SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
BERTEMU PERMAISURI



"Baik Loka...maksud ku Pitaloka, kita akan selidiki keadaan Mataram,aku harap kau tidak berbuat ceroboh lagi" ucap Wisang Geni tetap dengan nada dingin. Diah Pitaloka merasa asing dengan nada bicara Wisang Geni. Tapi Diah Pitaloka mulai sedikit senang karna pemuda ini sudah mau bicara padanya.


Wisang Geni memangil dengan nama asli pitaloka menurutnya ini tak berbeda dengan sebutan Lokahita. Malam ini kedua muda-mudi istirahat dengan fikiran masing-masing. Mereka hanyut dengan lamunan masing-masing tanpa sepatah kata pun terucap dari keduanya.


Lokahita sudah cukup senang karna Wisang Geni sudah mau bicara padanya. Wisang Geni pun sedikit lega karna Pitaloka sudah mau jujur,setidaknya dia sudah tahu bagai mana langkah yang harus diambil selanjutnya.


Pagi itu Lokahita bangun lebih dulu, dia segera mempersiapkan bekal yang akan di bawa,dia telah mandi sebelum Geni bangun. Mempersiapkan sarapan, pastinya bekal kemarin yang masih dan memang sengaja di siapkan untuk makan pagi.


Mereka berdua memang berada di pinggiran desa tempat perkelahian kemarin terjadi. Penduduk desa maklum karna sudah biasa para perantau tidur di pinggiran desa mereka karna disitu terdapat punden(tempat memuja roh leluhur) dimana terdapat tempat untuk beristirahat para perantau.


Wisang Geni terbangun karna mencium bau ikan Bakar kesukaannya.


"Dari mana kau dapat ikan itu?"tanya Wisang Geni pada Pitaloka,karna dia tahu gadis ini tak pandai menangkap ikan,kalau makan memang andalan Gadis ini.


"Paman penjual nasi kemarin memberi ku ikan ini sewaktu bertemu di tepi sungai"  jawab Pitaloka yang kaget dengan pertanyaan Wisang Geni. Karena posisi nya membelakangi pemuda itu.


"Kakang sudah tidak marah lagi Kan?"tanya Pitaloka pada Wisang Geni.


"Buat apa marah...bikin lapar saja" ucap Geni coba membuat cair susana diantara mereka,walau terkesan garing dan tidak lucu paling tidak sudah mengakrabkan mereka berdua.


"Kakang perjalanan dari sini ke mataram kurang lebih dua pekan,lalu apa rencana kakang?" Tanya Pitaloka sambil menyiapkan hidangan.


"Aku mandi dulu biar bisa berfikir..."ucap Geni menuju sungai yang tidak jauh dari tempat mereka istirahat.


Setelah makan pagi mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Mereka sudah kembali akrab seperti sediakala, tapi terkadang ada rasa sungkan pada diri Wisang Geni karna status gadis di sampingnya yang memang tak biasa.


"Aku harap kau tidak berbuat onar lagi..." ucap Geni sambil berjalan pelan disamping Pitaloka.


"Memang aku anak Kecil yang suka buat onar kang?!" Protes Pitaloka tak mau disebut sebagai tukang buat onar.


"Suadahlah tak usah dinahas lagi...ayo cepat jalannya!" Perintah Geni pada Pitaloka. Pemuda ini tak mau beradu pendapat dengan gadis ini, karna dia pasti yang akan kalah.


Perjalanan kedua insan ini kembali seperti sediakala, saling bercanda, saling ejek satu sama lainnya. Mereka berdua layak seperti sepasang kekasih, tak terlihat bahwa beberapa hari yang lalu mereka bernah berkelahi lebih tepatnya Pitaloka lah yang menyerang Wisang Geni.


Sepekan telah berlalu dari peristiwa terbongkarnya jati diri Pitaloka, Wisang Geni iba dengan nasib keluarga dari gadis ini, walau bergelimang harta serta memiliki derajat yang tinggi tapi terjadi permusuhan,tidak seperti keluarga-keluarga kecil yang serba berkecukupan di desa.


Wisang Geni Dan Diah Pitaloka sepakat akan mengaku sebagai suami istri karna suatu hal yang tabu seorang gadis melakukan perjalanan dengan orang lain selain keluarga. Awalnya hal ini digunakan oleh sang gadis untuk menggoda pemuda yang telah menyelamatkannya sewaktu membeli kuda untuk perjalanan mereka berdua.


Setelah jati dirinya terungkap Diah Pitaloka menceritakan semua tentang keluarganya,terutama bagai mana ayahandanya memimpin kerajaan mataram. Bagai mana kehidupan masyarakat sebelum terjadinya banyak parampokan serta pencurian yang membuat resah kerajaan Mataram.


"Apa yang mendalangi pembantaian itu bukan raja Cokro melainkan orang lain yang mengatas namakan sang raja?" Batin Wisang Geni,pandangan Wisang Geni sedikit berubah tentang raja Cokro.


"Senyuman palsu...pasti ada maunya" gerutu Geni yang berdiri dari rebahannya.


"Apa tadi Katamu kakang?...coba ulangi!" Masih dengan senyuman,tapi kali ini senyuman gadis ini begitu sinis dan menakutkan.


"Kau mau makan ikan apa ayam hutan?" Tanya Geni mengalihkan pembicaraa  sambil berlari keluar dia bergidik dengan senyuman terakhir yang diberikan Diah Pitaloka untuknya.


Matahari telah condong kebarat, tak jauh dari gua tempat Wisang Geni dan Pitaloka terlihat 3 orang sedang bertarung dengan banyak orang saling membantu satu dengan yang lainnya.


"Apa yang Kalian inginkan?" Tanya seorang yang paling muda diantara mereka.


"Kami ingin harta kalian pun tak punya,bagai mana kalau kau tinggalkan wanita yang bersama mu?" Jawab Salah satu di antara mereka


"Ha...ha...ha...ha..."tawa serempak kawanan itu penuh kemenangan.


Tiga pria yang bersama wanita tersebut terlihat sangat buruk kondisinya,banyak luka lebam serta luka sayatan disana-sini. Jangankan untuk bertarung,hanya sekedar berdiri pun mereka bertiga sudah sempoyongan.


"Tutup mulut busuk mu penjahat! Kalau tak mau aku robek" bentak pria yang paling muda itu. Dengan kondisi yang memprihatinkan pria itu menyerang dengan ganas dia tidak terima sang ibu dihina.


Dengan segenap kemampuannya dia menyerang secara membabi buta,walau jelas kalah,dia tak terima dengan ucapan para penjahat itu. Pemuda tersebut jadi bulan-bulanan para penjahat. Sang ibu hanya bisa menangis menyaksikan putranya di jadikan samsak hidup oleh para penjahat.


Tak jauh dari tempat tersebut sepasang mata mengamati jalannya pertarungan itu, dia merasa tak asing dengan wanita yang di bela mati-matian oleh pemuda tersebut. Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu tapi dimana dia lupa.


Tring...bunyi pedang salah satu penjahat yang hendak Menebas leher pemuda yang menjadi lawannya. Pedang itu terlepas dari tangannya karna sambitan belati kecil tempat mengenai Ujung pedang yang dia pegang.


Dihadapan para penjahat muncul sosok misterius,dia membantu sang pemuda yang tadi dihajar para penjahat untuk berdiri.


"Ternyata kumpulan musang berbulu srigala yang hendak memangsa anak ayam" sindiran pria misterius yang baru saja muncul pada kawanan penjahat ini.


"Kau siapa kisanak,mengapa mencampuri urusan kami?"tanya salah satu dari mereka.


"Aku hanya pemburu yang kebetulan lewat sini, pendekar hebat" jawab orang misterius sambil memperlihatkan ayam buruan yang berhasil dia tangkap.


"Keparat...cepat bunuh orang itu!" Teriak salah seorang dari penjahat tersebut. Sontak kawanan penjahat  menyerang orang misterius yang baru datang itu.


Orang misterius tersebut tak mau berlama-lama dan lagi para penjahat seperti mereka harus segera di tumpas batin  orang misterius tersebut.


"Jurus pedang kilat" Teriak pria misterius sambil menyerang.