
Pagi itu wisang Geni bangun lebih pagi,dia langsung membersihkan diri bersama anak-anak paman Marlan. Pagi itu dia berencan keliling desa,anak-anak paman Marlan sebagai penunjuk jalan. Ini alasan wisang geni ajak mereka jalan-jalan, tanpa anak-anak itu warga desa pasti curiga dengan penampilan seperti itu.
"Bibi ...tolong hari ini masak agak banyak untuk makan malam,minta bantuan saudara bibi atau tetangga lain..." Pinta wisang geni sambil menyerahkan satu kantong kecil berisi 500 perunggu dan 20 kupang perak ditangannya.
" Ti...tidak usah nak Geni,kupang kemarin masih..." Ucap Marni kaget, dengan mudahnya anak ini menyerahkan kupang perunggu dan kupang perak padanya.
" Sembelih 2 kambing dan 40 ayam bibi,aku ingin warga desa ini dapat makan bersama,kalau kurang bibi bilang biar aku tambah lagi nanti..."
" Mungkin beberapa bulan kedepan aku numpang makan pada bibi..." Ujar wisang geni sambil menyerahkan kupang-kupang itu langsung ke tangan wanita tersebut. Kegiatan itu terlihat Marlan,...
"Seberapa kaya anak ini..." Batin Marlan.dia heran pada wisang geni,dapat dari mana kupang-kupang itu.sedang anak itu hanya membawa buntelan yang tidak begitu besar.
" Kakang ayo cepat..." Pinta septo wisang geni yang berjalan pelan. Wisang geni bercalan lambat bukan tanpa alasan,dia melihat tempat sekitar sembari memeriksa tempat yang cocok untuk dia jadikan lokasi rumahnya nanti.
Setelah sampai di pasar, terlihat dua anak yang sedang melihat kumpulan baju, wajah mereka terlihat ceria, tapi tak berselang lama tampang mereka berubah masam dan kecewa...
" Kenapa kalian cemberut...apa tidak ada yang bagus...?" Tanya wisang geni pada Wiro dan septo.
" Tidak kang....semua bagus, cuma.... kata ibu baju-baju itu mahal, jadi kami di bolehkan beli baju waktu baju kami sudah tak muat lagi atau sudah rusak... " Jelas wiro padanya.
" Kami beli 10 pasang baju itu ...harganya berapa paman...?." Tanya wisang geni pada pedagang itu. Dia teringat waktu masih di desa Sambung Wangi, nasibnya tidak beda dengan nya jala itu.
"Baik...baik ..anak muda..." Jawab pedagang itu kaget,karena pemuda ini membelikan baju pada anak-anak itu dengan mudah nya. Bagi masyarakat desa harga baju mahal,karena proses pembuatan nya sulit, tapi lain dengan wisang geni.
"Semuanya 20 kupang perunggu anak muda..." Jawab pedagang itu. Wisang geni memberikan 30 perunggu pada paman itu.
" Sisanya paman ambil saja..." Ucap wisang geni.
" Trimakasih anak muda...ini aku tambahi 1 kain jarik buat mu. Lain kali mampir lagi anak muda..."ucap pedagang itu sambil memasukkan kain jarik dengan kwalitas paling bagus. Jarik adalah kain yang biasa digunakan wanita sebagai penutup anggota tubuh bagian bawah pada masa itu.
"Trimakasih paman....." Ucap wisang geni sembari berlalu dari tempat pedagang itu. Tak ayal kedua anak itu terkejut sekali dengan apa yang dilakukan kakangnya ini,harapan nya hanya 2 baju...malah dibelikan 10. Kedua anak ini senang sekali....
" Sekarang kalian antar kakang keliling desa ..." Perintah wisang Geni pada kedua anak itu.
Wisang Geni dan kedua anak ini pun pulang,kondisi pasar pun sudah sepi,ini karena pasar-pasar waktu itu hanya pagi hari ,selepas siang pasar tutup,dan para pedagang yang berjualan kembali pada pekerjaan mereka sebagai perani.
" Tak beda dengan desa ku...." Batin wisang geni,berjalan pulang menuju rumah paman Marlan.
Siang itu rumah Marlan ramai sekali, banyak ibu-ibu yang membantu persiapan acara nanti malam,serta beberapa pemuda yang sedang membantu menguliti kambing yang di minta geni pada bibi Marni. Disudut pelataran rumah sudah duduk bersila 7 orang sesepuh dari masing-masing keluarga. Nampak dari kejauhan paman Marlan melambaikan tangan mengajak Geni bergabung. Tidak ada kursi ataupun meja, mereka duduk di atas tikar yang terbuat dari daun pandan.
" Maaf sesepuh...aku terlambat..." Sesal wisang geni sembari memberi salam pada para sesepuh.
" Tidak apa-apa nak Geni kami juga baru kumpul..." Ucap paman Marlan. Para sesepuh merasa aneh dengan penampilan wisang geni yang mengenakan topeng. Mereka semua memandangi Wisang Geni dari atas kebawah.
"Maaf sesepuh...aku memakai topeng ini karena malu,...siwah ku ada luka Bakar yang cukup parah,untuk menghidari pandangan yang kurang enak aku memakai topeng ini..." Penjelasan wisang geni pada para sesepuh.
" Ini nak Geni...para sesepuh desa daun hijau. Ini Sesepuh wiryo, disamping nya sesepuh Sukam,sesepuh paijo,sesepuh marto, sesepuh ngadio, sesepuh marto, dan yang terakhir bopo ku,sesepuh Sarmin..." Jelas Marlan dengan urut dari paling kiri, pada Geni.
" Perkenalkan para sesepuh ...aku Wisang geni...keponakan bibi Marni dari kadipaten Gunung Kidul..." Ucap wisang geni berbohong, hal ini dilakukan agar para sesepuh tidak curiga. Dan hal ini sudah di sepakati oleh Marlan dan Marni kalau wisang geni di aku keponakan dari Marni. Semua sesepuh mengangguk tanda mengerti,termasuk sesepuh Sarmin, bopo dari paman Marlan.
" Jadi begini sesepuh...kadatangan para sesepuh kesini atas permintaan nak Geni,...maksud dan tujuan biar di sampaikan langsung oleh nak Geni..." Ucap paman Marlan sambil menatap Wisang geni, di ikuti para sesepuh metap tajam padanya.
" Mohon maaf sebelumnya aku merepotkan para sesepun...aku harap para sesepuh membantuku mendirikan rumah..."Terang geni.
" Kalau hanya rumah , kenapa nak Geni mengumpulkan semua sesepuh desa ... Bukankan hanya perlu minta bantuan tetangga sekitar,..." Ucap sesepuh wiryo,sesepuh paling di hormati di desa ini.
" Benar nak Geni,...kalau hanya rumah...mungkin dari keluarga paman mu Marlan saja sudah cukup,..."sambung sesepuh Sarmin sekaligus bopo dari Marlan ,...merasa kurang enak pada sesepuh lain.
" Jadi begini sesepuh....aku ingin membuat 8 rumah joglo dalam satu tempat...dimana belakang rumah itu harus ada tanah yang luas dan lapang, aku tidak tahu apa harus membeli tanah atau membuka lahan... Jadi perlu pertimbangan para sesepuh..." Jelas wisang geni pada para sesepuh dengan Nada mantap.
Para sesepuh seketika kaget semua tak terkecuali paman Marlan, mendirikan 1 rumah joglo itu dibutuhkan setidaknya 10 hari, biaya pembuatan pun tidak sedikit ... apalagi sampai 8 rumah. Biaya pembuatan bukan dari beli kayu atau bayar upah pekerja, karena pekarja waktu itu tidak di bayar, melaikan mereka kerja gotong-royong mendirikan rumah warga, hanya di berikan makan minum selama mereka bekerja. Biaya yang besar itu di keluarkan untuk biaya makan warga yang membantu mendirikan rumah tersebut.
Beda hal nya kalau warga bekerja membantu menggarap sawah, memeliharakan hewan ternak contoh sapi atau kuda, mereka dapat upah, yang pada waktu itu per- hari kisaran 1 kupang perunggu.