
"Kakang di dermaga itu kapal siapa" Tanya Macam hitam pada paman Waryo.
"Apa kalian tidak tahu itu kapal punya nak Geni?!" Ucap Waryo pada macam hitam,sontak ke tujuh orang itu di buat kaget, serta kagum dengan pemuda yang kini menjadi tuan mereka.
"Pantas istrinya cantik, disamping hebat dia juga kaya" Ucap lirih Macan Putih.
Sore ini rombongan Wisang Geni akan menuju rumah paman Bejo. Mungkin menjelang malam mereka akan sampai jika dengan kuda, tapi masalahnya mereka sekarang tak memiliki kuda, maka rencana akan dia undur besok pagi. Malam ini rombongan Geni akan menginap di dermaga ini, toh ada kapal yang mereka punya jadi tak perlu kawatir masalah istirahat malam.
Pitaloka mempersiapkan tempat untuk istirahat dirinya dan Wisang Geni, gadis ini meminta pada Wisang Geni mengeluarkan barang yang dia bawa dari Kerajaan Pajang.
Yang lainnya pun tidur pada kapal tersebut, mereka tidur pada ruang bagian atas dari kapal tersebut. Mereka tidak berani tidur pada kamar yang ada didalam kapal karna takut mengganggu tuannya.
"Kakang Kumbang kapal begini besar kenapa tidak di manfaatkan jadi kapal perang ya kang?" Tanya macan Hitam pada Macan Kumbang, sebagai juru kemudi kapal di marasa kapal ini percuma jika tidak digunakan secara maksimal.
"Entah... Aku juga tidak tahu, biar nanti aku tanyakan pada tuan Geni" Jawab kumbang dengan heran juga.
Setelah percakapan singkat itu Macan kumbang memberanikan diri untuk bertanya pada Geni.
"Tuan kenapa kapal ini tidak dibuat kapal perang, jika digunakan kapal perang pasti akan sangat bagus, karna kapal ini besar dan kuat" Tanya Kumbang pada Geni yang sedang duduk memikirkan rencana selanjutnya.
"Kapal perang, Lalu apa fungsinya?" Tanya Wisang Geni yang masih awam dan baru mendengar istilah kapal perang. Akhirnya Kumbang, putih serta Macan hitam menjelaskan fungsi kapal perang juga juga fungsinya pada Wisang Geni.
Kapal perang yang akan mendukung kerajaan Pajang yang memang letaknya di daerah pesisir pantai, bisa juga digunakan sarana angkut pasukan jika diperlukan. Terlebih bisa memberantas perompak laut yang meresahkan para nelayan pencari ikan, yang mereka(7 saudara ini) tahu bahwa kerajaan pajang merupakan kerajaan yang letaknya di pesisir pantai utara bumi Jawa, ini pastinya sangat berguna. Penjelasan panjang lebar dari Macan kumbang dan saudara lainnya pada Wisang Geni.
"Aku tidak tahu mengenai kapal perang, dan lagi masih belum memikirkannya?" Jawab Geni yang memang baru kali ini mendengar istilah kapal perang.
"Walau pun kami tidak bisa membantu banyak ini mungkin bisa mengurangi biaya yang dibutuhkan tuan" Ucap paman Kumbang sambil menyerahkan 200 kupang kupang emas pada Geni.
"Apa tujuan paman sebenarnya" Tanya Geni penuh selidik.
"Dulu kami perompak laut, yang selalu merampas harta benda pedagang atau nelayan yang kami jumpai. Mungkin dengan kapal ini kelak kejahatan yang mirip dengan kami lakukan dulu dapat di tumpas, terutama perampokan yang terjadi di laut, dengan kapal ini mungkin dosa-dosa kami yang lalu dapat di ampuni dewata, dan inilah hasil yang kami dapat, kami tak membutuhkannya lagi tuan" Ucap kumbang menyerahkan kupang yang di pegang.
Mendengar keterangan yang di sampaikan paman kumbang dan saudaranya Geni setuju, walau dia juga belum paham betul dengan apa yang dibicarakan ke 7 bawahannya ini.
"Terserah bagaimana baiknya paman, aku ikut rencana kalian" Ucap Geni mendukung sepenuhnya rencana bawahannya ini.
"Tapi nak Geni harus bersabar, tidak mudah membangun kapal seperti itu, setidaknya aku dan kawan-kawan ku butuh waktu kurang lebih 2 sampai 3 tahun" Ucap paman Waryo pada mereka semua, karna kapal ini perlu perombakan total.
Geni dan yang lainnya menyetujui serta membayar upah pembuatan kapal tersebut.
"Ini ada 500 kupang emas paman, aku harap paman Terima, jika kurang kelak akan kami bayar setelah kapal tersebut telah selesai" Ucap Geni menyerahkan Kupang pada paman waryo. Percakapan malam itu pun selesai, Geni ingin beristirahat karna besok mereka akan melakukan perjalanan jauh.
Mereka semua tidur pada kapal Wisang Geni yang didapat secara tidak sengaja itu. Bedanya Geni dan Pitaloka di dalam ruang mereka berada diluar.
"Kenapa lama sekali kang ngobrolnya?" Gerutu Pitaloka sudah mirip istri Wisang Geni.
"Hanya sebentar kami berbincang-bincang, kenapa kau menunggu ku segala, kan bisa tidur duluan, lampu juga menyala apa masih tak dapat tidur?" Ganti Wisang Geni yang yang menggerutu.
"Kakang besok kan kita mau ke tempat paman Bejo, jadi harus istirahat yang cukup supaya tidak ngantuk dijalan" Ucap Pitaloka mirip ibu menasehati anaknya.
"Kau pikir aku anak kecil" Ucap Geni makin sewot.
Pagi pun tiba, ke tujuh bawahan Geni sudah bersiap untuk pergi dari fajar tadi. Geni yang baru bangun pun kaget kenapa mereka sudah siap sepagi ini.
"Ini paman buat minuman hangat dulu aku mandi sebentar" Sambil menyerahkan buntelan Geni langsung membangunkan gadis nya.
Setelah membersihkan diri dan kang Lembah sudah merebus air untuk teh hangat. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki, memang tak begitu jauh rumah paman Bejo dari pelabuhan atau dermaga tersebut.
Matahari tepat diatas kepala mereka, ke tujuh bawahan Wisang Geni masih semangat berjalan, tapi tidak dengan Pitaloka, dia kali ini terlihat banyak mengeluh, bukan karna malas jalan tapi kakinya masih terasa nyeri.
"Baik nanti kalau sudah sampai pasar akan aku belikan kau baju yang bagus, bagai mana?" Tawar Geni agar sang gadis tidak banyak mengeluh.
"Tambah lagi kang...kuda yang kita bawa dulu kita minta saja kang untuk perjalanan ke Mataram." Ucap Pitaloka mengajukan syarat, tak hanya pakaian ternyata gadis ini masih ingat kalau di rumah paman Bejo masih ada kuda mereka.
"Iya gampang itu" Jawab Geni sambil memapah gadis yang ada di sampingnya.
Setelah sampai pasar gadis tersebut membeli baju banyak sekali dia juga membeli baju untuk laki-laki juga, Wisang Geni heran tak biasanya gadis ini belanja pakaian begitu banyak.
"Kau beli baju begitu banyak, apa kau mau jualan?" Tanya Geni sedikit menggoda sang gadis. Gadis ini tak menanggapi pertanyaan Wisang Geni, setelah dirasa semua cukup lalu gadis ini membayar dengan kupang yang dia punya.