SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BANYAK PIKIRAN



"Hati-hati nak Geni, setelah penginapan jadi aku harap nak Geni segera datang biar kami tahu harus diberi nama apa penginapannya kelak" Ucap penuh harap dari paman Bejo walau diselingi candaan.


Setelah pamit mereka kembali ke pelabuhan, mereka kali ini dapat dengan cepat melakukan perjalanan karna Pitaloka sudah sembuh kakinya.


"Kau masih hutang padaku" Ucap Wisang Geni sambil berjalan di belakang Pitaloka.


"Hutang apa kang?" Tanya Pitaloka bingung.


"Baju buat ku mana? Aku belum dapat baju dari istri ku" Goda Wisang Geni sambil cengar-cengir.


"Apa mau aku pakaikan sekarang?!" Candaan Geni pun di balas Pitaloka. Bawahan Wisang Geni yang mendengar pun ikut tertawa melihat Geni serba salah dengan candaan dari Pitaloka.


Sore itu mereka sudah sampai pada pelabuhan tempat kapal mereka bersandar, tak terasa sepekan telah berlalu sejak rombongan Geni meninggalkan pelabuhan serta berkunjung ke rumah paman Bejo.


"Kapal Macan Kumbang pasti sudah selesai diperbaiki" Batin Geni yang melangkah santai menuju dermaga dimana kapal mereka disandarkan.


Mereka berjalan sambil bercanda, apalagi sekarang ada yang bisa di buat bahan untuk mereka ejek tentu nya Macan Gunung dan Macan Lembah saudara termuda dari kelompok tersebut.


"Slamat sore paman, bagai mana keadaan paman selama ini? " Tanya Geni yang mengagetkan lamunan paman Warno.


"Ah... Nak Geni mengagetkan saja, aku sehat nak Geni, bagaimana apakan semua bahan yang dibutuhkan sudah terkumpul semua?" Tanya Waryo menanyakan perihal masalah pembangunan Penginapan yang ada di tempat paman Bejo.


"Sudah hampir terkumpul semua paman, mungkin mereka menunggu paman untuk bekerja" Ucap Geni diselingi bercanda.


"Mungkin lusa aku akan berangkat ke sana" Ucap paman Bejo serius menanggapi candaan Wisang Geni.


"Tak usah terlalu dipikirkan paman, aku hanya bercanda" Jawab Geni merasa tidak enak akan ucapannya tadi.


"Paman, bagai mana perbaikan kapal yang aku minta, apa sudah siap" Tanya Geni mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah nak Geni, mari aku tunjuk kan" Ajak paman Waryo mengajak ke sembilan orang tersebut.


Mereka kaget dengan apa yang di lihat, sebuah kapal yang bagus, bahkan kesan sangarnya sudah tidak nampak disana.


"Kakang... Apa ini benar kapal kami yang kemarin usang dan tua itu?!" Tanya macan Kumbang heran dengan kapal yang telah selesai diperbaiki ini.


"Lalu kapal siapa lagi, di sini tidak ada kapal mirip punya kalian ini" Sambil menunjuk kapal-kapal yang parkir di dermaga tersebut. Memang kapal tidak ada yang mirip dengan kapal mereka, karna kapal yang biasa sandar adalah kapal niaga yang tidak begitu besar atau kapal nelayan yang biasa di gunakan untuk mencari ikan di laut.


Ketujuh orang tersebut langsung naik dan melihat-lihat kapal yang mereka miliki.


"Sungguh luar biasa, berbeda dengan yang kemarin" Ucap mereka serempak seperti paduan suara pada sebuah orkestra.


"Trimakasih paman, kapal ini sekarang menjadi layak huni" Ucap Pitaloka mengejek kapal yang sebelum diperbaiki.


Walau tampak sederhana, kapal ini jadi lebih bagus dari sebelumnya, kapal dengan kapasitas tampung kurang lebih 20 sampai 30 orang.


Setelah berbincang-bincang dengan paman Waryo rombongan ini ingin segera berangkat ke Mataram seperti yang di inginkan Wisang Geni. Bawahannya belum tahu ada urusan apa mereka pergi ke Mataram.


"Kenapa cepat sekali nak Geni, apa ada urusan yang begitu penting? " Tanya paman Waryo sambil menerka-nerka ala sebenarnya tujuan pemuda ini.


"Benar paman, aku ingin segera menyelesaikan urusan ku" Ucap Geni yang memang tak memberitahukan pada paman Waryo, bahkan 7 macan Gunung Tidar pun belum tahu pasti apa yang akan mereka kerjakan.


Pagi ini mereka semua telah bersiap sebelum matahari terbit, terutama Pitaloka yang memang sudah ingin bertemu dengan keluarganya.


"Kakang Geni, desa Daun Hijau itu seperti apa?" Tanya sang gadis yang menunggu persiapan yang lainnya selesai.


"Seperti desa kecil yang lain, tak ada yang beda, nanti kamu juga kesana" Jawab Wisang Geni menjelaskan keadaan desa tujuan mereka selanjutnya.


Setelah semua siap mereka berpamitan dengan Waryo.


"Paman Waryo kami berangkat dulu" Kata Geni di ikuti yang lainnya.


"Hati-hati nak Geni, dan salam untuk keluarga" Jawab paman Waryo yang berdiri di pinggir dermaga yang sedang membantu Geni dan rombongan.


"Kelak aku pasti kesini lagi paman" Ucap Pitaloka sambil melambaikan tangan diatas kapal yang sedang bergerak menjauh dari dermaga.


"Pemuda yang hebat, semoga kelak kita dapat bertemu kembali" Batin Waryo sambil membalas lambaian tangan gadis tersebut.


Terlihat anggota paman Macan kumbang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Macan Hitam dan putih mengemudi kapal tersebut, yang lain mengembangkan layar yang dipakai sebagai penggerak kapal tersebut.


Mereka berencana mengubah waktu pelayaran setelah melewati hutan mentaok. Mereka akan berlayar pada malam hari begitu melewati kerajaan Mataram. Ini dilakukan karna lebih aman dan kemungkinan kecil akan ketahuan oleh pihak kerajaan Mataram.


"Kakang, ayah dan ibu sedang apa ya di desa daun hijau?" Tanya Pitaloka yang duduk di haluan(bagian depan) kapal.


"Ah... Kau ini, mana aku tahu ayah dan ibu sedang apa" Jawab Wisang Geni juga sama bingungnya dengan sang gadis.


Perjalanan terasa begitu cepat, mereka telah memasuki kawasan hutan mentaok, perjalanan darat akan menpuh waktu 2 sampai 3 pekan. Tapi jika mereka menggunakan kapal mungkin antara 7 sampai 10 hari.


"Tuan setelah di akhir hutan kami akan memberitahu tuan, sekarang lebih baik tuan istirahat dulu" Ucap Macan hitam sambil mengemudikan kapal tersebut, dia merasa kasihan pada pemuda yang beberapa hari ini tidak tidur sama sekali.


"Baik... Aku istirahat dulu" Jawab singkat Wisang Geni.


Wisang Geni beberapa hari ini banyak pikiran, Terutama tentang rencana yang akan segera dia laksanakan. Bukan tanpa alasan pemuda ini banyak pikiran, karna semua rencana yang akan berjalan murni dari diri nya, jika gagal pasti akan banyak kerugian di banyak pihak, baik Mataram juga kerajaan Pajang.


Pemuda tersebut tampak begitu kucel, lesu serta banyak melamun setelah berangkat menuju desa daun hijau. Hal tersebut tak lepas dari pengamatan Diah Pitaloka, gadis ini merasa ada sesuatu yang menjadi pikiran pemuda yang selama ini bersamanya.


Setelah Wisang Geni masuk dalam ruangan tempat dimana dia beristirahat dengan Pitaloka.


"Kakang, kenapa kakang terlihat seperti banyak masalah?" Tanya Pitaloka yang melihat pemuda ini berbaring disampingnya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya kurang istirahat" Jawab Wisang Geni sambil merebahkan badan nya.


"Kakang... Aku bersama kakang tidak 1 atau 2 hari, jadi aku paham dengan mu kakang" Ucap Pitaloka mirip istri Wisang Geni.