
Pagi ini wisang geni berjalan santai sembari menikmati indahnya alam. Dari informasi yang didapat dia harus naik kapal dagang dari daerah Jaya karta. daerah pesisir pantai Yang merupakan kekuasan kerajaan Pasundan. Paling tidak memakan waktu 1 bulan jalan kali kalau di tempuh kuda dia memerlukan waktu 15 hari.
" Perjalanan yang cukup jauh..." Gerutu wisang geni dalam hati. Tapi wisang geni sudah bertekat akan ke Nihon, barang kaliasih ada keluarga sang guru yang bisa dia temui kelak. Perjalanan wisang geni menuju Jaya Karta harus melewati kadipan Gunung Kidul dulu, jelas wisang geni tak asing lagi dengan jalan yang dia tempuh saat ini. Karena satu bulan lalu di bertarung melawan para perampok yang sekarang menjadi pasukan yang dia bentuk di desa Daun Hijau. Desa Bambu Kuning adalah desa terdekat dengan wilayah kadipaten Gunung Kidul tak heran jika desa tersebut lumayan ramai.
Lalu-lalang penduduk sudah mulai nampak melewati jalan yang di tempuh wisang geni,menandakan sebentar lagi akan sampai di Desa Bambu Kuning. Dia mempercepat langkahnya biar sampai lebih awal karena matahari mulai condong ke barat.
" Aku harus cepat biar bisa bermalam didesa Bambu Kuning..." Batin wisang geni mempercepat jalannya.
Hari sudah sore dan aktifitas mulai sepi di desa Bambu Kuning ini.
Wisang geni cepat mencari penginapan yang dulu pernah di singgahinya karena lumayan bersih. Setelah menyelesaikan pembayaran dia langsung kekamar untuk melaksanakan penghimpunan tenaga dalam,karena selama 6 bulan di desa Daun Hijau wisang Geni jarang berlatih.
Kicau burung saling bersarsautan, serta tanda merah di ujung timur mulai nampak menandakan pagi sudah tiba, wisang geni bergegas membersihkan diri dan segera ingin melanjutkan perjalanan. Wisang geni berjalan santai sambil menikmati pemandangan lalu-lalang penduduk desa Bambu Kuning ini, bayangannya menerawang jauh ingat kampung halaman nya di desa sambung wangi.
Tiba-tiba terdengar suara berisik yang menyadarkan waisang geni diri lamunan. Buk... buk... buk... plak, terlihat seorang pemuda yang sedang di pukuli penduduk setempat.
"Ampun sesepuh...jangan pukul lagi..." Pinta seorang pemuda se-umuran wisang geni, nama pemuda itu adalah Bejo, pemuda miskin anak perani sayuran di kampung itu. Wisang geni yang menyaksikan merasa iba dan segera melerai.
" Maaf sesepuh jangan Anda pukul lagi pemuda ini,,, dia bisa mati..." Ucap wisang geni dengan datar tapi cukup mbuat orang yang mendengar bergetar harinya, karena suara ini di sertai tenaga dalam yang cukup kuat.
Sesepuh yang melihat wisang geni tampak curiga dan bingung dengan penpilan orang bertopeng ini.
" Kisanak siapa... Kenapa mencampuri urusan warga sini...? Kamu sedang memukuli maling kecil ini, jika kisanak tidak pergi jangan salahkan kami berbuat kejam pada mu..." Ucap sesepuh yang sebenarnya gentar dengan wisang geni.
" Biar aku ganti barang yang dia curi... Mamang apa yang dia curi...? Tanya wisang geni pada sesepuh. Dia tahu bahwa barang yang di curi pemuda itu ada ayam panggang dan buntelan nasi. Jadi wisang geni menduga pasti pemuda ini kelaparan.
" Dia mencuri ayam dan 3 buntel nasi jagung... Berhubung kau mau bayar jumlahnya 10 kupang perunggu..." Jelas sesepuh penjaga warung makan sebrang jalan.
" Hah kenapa mahal sekali biasanya cuma 4 kupang perunggu..." Bantah Bejo.
" Trimakasih tuan penolong atas bantuan nya.." ucap trimakasih Bejo pada wisang geni. Wisang geni ingin tahu keadaan desa serta kehidupan penduduk dari Bejo.
" Maaf aku geni kamu siapa....?" Sapa wisang geni lebih dulu karena pemuda di depannya tampak canggung.
" Sa...saya Bejo tuan..." Jawab Bejo sambil menundukan kepala
" Sudah lah Bejo kita se-umuran jadi tak usah memanggil tuan..." Sanggah geni karena merasa keberatan di panggil Tuan. Wisang geni ingin berpura-pura marah dengan kelakuan Bejo.
" Bejo kenapa kau mencuri...? Apa kau tau aku benci perbuatan tersebut. Apa kau tak lihat sekarang kerajaan Mataram jadi kacau gara-gara banyak nya pencuri.. .apa kau salah satu dari mereka...?" Tanya Geni penuh selidik.
" Maaf Tuan...eh... Maaf geni, aku mencuri karena keluarga ku butuh makan..."
" Apa tidak ada pekerjaan lain hah...!!!!" Bentak wisang geni.
" Ba...baik akan aku ceritakan semuanya... Satu bulan yang lalu petugas penagih pajak kerajaan datang, mereka hendak minta pajak pada keluarga ku, tetapi ladang sayur keluarga ku sudah hampir 1 tahun ini tidak panen karena di rusak babi hutan, karena kami tidak dapat membayar pajak atau upeti ayah ku di pukuli hingga sakit keras dan aku tak bisa dapat pekerjaan karena situasi kerajaan kacau ayah ku membutuhkan pil jiwa yang harganya sangat mahal 1 biji saja bisa 10 kupang perak, aku dan adik wanita ku hanya bisa kerja serabutan sebagai buruh..dan..." Kata-kata Bejo terhenti karena di sela wisang geni.
" Cukup Bejo... Aku tak perlu mendengar pernyataan mu, cepat antar aku kerumah mu kalau kau bohong..!!! Kau akan tau akibatna..." Perintah Geni dengan Nada memaksa. Bukan karena geni ingin tahu benar apa tidak cerita Bejo, tapi wisang Geni menghawatirkan ayah dari Bejo,jika terluka dalam dalam waktu yang lama maka nyawa dari ayah Bejo tak akan terselamatkan.
Bejo dan wisang geni segera bergegas menuju rumah Bejo, dengan langkah yang cepat bahkan mendekati lari. Bejo sendiri heran dengan tampang wisang geni yang bertopeng, tapi dia tak mau bertanya soal itu, karena Bejo takut dengan wisang geni.
Hari hampir siang, matahari hampir di sudah berada tepat diatas kepala, dari jauh terlihat gubuk sederhana lebih tepat nya gubuk tua yang sudah mulai rusak di sana-sini. Wisang geni prihatin dengan kondisi tempat tinggal meraka.
Dari dalam rumah keluar wanita yang amat cantik, wisang geni sampai termenung melihat ke indahan ciptaan Tuhan didepan matanya tersebut batin dan mental wisang geni yang di tempa Resi Tomo pun tak dapat diragukan lagi, tapi jiwa muda yang ada dalam diri wisang geni pun tak dapat di pungkiri lagi, dia hanya pemuda yang belum genap 20 tahun melihat ini jelas jiwa muda memberotak. Wisang geni langsung menundukan kepala untuk menghindari bertatap mata dengan gadis cantik itu. Gadis ini adalah Diah Ayu adik dari Bejo gadis berusia 16 tahun yang mulai mekar bak sekuntum bunga yang mulai mekar. Sang gadis pun melihat wisang geni dengan sedikit heran karena penampilan wisang geni. Berhubung dua datang dengan sang kakak dia tak begitu kawatir. Diah Ayu sendiri tak pernah keluar kampung walau hanya sekedar belanja, karena pihak keluarga kawatir kalau sang gadis akan di ganggu bahkan diculik para penjahat, setidaknya itu yang dapat dilakukan keluarga sampai saat ini.