
Siang itu di rumah marlah sangat ramai, tapi itu semua tak mengganggu percakapan para sesepuh dan wisang geni. Pada dasarnya para sesepuh tidak percaya dengan ide wisang geni. Tampak sebagian besar ragu, termasuk paman marlan,...
" Mohon Tunggu sebentar sesepuh,..." Wisang geni masuk dalam kamar yang diperuntuk kan padanya. Dia akan mengambil uang dari gelang ruang naga nya,kalau dilakukan didepan umum pastilah para sesepuh akan tempat lagi,hal ini tidak di kehendaki wisang geni. Dengan membawa bultelannya kembali wisang geni duduk ditempat semula, ...
" Maaf sesepuh harus Menunggu... Jadi begini sesepuh, para pekerja yang akan membantu akan dapat upah, yang biasanya 1 hari mereka dapat 1 kupang perunggu, saya akan memberi mereka 2 kupang perunggu...sebagai ganti tenaga mereka yang tidak menggarap sawah... Dan lagi makan selama pengerjaan rumah akan ku tanggung, ya... Walaupun sederhana tetap saya tanggung... Setiap pemuda yang mempunyai tenaga cukup boleh membantu... Kalau seandainya sesepuh setuju aku akan bayar sebagian upah mereka di muka... Bagai mana sesepuh..." Jelas wisang geni sembari membuka buntelannya.
Para sesepuh sontak kaget dengan ucapan wisang geni, belum sadar dari keterkejutannya, sontok mereka lebih terkejut lagi... Mata mereka seakan mau keluar melihat pemandang yang terjadi setalah wisang geni membuka buntelan nya...
" I...i...itu... " Teriak para sesepuh serempak seperti halnya paduan suara, suara mereka seakan tertahan dintenggorokan...
" Ini sebagai bukti bahwa saya Serius sesepuh..."
" Ba... Baik kami setuju" ucapan sesepuh wiryo mewakili sesepuh para sesepuh lainnya.
" Baik sesepuh... Jika semua sesepuh setuju ... waktu akan kita bicarakan sambil makan malam, saya harap sesepuh membawa serta keluarga nanti malam , bibi Marni sudah masak banyak ...." Pinta wisang geni kepada para sesepuh,
" Paman Marlan .... Sepertinya kambing di tambah 2 lagi... Karena saya berharap semua warga desa bisa dagang " ucap geni sambil memandang Marlan.
Para sesepuh sudah tak dapat bicara lagi,,, kini Ditambah meminta semua warga berkumpul untuk makan malam....
" Sudah nak Geni.... Apa kamu mau para sesepuh mati berdiri karena terkejut...." Celetuk Marlan menyadarkan lamunan para sesepuh.
Malam didesa Daun Hijau yang biasanya sepi tampak ramai, Di rumah paman Marlan banyak sekali warga desa yang berkumpul. Semua warga desa berkumpul disana,kurang lebih 200 oarng dari yang muda sampai yang tua. Semua asyik menikmati hidangan masing-masing, bagi mereka makanan yang di suguhkan paman Marlan selaku tuan rumah adalah makanan yang luar biasa. Bahkan hidangan itu lebih mewah daripada kegiatan syukuran desa pada umumnya. Terlihat jelas tampak senang pada wajah para warga, hal ini membuat bahagia dalam hati wisang geni. Alangkah damai jika kehidupan seperti ini terus-menerus. Nampak muncul dalam fikiran wisang geni untuk membuat mereka selalu senang serta bahagia. Selepas kegiatan makan malam para sesepuh tidak bergegas pulang hanya para warga saja yang sudah kembali kerumah masing-masing. Nampak beberapa saudara dan tetangga merapikan serta membereskan tempat serta peralatan yang di gunakan perjamuan tadi.
" Nak Geni... Para sesepuh sudah sepakat dengan rencana nak Geni...tapi apakah nak Geni sudah memilih tempat...? Tanya sesepuh wiryo pada Geni.
" Sudah sesepuh...tepat bagian Timur dari desa ini, samping sungai besar setelah pasar..." Jawab wisang geni yang telah memeriksa lokasi siang tadi bersama anak paman Marlan.
" Tempat yang bagus...kapan nak Geni akan mulai pekerjaan ini...?" Tanya sesepuh wiryo,selaku perwakilan para sesepuh.
" Secepatnya sesepuh...lebih cepat lebih baik...mungkin besok sudah bisa dilakukan pembersihan tempat sesepuh, dan sebagian lagi bisa memotong kayu dari hutan..."
" Baik nak Geni...kami akan bekerja besok pagi..." Jawab sesepuh itu .
" Maaf sesepuh... Saya ada permintaan, jika warga menebang kayu dari hutan,setidak nya harus ditaman bibit pohon baru sesepuh, agar anak-cucu kita kelak dapat memanfaatkan nya juga..." Pinta wisang Geni kepada para sesepuh.
" Benar apa yang dikatakan nak Geni... Kita harus ikut menjaga kelestarian Bumi Nusantara ini..." Ucap sesepuh wiryo.
" Baik kalau sudah cukup...nanti sebelum sesepuh kembali ke kediaman harap sesepuh ambil sebagian upah yang saya janjikan,...biar nanti paman Marlan membantu saya..." Ucap Geni.
Pagi itu dirumah paman Marlan berkumpul kurang lebih 80 orang dari berbagai usia 17 sampai 45 tahun, mereka adalah pekerja yang siap membantu Geni mendirikan rumah.
" Semua... kerjakan sesuai bagian yang telah di perintah kan masing-masing sesepuh... Dan ingat hanya kayu yang sudah tua yang boleh ditebang..." Teriak sesepuh wiryo memberi perintah kepada para pekerja,. Tugas para pekerja telah di sepakati, sebagian pembersihan tempat, sebagian lagi menebang kayu. Hal ini telah di tentukan masing-masing sesepuh sebelum nya.
Tanpa terasa proses pembangunan rumah Geni sendah berjalan 15 hari,sudah mulai tampak kerangka bangunan yang besar dan gagah, di tambah jumlahnya pun 8 rumah. Dimana di tengah-tengan ada pelataran yang cukup luas.
" Sesepuh...sesepuh...kang parno digigit ular...sesepuh..." Ucap seorang pemuda.
" Cepat bawa kemari..." Perintah sesepuh Wiryo, beliau di kampung ini di kenal sebagai seseorang yang mengenal ilmu pengobatan, tapi sayang...sesepuh wiryo hanya dapat membuat obat untuk deman, serta penyakit ringan, masalah bisa atau racun beliau awam bahkan tidak tau sama sekali.
" Gawat ... Bisa ular ini sangat beracun ..." Keluh sesepuh wiryo.
Situasi yang semula ramai karena pekerjaan seketika berubah panik, bahkan lebih ramai dari pada sebelumnya...
Hal itu membuat wisang geni mencoba cari tahu ada apa gerangan.
" Ada apa sesepuh...kenapa sesepuh terlihat gelisah dan panik...?" Tanya wisang geni.
" Ini nak Geni si parno digigit ular... Sayang nya orang tua ini tak tahu mengenai racun..." Sesal sesepuh itu.
Lengan pemuda itu sudah nampak kenan serta berwarna biru,tanda racun mulai menjalar. Pemuda itu sudah mulai pingsan dan kehilangan kesadaran. Melihat semua itu wisang geni segera bertindak guna menyelamatkan si parno ,pemuda yang terkena bisa ular tadi. Dia mengikat pangkal lengan pemuda itu, lalu membuat luka sayatan baru di atas luka bekas gigitan ular tersebut. Dia lalu mengeluarkan racun atau bisa ular dengan cara mengeluarkan darah yang di urut dari pangkal lengan pemuda yang tergigit ular tersebut. Setelah dirasa cukup wisang geni menaburkan bubuk obat pada luka pemuda tersebut. Wisang geni memegang tengkuk pemuda tersebut dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam. Tak berapa lama pemuda tersebut sadar.
" Sesepuh tolong minumkan pil ini sehari sekali... Dan setelah hari ke tiga bawa dia menemui ku..." Pinta wisang geni.
Yang dilakukan wisang geni pun tak luput dari pandangan warga.
" Baik nak Geni..." Jawab singkat sesepuh,
" Setelah ini biarkan kakang parno istirahat selama tiga hari..." Sambung wisang geni, dan di jawab oleh sesepuh itu. Setelah tiga hari si parno kembali menemui wisang geni, tampak sehat seperti sedia kala.
" Tuan Geni.... terimakasih telah menyembuhkan saya, entah bagai mana nasib saya kalau tak ada Tuan Geni..." Ucap parno dengan kepala tertunduk.
" Sudahlah kang parno...kakang parno terkena bisa ular juga karena bekerja membantu ku, jadi tak usah terlalu Sungkan, cepat sana kerja... Apa mau upah kang parno saya potong..." Ucap wisang geni bercanda.
" Baik aden Geni...." Jawab parno sembari pergi meninggalkan wisang geni.
" Tadi tuan...sekarang aden... Ada- ada saja warga desa ini..." Gerutu Geni dalam batinnya.