SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
LAWAN ATAU KAWAN



Tak dapat menahan...emosi akhirnya sang Patih pun turun tangan ikut membantu.


"Kalian mau main licik ya...aku layani"ucap Wisang Geni sinis tanpa menunjukan takut sedikitpun.


Plak...bug..bag... suara kelima prajurit terpental mundur karena serangan mendadak Wisang Geni.


Wisang Geni hanya mukul mereka tanpa luka yang serius.


Wusszzzst.... Suara langkah Wisang Geni seperti angin menuju ke arah Lokahita.


" Akan aku Sandra gadis itu" batin Wisang Geni langsung menyerang sang gadis.


"Hiat... mati kau bedebah...!" Ucap Lokahita sambil mengayunkan pedangnya dari samping keri kekanan,tebasan mendatar yang pasti akan sulit terelakkan.


Plak...tring....suara tangan gadis itu terpukul di ikuti senjata yang terjatuh di tanah berbatu itu.


Semua mata memandang heran termasuk sang Patih yang hanya berapa detik tidak sampai 10 tarikan nafas melihat nona mereka sudah tertangkap.


Kedua tangan gadis itu ditangkap Wisang Geni dikunci dibelakang punggung sang gadis dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanan Wisang Geni di gunakan mengancam leher gadis itu.


"Kalau kalian tidak mundur...jangan salahkan aku membunuh nona cantik ini" ancam Wisang Geni, semua itu hanya ancaman saja,walaupun Wisang Geni hebat tapi dia belum pernah sekalipun membunuh orang.


Aroma dari keringat gadis itu tercium begitu harum di hidung Wisang Geni, membangkitkan rasa aneh dalam jiwa pemuda yang beranjak dewasa ini, sehingga tanpa dia sadari bahwa pusakanya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya.


Hal ini pun dirasa sang gadis di bagian bawah pinggul nya seperti ada benda yang hidup, bergerak-gerak menempel pada pinggul gadis itu. Ditambah posisi Wisang Geni yang mulut dan hidung nya hampir menempel pada leher sang gadis.


Hal ini menimbulkan perasaan aneh pada sang gadis,perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Bulu kuduknya meremang kulit nya seperti udang bakar yang memerah serta nafasnya memburu. Semua bukan karena takut akan ancaman Wisang Geni, gadis itu pun bingung kenapa dia seperti itu.


"Tolong pendekar lepas nona kami...berapapun akan kami bayar!" Pinta Patih Wiryo dengan nada setenang mungkin walau batin nya panik bukan main.


"Melepasnya...apa kalian akan melepas aku!?" Jawab Wisang Geni yang mulut serta hidung seperti tertempel pada leher sang gadis. Lokahita seakan persendiannya lemas setiap kali laki-laki ini menghembuskan nafas ketika bicara.


"Ba...baik pendekar apapun yang pendekar mau pasti kami turuti" jawab Patih Wiryo yang mulai panik melihat gadis pujaan hati nya mulai pucat. Dia kawatir bahwa Wisang Geni mencekik Lokahita terlalu kencang.


Tapi sebaliknya, tangan Wisang Geni hanya menempel pada leher sang gadis, pucat sang gadis bukan lain karena bagian tubuh sensitifnya tersentuh Wisang Geni yang mengakibat kan dia lemas,bahkan untuk berbicara pun sulit.


Wisang Geni merasa curiga dan belum mau melepas gadis ini lantaran dalam hutan masih banyak orang bersembunyi. Wisang Geni beranggapan mereka juga satu komplotan dengan gadis ini.


Setalah di lepas Meraka bisa saja langsung menyerangnya.


" Kalau begitu...suruh semua kelompok mu keluar dan meletakkan senjata baru aku melepas gadis ini...!" Perintah Wisang Geni penuh ancaman.


"Benarkah orang-orang yang ada dalam hutan bukan teman mereka,jangan-jangan ini hanya siasat?!"


Swing...swing...clap...clap bunyi anak panah dari dalam hutan yang langsung mengarah pada mereka. Karena kurang waspada 2 dari 5 prajurit terkena panah dan langsung meninggal seketika.


"Kepung...keluar semua!" Terdengar teriakan dari dalam hutan, seketika muncul lebih dari 50 orang mengepung mereka. Dengan tampilan serba hitam menggunakan topeng yang hampir mirip dengan topeng yang di kenakan Wisang Geni, beda nya seluruh muka mereka tertutup topeng.


"Bunuh semua dan tangkap gadis itu!" Perintah salah satu dari mereka yang kemampuannya ksatria tingkat 2 awal, orang ini merupakan pimpinan kelompok orang bertopeng ini. Kelompok ini sebagian besar memiliki kemampuan setara ksatria tingkat 1. Dan sisanya pendekar tingkat utama.


"Kisanak ... serahkan saja gadis itu setelah itu Kau boleh pergi" pinta pimpinan kelompok itu memandang remeh Wisang Geni. Pemimpin ini melihat kemampuan Wisang Geni hanya berada pada tingkat pendekar utama. Patih Wiryo sangkolo hanya bisa berharap agar Wisang Geni tak menyerahkan Lokahita pada kelompok bertopeng ini.


Awalnya Wisang Gen mengira kelompok ini adalah teman dari orang-orang yang mengikuti mereka. Tapi setelah melihat mereka membunuh 2 orang pengikut gadis ini dia ragu bahkan menduga kelompok ini saling bermusuhan.


" Maaf pendekar hebat, aku memang tak ada urusan dengan gadis ini, dan kenapa pendekar hebat ingin membawanya?" Selidik Wisang Geni, bukan dia ingin mencampuri urusan kedua kelompok ini, tapi dia sendiri juga ragu dengan kelompok bertopeng ini.


" Mereka lawan atau kawan" batin Wisang Geni tetap tak mengurangi kewaspadaannya.


"Manusia sialan...kau malah mau tawar menawar dengan aku, cepat bunuh mereka semua!" Perintah ketua kelompok tersebut. Akhirnya pertempuran pun terjadi.


"Lepaskan aku bodoh!" Pinta Lokahita dengan nada tinggi pada Wisang Geni. Tanpa berkata-kata Wisang Geni pun melepas Lokahita dari kunciannya.


Jelas pertempuran tidak seimbang, 3 pengawal Lokahita langsung terbunuh seketika. Tubuh tiga orang itu terpotong-potong, Wisang Geni yang menyaksikan kejadian itu langsung muntah-muntah. Walau dirinya pendekar yang punya kemampuan hebat tapi pemuda itu belum pernah membunuh orang.


Kelompok bertopeng ini hanya terfokus menyerang 2 orang yang tersisa, Patih Wiryo dan Lokahita. Wisang Geni diabaikan, dia hanya menonton pertarungan tak seimbang itu. Hanya setengah dari kelompok anggota ini yang menyerang Patih Wiryo dan lokahita, sebagian lagi hanya lihat dan menertawakan ketidak berdayaan dua orang yang di keroyok oleh kawan mereka.


Tubuh Patih Wiryo sudah penuh luka, tak beda jauh dengan Lokahita. Wisang Geni telah dapat mengendalikan dirinya. Dia melihat 7 orang yang tadi menyerang dirinya hanya tersisa 2 orang yang sedang dikeroyok lebih dari 20 orang bertopeng.


Wisang Geni teringat Diah Ayu, dia tak tega dengan keadaan Patih Wiryo dan Lokahita


"Aku harus turun tangan..." Batin Wisang Geni sambil mengeluarkan pedang dari gelang penyimpanannya.


"Mati kau..." Teriak salah satu pengroyok sambil mengayunkan pedang ke leher Patih Wiryo.


Tring... Trang... bunyi senjata beradu. Wisang Geni dengan cepat menyelamatkan sang Patih.


Patih Wiryo dan Lokahita sedikit lega karena Wisang Geni turut membantu.


"Terimakasih kisanak" ucap sang Patih pada Wisang Geni, ucapan tersubut di sambut dengan senyum tipis dari wisang Geni.


"Cari mati kau manusia sialan...akan ku wujudkan?!" Bentak kepala kelompok itu. Kondisi Lokahita dan Patih Wiryo sangat memprihatinkan,banyak luka lebam serta sayatan pedang disana-sini.