SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
TANGGUNG



Wisang Geni mulai merebahkan diri di dekat sang gadis, dia tak memikirkan tawaran dari Pitaloka, hanya tengkurap saja di tempat istirahat tersebut. Setelah Wisang Geni tiduran gadis ini langsung memijat pundak pemuda yang berada disamping dirinya.


"Seharusnya kakang jangan terlalu banyak pikiran, lihat sekarang kakang tampak lebih kurus" Ucap Pitaloka sambil memijat pundak Wisang Geni.


"Tahu dari mana aku kurus, memang dari dulu begini badan ku" sanggah Wisang Geni membela diri.


Pijatan dari gadis ini terasa nyaman serta aroma tubuh gadis ini pun membuat angan Wisang Geni melayang mengingat kejadian yang pernah mereka lakukan pada waktu di rumah paman Bejo. Sang pemuda mencoba menepis pikiran itu, tapi semakin dia mencoba lupakan kejadian itu justru semakin terbayang.


"Sudah Geni kau makan saja gadis ini, dia sudah rela menyerahkan segalanya untukmu" Bisik setan dalam telinga pemuda ini.


Pijatan dari tangan halus ini seakan menambah sensitif semua syarat pada tubuh Wisang Geni, dan setan kali ini menang.


"Dasar gadis nakal" Ucap Geni sambil berbalik badan dan langsung meraih wajah dari gadis ini. Pitaloka yang kaget segera memejamkan matanya. Pemuda ini sekarang lebih agresif dari sebelumnya, dia langsung ******* bibir ranum sang gadis.


Gayung pun bersambut, Pitaloka yang memang dari awal memang sudah terbakar mengingat kejadian indah bersama pemuda, gadis ini pun langsung mengimbangi pertarungan tanpa jurus itu, dia seakan-akan tak mau kalah dengan aksi panas sang pemuda.


Tangan Geni pun mulai nakal, seakan memiliki mata, tangan ini pun bergerak lincah walau dengan keadaan gelap, meraba setiap lekuk tubuh sang gadis.


Tak beda dengan Pitaloka, gadis ini juga tak mau kalah dan berusaha mengimbangi jurus tangan yang dimainkan oleh sang pemuda.


Tangan gadis ini sekarang sudah tak ragu, bahkan tak kalah sengit dengan tangan Geni.


Pertarungan sengit yang semula tanpa suara kini terjadi dengan disertai erangan dari sang gadis, mendesis seperti ular yang hendak mematuk mangsanya. Mendesah seakan sakit tapi tak ingin mengakhiri pergulatan tersebut.


Geni pun menggigit serta menguyah buah yang begitu ranum ini, seakan-akan tak ada puas nya.


Sang gadis pun tak kalah hebat, semakin lama Geni bermain pada buah tersebut semakin liar erangan serta tangannya. Tangan kanannya pun melesat menuju tempat dimana bersarang ular yang begitu ganas.


Gadis ini kaget dengan benda yang begitu besar serta keras tersebut, tapi entah kenapa dia seakan-akan senang dan ingin bermain-main dengan ular tersebut, sungguh beda dengan cerita teman-temannya kali ini ukuran 2 kali bahkan 3 kali dari apa yang pernah dia dengar, baik ukuran ataupun panjangnya.


Geni yang mendapat serangan sepihak pun kaget, tapi kagetnya pun menimbulkan sensasi lain, bahkan dia ingin tangan sang gadis tetap berada disana. Semakin malam pergulatan semakin seru dan panas.


Tok... Tok... Tok... Bunyi pintu kamar tiba-tiba terdengar dari luar, seperti terdengar sedikit panik orang yang berada pada luar kamar tersebut.


"Tuan... Tuan... Apa tuah sudah tidur" Ucap sedikit berbisik dari paman Macan Kumbang memanggil Geni.


Sontak pergulatan yang begitu seru pun terhenti, keduanya merasa tanggung karna belum memulai pertarungan. Dengan cekatan Geni bergegas keluar dengan baju yang masih berantakan, untungnya baju tersebut dari tadi masih dia kenakan dan belum sempat dibuka oleh Pitaloka. Tak jauh beda dengan Gadis ini, hanya sedikit merapikan pakaian nya saja sudah tampak seperti semula, karna memang baru bagian atas saja yang sedikit terkoyak oleh tangan nakal Wisang Geni.


"Ada apa paman...?" Tanya Wisang Geni sambil menyetabilkan suara karna masih serak seperti seorang yang habis melakukan pertarungan sengit.


"Itu tuan...! " Ucap Paman Macan Kumbang sambil menunjukan jari pada daratan yang mereka lewati.


"Ada apa mereka sampai pinggir sungai gede ini? " Ucap Geni sambil berpikir.


"Apa mereka mencari prajurit yang kita bunuh tempo hari tuan" Duga macan Kumbang coba menebak tujuan para prajurit tersebut.


Dan memang benar, prajurit-prajurit tersebut mencari kelompok mereka yang sudah beberapa hari belum pulang karna melaksanakan tugas dari pimpinan kepala prajurit.


"Kakang Macan Hitam cepat, kau jauhkan kapal ke seberang dan sembunyikan di balik semak-semak itu" Perintah Geni menunjukkan semak-semak yang berada di sisi lain, tentunya bersebrangan dengan kumpulan para prajurit tersebut.


Setelah semua prajurit menjauhi bibir sungai dan kembali Geni dan Rombong pun dapat bernafas lega.


"Untung mereka kita kubur kemarin, kalau tidak pasti akan ketahuan" Ucap macam Tutul dengan sedikit berbisik pada Macan Loreng.


"Benar Tutul, untung tuan Geni memerintahkan kita untuk mengubur mereka" Jawab Macan Loreng pada saudaranya.


Setelah semua kembali tenang, mereka pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


Pitaloka masih didalam kamar, dengan posisi tidur tengkurap, gadis ini merasa malu, jengkel dan tanggung, kenapa selalu seperti ini batinnya.


"Apa kau sudah tidur? " Tanya Geni sambil memasuki bilik kecil yang ada pada kapal tersebut. Pertanyaan Wisang Geni hanya dijawab dengan gelengan kepala sang gadis.


"Kau kenapa, apa kamu sakit? " Tanya pura-pura dari Wisang Geni menyapa gadis yang masih membenamkan mukanya pada bantal dari kapas itu.


"Aku malu kang" Jawab Pitaloka tetap dalam posisi tengkurap seperti semula.


Geni langsung merubah tidur gadis ini, Geni memeluk dari belakang sang gadis.


" Berarti kita tidak boleh terlalu jauh dulu" Bisik Geni pada telinga gadis yang ada di pelukannya tersebut. Dan hanya dijawab dengan anggukan oleh sang gadis.


Perjalanan pun telah beberapa hari mungkin akan segera tiba, Wisang Geni menjelaskan dimana mereka akan berhenti serta tanda-tanda desa daun hijau. Pemuda ini pun menjelaskan bahwa ada rumah yang besar di pinggir kali Gede(sungai Besar) ini, dan disana mereka akan berlabuh.


"Rumah seperti apa itu tuan" Tanya Macan Hitam yang memang belum paham.


" Dari kejauhan terlihat seperti sekumpulan rumah, dan dikelilingi pagar, pasti paman Hitam akan tahu, rumah itu terlihat beda dengan yang lainnya" Terang Wisang Geni menjelaskan dengan rinci tanda-tanda dimana mereka harus bersandar.


"Memang itu rumah siapa kang?apa pemilik rumah itu lurah atau semacam kepala desa? " Tanya Pitaloka penasaran dengan keterangan yang diberikan oleh Geni pada paman Macan Hitam.


"Itu gubuk kecil ku, tempat berkumpul teman-teman ku" Jawab Geni berbisik pada telinga Diah Pitaloka.


Perjalanan pun dapat ditempuh dengan aman tanpa ada kendala yang berarti, karna Wisang Geni melakukan perjalanan pada malam hari, sehingga tak ada satupun orang yang mengira, ditambah gelapnya malam serta kabut membantu menyamarkan perjalanan ini.