SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
MENYUSUP



Wisang Geni akhirnya melepas topeng kulit yang dia kenakan,dis tak mau di curigai prajurit mataram. Dia hanya menyamar muka dengan tompel pada pipinya serta sedikit noda hitam di bagian muka. Setelah semua siap dia berncana masuk tengah malam nanti.


Sebuah pintu terbuka dari arah bawah tanah,walau bunyinya sedikit kencang namun ruangan tersebut masih dapat menyamarkan suara berderit yang di timbulkan pintu rahasia itu.


Tempat duduk dari batu terbuka,nampak seorang dengan penampilan yang cukup tampan sebenarnya,hanya ada tompel dan wajahnya sedikit hitam,namun hal tersebut tak bisa menyamarkan wajah tampannya.


Wisang Geni mengendap-endap mencari tempat yang aman untuk mengamati sutuasi yang terjadi. Dia mendapat sebuah ide yang cukup baik,dia ingin menyamar sebagai prajurit kerajaan. Setelah keluar dari ruang baca dia langsung mencari tempat penyimpanan perlengkapan prajurit yang ada di dalam keraton Mataram.


Dia mengambil satu baju dan pedang dari gudang tersebut.walau pedang yang dia ambil bentuknya begitu bagus tapi kualitas besi yang dia gunakan cukup bagus jika dibandingkan dengan pedang-pedang yang lain.


"Hai junior...kenapa aku baru melihatmu?"tanya prajurit penjaga gudang tersebut.


"Maaf kakang aku mau tukar senjata...coba liahat kang senjata ku jelek sekali" sambil menunjuk pedang yang dia pilih tadi.


"Kenapa kau tidak laporan dulu?,hampir saja pedang ku menebas leher mu..."ucap penjaga gudang perlengkapan yang sudah siap bertarung karna dia merasa ada penyelinap masuk.


"Ti...tidak jadi kakang, Aku memakai pedang ini saja."ucap Wisang Geni dengan mimik muka ketakutan,dia langsung menuju Barak prajurit baru. Dan saat ini kerajaan Mataram memang sedang melakukan perekrutan prajurit baru dalam jumlah besar.


"Hei...siapa nama mu?" Tanya prajurit senior penjaga gudang tersebut.


"Anu...kang..nama ku..."Jawab Geni tampak gugup dan takut. Geni gugup bukan takut melainkan dia bingung harus menyebutkan nama.


"Bagai mana mau perang...dibentak begitu saja sudah ketakutan" ejek prajurit senior tersebut.


"Aku Gilang kakang..."jawab singkat Wisang Geni, yang tiba-tiba dapat sebuah nama yang muncul dalam benaknya.


"Sudah...sudah...sana cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!" Perintah prajurit senior tersebut.


Dapat perintah seperti itu Geni langsung berlari memasuki Barak prajurit baru. Dalam Barak itu dia merasa asing karna disamping mereka saling belum kenal dia juga asing dengan kehidupan para prajurit tersebut. Mereka (para prajurit) bersikap acuh dengan kedatangan Geni.


Wisang Geni pun enggan bercakap-cakap dengan mereka,dis langsung menuju tempat tidur paling ujung dan memang masih banyak tempat kosong. Malam ini Wisang Geni ingin tidur dengan cepat karna besok pagi dia harus mempersiapkan rencana yang telah dia susun.


"Hai...bangun...apa kau mau disiram air..."kata Salah satu prajurit baru yang tempat tidurnya tak begitu jauh dari Wisang Geni.


"Aku Geni...eh...maksud ku Gilang" ucap Geni sambil mengajukan tangan hendak salaman.


"Karno...ayo kita bersiap..."jawab pemuda yang membangunkan Geni.


"pemuda yang cukup gagah dan jika dilihat kemampuannya lumayan tinggi" batin Gilang sambil mengikuti kemana Karno pergi. Setelah kedua pemuda ini membersihkan diri mereka menuju aula prajurit.


"Ada apa ini Kenapa mereka bertarung satu sama lain?" Gilang bingung kenapa semua seperti sedang melaksanakan pertandingan.


Akhirnya Karno menjelaskan peraturan dalam pertandingan ini, meberikan keterangan dengan sejelas-jelasnya pada Gilang.


"Berarti kalau aku menang dalam pertandingan itu...siapa yang aku kalahkan akan menjadi anak Buah ku?"tanya Gilang mengulangi apa yang disampaikan Karno.


Pemuda disamping Gilang hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Geni.


Tiba-tiba Gilang memasuki arena pertandingan,dengan langkah yang mantap dia menuju arena tersebut tanpa meminta persetujuan dari Karno.


"Aku Gilang prajurit muda yang baru bergabung,aku ingin menantang semua prajurit yang mengikuti seleksi ini..."ucap Gilang dengan nada sedikit angkuh. Dia sengaja berlaku seperti ini agar jadi pusat perhatian dan dapat memperoleh jabatan kepala prajurit penjaga penjara. Dengan begitu dia bisa keluar masuk penjara dengan sesuka hati.


"Turun kau bocah bau kencur...tempat mu bukan disini...ha...ha...ha..." oceh salah satu prajurit. Dia adalah penjaga gudang semalam yang bertemu dengan Gilang.


"Hah...bocah itu bukankah anak baru yang hendak menukar pedang bututnya?tidak salah lagi, "batin penjaga gudang perlengkapan.


Dia mengikuti seleksi karna sebagai penjaga penjara mereka dapat upah lebih banyak dan lagi mereka akan lebih di hormati dari prajurit biasa lainnya.


Penjaga prajurit tersebut langsung naik hendak melawan Gilang.


"Bocah sombong lawan Aku jika mampu..."ejek penjaga gudang perlengkapan dengan sombong. Gilang hanya tersenyum melihat tingkah penjaga tersebut.dia hanya menunggu pertandingan dimulai.


"Mulai...!" Teriak keras dewan juri memulai pertandingan. Penjaga gudang perlengkapan yang nama pangilannya adalah Kebo Edan(kerbal gila) ini terkenal kuat dan sadis dalam pertempuran.


"Tunggu...! Paman boleh kah aku melawan 10 peserta dalam satu kali pertarungan?"Tanya Gilang dengan penuh percaya diri. Kebo Edan awalnya mengira bahwa Gilang takut padanya, Kini semakin geram dengan ucapan pemuda itu.


"Boleh...tapi nanti setelah pertarungan babak akhir, kali ini pertarungan penyisihan jadi para peserta harus memperoleh nomer urut dulu" jelas paman dewan juri penyelenggara pertandingan.


"Sudah tak usah banyak bicara...terima serangan ku ini...!" Teriak Kebo Edan menyerang Gilang, Kebo Edan langsung menyerang menggunakan golok yang besar dan berat,telinganya Sudan panas mendengar ocehan Gilang.


Gilang pun tak mau kalah dia pun mengeluarkan pedang tumpul yang nampak seperti belum jadi. Semua orang yang menyaksikan pun tertawa melihat senjata yang di gunakan Gilang, secepat kilat Gilang menangkis serangan dari Kebo Edan.


"Bocah bodoh mengapa menggunakan pedang itu?!" Batin Karno dengan sedikit jengkel dengan kelakuan Gilang yang bertindak ceroboh.


Serangan demi serangan yang dilancarkan Kebo Edan sungguh sangat hebat,banyak diantara petinggi menyaksikan jalannya pertandingan sangat terpukau dengan ketrampilan Bermain golok Kebo Edan. Sedang yang lain hanya kasihan melihat Gilang di gempur habis-habisan oleh Kebo Edan.


"Apa kau hanya bisa menghindar dan menangkis saja?" Kebo Edan coba memancing emosi Gilang. Kebo Edan merasa diatas angin dengan keadaan  ini, dilihat dari mana pun dia lebih unggul dari Gilang.


Inilah titik dimana seorang petarung akan kalah dengan mudah,jika seseorang sudah merasa di atas angin di menganggap musuhnya telah kalah. Rasa sombong dan meremehkan lawan ini yang kelak bisa membunuh kita dalam sebuah pertarungan.