SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
KABAR BURUK



Kedua murid tersebut menyadari apa yang di kawatir kan sang guru pun sadar akan kemampuan mereka dan tidak terlalu memaksa keadaan sang guru.


"Guru... Apa guru punya jurus lain yang bisa diajarkan pada kami?" Pinta Waseso pada Resi Kumboyono.


"Masih banyak ilmu bela diri yang belum aku ajarkan pada kalian, dari kalian harus giat berlatih terutama dalam hal meditasi atau semedi, dengan sering melakukan meditasi serta pengolahan pernafasan yang baik maka tenaga dalam kalian bisa cepat meningkat." Terang sang Resi Kumboyono pada kedua muridnya.


\* \* \* \* \*


Terlihat dua pendekar yang sedang berlari dengan cepat meninggalkan pinggir sungai. Tampak jelas rasa takut dan kawatir pada raut muka mereka berdua. Tugas yang mereka laksanakan memang berhasil tapi hal itu harus dibayar mahal oleh kelompok ini. Dua orang ini adalah Supri dan Paino mereka lolos dari penyergapan yang dilakukan Wisang Geni pada perahu yang mereka gunakan untuk menculik Lokahita.


"Lapor Ki Ageng Gumilar diluar ada dua orang kita hendak melapor!" Ucap salah seorang prajurit menemui Ki Ageng Gumilar yang sedang duduk santai dengan 4 jagoan andalannya.


"Biarkan mereka masuk!" Printah Ki Ageng Gumilar pada prajurit yang melapor. Ki Ageng Gumilar dan 4 jagoan adalanbya berada di kadipaten Bantul. Bukan tanpa alasan Ki Ageng Gumilar membangun markas di kadipaten ini, jarak yang tidak begitu jauh dari mataram. Ki Ageng Gumilar bisa memonitor juga keadaan Mataram dan markas mereka tak akan tercium dari fihak kerajaan Mataram.


Dua orang ini datang menghadap dengan rasa was-was, walau tugas mereka bisa dikata berhasil tapi kelompok mereka juga bisa dikatakan habis tertumpas.


"Lapor Ki Ageng Gumilar... Tugas kami bisa dikata berhasil, tapi..." Ucap Paino mewakili temannya. Wajah nya tampak pucat karena takut.


"Cepat katakan dengan jelas!" Perintah Ki Ageng pada mereka berdua dengan tenang dan tatapan mata penuh intimidasi yang kuat.


"Kami berhasil menculik putri Mataram, tapi pada akhirnya kami dapat dikalahkan, saya yakin Putri itu sudah mati saat ini!" Terang Paino pada Ki Ageng Gumilar.


Paino menceritakan dengan rinci kejadian yang menipa mereka dan pasukannya.


"Kerja bagus...aku akan memberikan umpah yang setimpal pada kalian" ucap Ki Ageng Gumilar tampak senang dengan laporan dari kedua urusan ini.


Rencana Ki Ageng Gumilar memang membunuh sang Puteri, agar raja Mataram berduka dengan kematian anaknya. Kenapa Ki Ageng Gumilar menyuruh prajurit membawa Putri tersebut kearah Mataram?, Dengan demikian seolah-olah Putri di culik para prajurit kerajaan Pajang, dengan begitu dia yakin pasukan sisa yang ada di kerajaan akan dia kerahkan untuk menyerbu kerajaan pajang.


Dengan begitu kerajaan Mataram akan kosong maka akan mudah merebut kekuasaan kerajaan tersebut. Rencana ini sudah dia susun dari 4 tahun lalu, maka dia tak ingin gagal dalam pemberontakan ini.


"Aku akan kembali ke Mataram , Kalian berempat siapkan kekuatan kita" perintah Ki Ageng Gumilar pada ke empat jagoan andalannya yang dijawab dengan anggukan yang hampir bersamaan.


Di tempat lain tepatnya di pusat kerajaan Mataram terlihat seorang pemuda dengan langkah gontai menuju pendopo istana, diruangan tersebut biasa di gunaka untuk rapat ataupun kumpul pejabat serta raja Mataram. Tampangnya yang lusuh menunjukan betapa dia memiliki beban mental yang sangat berat, pemuda ini adalah Patih(perwira muda) Wiryo Sangkolo.


Disana para pejabat sedang mengadakan rapat bagai mana mengatasi kekacauan di kerajaan Mataram. Ki Ageng Gumilar pun hadir disana, dia ingin mengetahui bagai mana kaisar akan bertindakl jika tahu Putri nya sudah terculik bahkan terbunuh. Nampak senyum licik terkembang pada bibirnya.


Pemuda yang dinanti akhirnya datang,dengan tampang lesu dia masuk dalam pendopo dengan adat yang sudah ditetapkan dia berjalan sambil membungkuk. Sepintas nampak wajah murung pada raut muka yang biasanya gagah itu.


"Patih Wiryo menghadap padaka raja..." Ucapnya sambil menundukkan muka. Seakan dia tak berani menatap sang raja dan para pejabat yang ada disitu.


Sang raja tak curiga sama sekali, hanya wajah raja Cokro sedikit bingung, mengapa Patih Wiryo hanya menghadap sendiri.


"Dimana Diah Pitaloka...kenapa gadis bandel itu tidak ikut menghadap?" Ucap sang raja pada Wiryo.


Rauh wajah yang semula kusut sekarang tampak lebih pucat, keringat dingin mulai membasahi wajah Patih muda itu. Sang ayah, Mahapatih Sastro melihat perubahan wajah sang putra juga sempat bingung, dia menunggu penjelasan sang putra.


" Mohon ampun Baginda hamba gagal menjalankan misi..." terang sang Patih muda tak melanjutkan perkataannya. Dia tampak takut menyampaikan kabar berita yang dia bawa.


"Tak jadi masalah Patih Wiryo kegagalan adalah awal keberhasilan, lalu dimana putri ku?" Tampak sedikit cemas sang raja tak melihat putrinya ikut menghadap.


"Mohon ampunan paduka, putri...putri Diah Pitaloka diculik para penjahat" dengan segenap keberanian pemuda tersebut menyampaikan kabar itu.


Sontak sang raja serta mahapatih Sastro yang berada pada ruangan itu kaget bukan kepalang. Dalam situasi kerajaan yang sedang kacau di tambah kabar di culiknya sang putri raja Mataram sontak kaget dan dengan tampang bengis menatap sang Patih muda itu.


" Cepat jelaskan bagai mana kejadiannya?!" Bentak sang raja geram sontak suasana ruangan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Wiryo, dia sendiri pun bingung harus memulai dari mana.


Akhirnya Wiryo menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dan sang putri, tentu tanpa ada yang disembunyikan. Dan juga bagai mana sepak terjang pendekar bertopeng yang berhasil menyelamatkannya serta bersedia membatu mencari Diah Pitaloka yang terculik itu.


Sang raja sedit lega bahwa Putri nya belum meninggal dunia, walau masih tampak cemas pada wajah sang raja. Mahapatih Sastro hanya bisa memandang putranya dengan penuh kekecewaan.


Ki Ageng Gumilar yang mendengar penjelasan sang Patih tertawa dalam hati dia senang sekali dengan kabar itu. Apa yang diceritakan anak buahnya memang benar.


"Aku harus mebuat raja mengirim pasukan mencari Diah Pitaloka, dengan begini pertahanan kerajaan akan lemah" batin Ki Ageng Gumilar dalam hatinya.


"Ampun paduka raja... Saya rasa para penculik itu berasal dari kerajaan Pajang, karna arah dari perahu yang di gunaka menculik sang putri mengarah ke Utara, pasti kerajaan Pajang memanfaat kan kesempatan ini,mereka tahu kerajaan kita sedang terpuruk" ucap Ki Ageng Gumilar pada raja Mataram.


"Kurang ajar mereka... Patih Sastro kamu pimpin pasukan kerajaan yang ada...cepat jemput putri ku, kalau mereka tidak mau maka akan kita rebut paksa!" Perintah raja penuh nada emosi.


Dalam hal ini sang Patih tidak dapat menolak, karna alasan yang di sampaikan Ki Ageng Gumilar memang masuk akal.