
Siang itu terlihat seorang pemuda Sedang memberikan komando kepada para pekerja, tak hanya memberikan arahan pemuda itu pun sibuk membantu para pekerja yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Satu purnama telah terlewati, bangunan itu sudah mulai menunjukan kegagahannya, terlihat megah bahkan bangunan ini tak kalah dengan bangunan-bangunan yang ada di kadipaten sekalipun.
" Kenapa dengan warga desa ... Mereka seperti enggan bercakap-cakap dengan ku ... Mungkin karena topeng ini... Ach sudahlah ...nanti saja memikirkannya..." Gerutu Geni dalam hati.
Sebenarnya warga desa bukan enggan atau takut dengan penampilan wisang geni. Hal ini karena kekayaan wisang geni, ini yang menyebabkan mereka Sungkan, walaupun wisang geni selalu bersikap sederhana dan yang pasti tidak sombong dengan apa yang dimilikinya, bahkan dia berfikir ini semua akan dia tinggalkan setelah apa yang direncanakan terlaksana.
Sore setelah para pekerja selesai, terlihat dua manusia beda usia sedang asyik bercakap-cakap sembil membersihkan diri di sungai yang letaknya tidak jauh dengan tempat yang mereka bangun saat ini.
" Aden Geni...boleh orang tua ini bertanya sesuatu..." Pinta sesepuh Wiryo .
" Aduh...kenapa sesepuh jadi ikut-ikutan warga, panggil geni... Sesepuh mau tanya apa...?" Jawab wisang geni merasa kurang enak dengan panggilan Aden (panggilan anak bangsawan).
" Baik nak Geni... Tempo hari nak Geni mengobati parno yang terkena racun... Apa nak Geni bisa ilmu pengobatan...?"
"Sedikit-sedikit sesepuh..." Jawab Geni singkat dengan Nada merentah.
" Kalau di ijinkan... orang tua ini boleh minta ajar pada nak Geni... Karena di desa ini belum ada yang bisa ilmu pengobatan...orang tua bodoh ini pun tak bisa...?"
Pinta Wiryo, sesepuh itu pun kagum pada wisang geni, meskipun kemampuan pengobatannya hebat serta punya harta yang berlinpah dia selalu sederhana dan tidak sombong. Tidak seperti anak para pejabat yang selalu membanggakan harta orang tua mereka.
" Boleh sesepuh... Bahkan aku berencan mengajari warga cara menempa besi..." Jelas geni pada sesepuh Wiryo.
" Nak Geni juga bisa menempa besi...?" Tanya sesepuh kaget bercampur senang,kalau benar anak ini akan mengajari ilmu pengobatan serta penempaan besi, warga tak usah bolak-balik ke kadipaten hanya untuk membeli perlengkapan dari logam dan besi yang mereka butuhkan.
" Iya sesepuh... Kita akan bahas lagi setelah pembangunan selesai..." Jawab Geni memberikan penjelasan pada sesepuh itu.
Tak terasa bangunan yang di inginkan wisang geni pun telah berdiri. Tepat berada di sebelah timur bangunan terdapat sungai yang cukup besar, sebelah selatan terlihat hutan yang terdiri dari bermacam- macam pepohonan, sebelah barat bangunan ada desa dimana letak pusat desa tersebut, sebelah utara pun tak juah beda dengan bagian barat, terdapat banyak pemukiman warga. Bukan tanpa alasan geni memilih tempat itu, dia tidak mau aktifitas atau kegiatan nya akan mudah di ketahui prajurit atau pejabat kerajaan Mataram seandainya bertandang ke desa tersebut,walau dipastikan itu sulit bahkan tak pernah terjadi, karena jarak dari desa ini ke Mataram cukup jauh. Tepat di tengah-tengan bangunan ada semacam tanah lapang seperti hal nya alon-alon atau tempat berkumpulnya masyarakat waktu ada pemberitaan hal-hal penting kala itu.
Seperti awal wisang geni mengadakan selamatan atau hajatan untuk membangun rumah itu, setelah pembangunan selesai dia pun mengadakan syukuran, bersyukur pada Dewata atau Tuhan Yang Maha Esau karena dalam pembangunan lancar, walaupun ada sedikit kendala yang tak begitu berarti. Sama dengan selamatan yang pertama, namun beda nya syukuran kali ini dilaksanakan di halaman tepat di tengah-tengah 8 rumah yang telah selesai di bangun itu. Di sudut tersendiri dari halaman itu, wisang geni beserta Tujuh orang sesepuh berkumpul, tentunya dengan paman Marlan sebagai pendamping wisang geni.
" Mohon maaf sesepuh... Saya sebagai pendamping serta sebagai perwakilan nak Geni...mohon setelah kegiatan syukuran selesai... Harap para sesepuh ambil sisa upah yang telah di janjikan nak Geni... " Tiba-tiba ucap paman Marlan memecah suasana. Karena para sesepuh ini sama sekali menyinggung mengenai masalah upah sisa tersebut.
Para sesepuh pun merasa kurang enak dengan wisang geni, Karena satu hari sebelum sesepuh wiryo telah menyampaikan bahwa wisang geni akan mengajarkan pada para warga tentang pengobatan serta cara bagai mana menempa besi.
" Maaf sesepuh... saya telah bercakap-cakap dengan paman Marlan sebelumnya... Akan mengajarkan cara menempa biji besi ... Dan beberapa hari yang lalu aku telah menjanjikan kepada sesepuh wiryo untuk mengajari warga tentang pengobatan... Mohon dari masing-masing sesepuh mengirimkan perwakilan..." Terang wisang Geni.
" Kapan nak Geni...?" Tanya sesepuh dengan penuh semangat
" Sesegera mungkin sesepuh...tapi saya minta jangan sampai desa lain tahu apa lagi sampai kadipaten ...saya kawatir desa ini akan mengundang perhatian orang-orang jahat..." Alasan wisang geni.
Setelah semua sepakat tentang persyaratan wisang geni,hari pun sudah di tentukan kapan warga akan memulai pembelajarannya.
Pelataran yang cukup luas , terletak diantara delapan rumah yang besar-besar, sungguh pemandangan yang cukup mengherankan jika itu semua adalah milik seorang pemuda berusia 19 tahun. Pagi ini cukup ramai karena tepat di tengah pelataran itu berkumpul 30 pemuda dari usia 17 sampai 25 tahun. Mereka adalah perwakilan dari keluarga para sesepuh yang sudah di tentukan.
" Tuan wisang geni... Hari ini kita akan belajar apa...?" Tanya seorang perwakilan yang usianya 25 tahun, Paijo seorang pemuda yang cukup gagah dia cucu dari sesepuh wiryo.
" Maaf kang mas ... Jangan panggil aku tuan... Perhatikan semua... Bagi kalian panggil aku sesuai nama saja, tidak usah ada tuan, raden atau sejenisnya..." Perintah wisang geni.
Semua setuju,hal ini mengubah pandangan warga. Selama ini wisang geni adalah orang yang misterius, dari penampilan apalagi selama ini mereka enggah bergaul karena takut status sosial. Mereka memandang dari segi kekayaan, ternyata mereka salah... Wisang geni tetaplah seorang pemuda yang berusia 19 tahun yang mana pasti cara bergaul sama seperti mereka.
" Wisang geni mulai mengajarkan mereka mengenai jenis tumbuhan obat serta kegunaan dan manfaatnya. Wisang geni hanya mengajarkan beberapa jenis obat-obatan, seperti pil penambah stamina, pengurang rasa sakit serta penyakit- penyakit ringan yang dia rasa perlu dan dibutuhkan warga desa tersebut Ditambah bagai mana mengobati racun ular. Sudah 30 hari para warga belajar membuat obat. Sebagian pemuda pun sudah hampir sumua bisa, cuma ada satu dua orang yang proses pembelajarannya sedikit lambat. Termasuk Paijo,dia agak lambat dalam belajar ilmu pengobatan.
Bulan berikut nya setelah para pemuda belajar ilmu pengobatan, tiba saat kini belajar ilmu penempaan besi. Kembalikan dari ilmu pengobatan justru hanya beberapa pemuda terlihat mahir, walaupun pada dasarnya para pemuda bisa,,, hanya penempaan dibutuh kan tenaga yang kuat. Yang paling menonjol adalah Paijo cucu sesepuh Wiryo.
" Kakang Paijo...ternyata kakang berbakat ilmu penempaan besi..." Ucap wisang geni memuji Paijo.
" Hehehe... Aku tak sehebat kamu dek geni..." Ucap paijo malu dapat pujian wisang geni
" Tenang kang mas... Aku yakin kelak kang mas jadi penempa senjata hebat..." Yakin geni pada Paijo.
Tak terasa sudah 3 purnama(bulan) wisang geni di desa ini, waktu seperti berlari. wisang geni pun mulai dengan rencana selanjutnya.