisang Geni menghadap yang mulia raja" Ucap pemuda yang masih dengan penampilan misterius menurut sang raja karna sampai saat ini dia belum memperlihatkan wajah aslinya.


"Geni apa kamu memang bisa ilmu pengobatan seperti yang aku dengar dari gadis nakal itu(Pitaloka)." Tanya sang raja dengan serius pada Wisang Geni.


"Mohon ampun raja, hamba hanya mengerti sedikit tentang Ilmu pengobatan Pitaloka hanya melebih-lebihkan paduka," Jawab Wisang Geni merendah karna dia takut menyinggung perasaan sang raja.


"Boleh kau Tunjukan pada ku, mari ikut ke tempat balai pengobatan, disana tempat pembuatan obat serta tabib berada," Ajak sang raja sedikit memaksa.


Wisang Geni pun dapat membaca situasi yang sedang terjadi.


"Apakah ada hubungannya dengan Pitaloka, apa gadis itu tertangkap basah sang paman jadi dirinya dijadikan alasan, tampaknya memang begitu," Batin Wisang Geni yang tiba-tiba dicecar pertanyaan sang raja, ditambah Pitaloka yang dari tadi berada di belakang sang raja dengan wajah tertunduk dan raut muka yang masam.