
Wisang Geni yang memang capek ingin segera beristirahat, seketika dia lupa bahwa hanya ada 1 tempat tidur di kamar yang disediakan. Sejenak pemuda ini berhenti dikamar tidur, hal ini diketahui oleh paman Bejo.
"Ada yang kurang nak Geni?" Ucap paman Bejo sambil menghampiri wisang Geni.
"Tidak ada yang kurang paman... " Jawab Geni yang tak terselesaikan karna bingung harus berkata apa.
"Masuk saja kang Geni aku sudah selesai merapikan tempat tidur" Teriak Pitaloka dari dalam kamar.
"Oh... Nak Geni sedang menunggu nak Pitaloka merapikan tempat tidur, paman kira ada yang kurang" Kata paman Bejo menimpali ucapan Pitaloka dari kamar.
"Iya paman... " Jawab singkat Geni yang masih bingung. Akhirnya dia pun masuk kamar tersebut.
Didalam kamar hanya satu tempat tidur beralaskan kasur tipis yang terbuat dari kapas pohon randu(pohon penghasil kapas), terdapat dua bantal dan satu selimut serta terdapat penerangan berupa lentera kecil yang tergantung pada dinding kayu. Dan satu lagi, gadis cantik dengan baju tidur yang tampaknya belum pernah dia gunakan sebelumnya.
"Kenapa baju aneh begitu? Kapan kau membelinya?" Tanya Geni yang masih berdiri mematung didepan pintu.
"Aku beli tadi pagi pas kakang beli bahan makan aku ke toko baju lalu membelinya, mari kang tidur" Ajak Pitaloka sambil menepuk-nepuk kasur yang sudah diberi alas kain yang nampak cukup rapi itu.
Wisang Geni ragu, tenggorokannya terasa kering mana kala melihat pemandangan yang ada didepannya. Seorang gadis dengan baju yang bisa dikatakan tipis, ditambah pancaran cahaya kemerahan dari letera menambah indah pemandangan tersebut. Jiwa muda Wisang Geni seakan ingin memberontak menyaksikan itu semua, tapi pemuda ini tetap berusaha meredam nya.
Walau Geni belajar pada seorang pertapa yang sudah menghilangkan semua sifat duniawi, penuh kebijakan serta kaarifan, serta penggemblengan tentang norma serta susila, tapi melihat pemandangan ini... Semua yang di pelajari seakan lupa dan hilang ditelan keindahan yang ada di depan matanya saat ini.
"Kau tidurlah diatas, aku akan meditasi seperti biasanya" Ucap Geni sambil duduk di lantai dengan posisi meditasi.
"Kalau begitu aku juga akan tidur disamping kakang" Gadis ini beranjak turun dari tempat tidur menyusul Wisang Geni.
"Kenapa kau ikut turun juga, lebih baik diatas disini dingin" Ucap Geni mencari alasan agar gadis tersebut tidak mendekat.
"Kalau kakang di bawah aku juga dibawah" Jawab Pitaloka dengan melempar senyum termanis nya.
Akhirnya tanpa berkata apa pun Geni naik keatas ranjang, pemuda ini memilih sisi paling pinggir dari ranjang tersebut, walau hawa diluar rumah cukup dingin karna hujan Geni berkeringat seakan ruangan tersebut panas. Kebetulan bulan ini musim penghujan dan hujan sudah turun semenjak Wisang Geni memasuki kamar ini.
Pitaloka bukanlah gadis murahan atau gadis penggoda, tapi semenjak mereka melewati tempat dimana dia dan Wisang Geni pernah melakukan cumbuan liar waktu dia tak sengaja meminum pil asmara, rasa itu muncul dan ingin sekali mengulangi lagi. Birahi nya timbul mana kala dekat dengan pemuda ini, nafsunya tak terkontrol ketika mereka hanya bersentuhan tangan.
Apa lagi di usia nya yang sekarang 19 tahun, usia diamana gelora muda mulai tumbuh, ketertarikan dengan lawan jenis begitu besar. Kebanyakan gadis masa itu sudah menikah di usia 16 sampai 17 tahun. Maka tidak salah kalau ibu dan ayahanda nya selalu menyinggung tentang pernikahan.
Gadis ini sebelumnya tidak pernah tertarik dengan lawan jenis karna disamping pergaulan yang serba di batasi dia juga menghabiskan waktu untuk berlatih silat. Kini gadis ini baru merasakan ketertarikan pada lawan jenis tak heran jika dia rela melakukan apun demi Sang pemuda.
Ditambah lagi teman-teman Pitaloka terutama gadis anak para pejabat yang telah menikah mereka selalu bercerita tentang kehidupan ranjang mereka, sebulumnya Pitaloka merasa jijik dengan cerita teman-temannya. Tapi entah setan apa yang merasuk pada gadis ini seakan dia juga ingin merasakan seperti yang dirasakan oleh teman-temannya.
Sedang Wisang Geni pemuda normal yang gagah, dia jelas tertarik pada wanita semenjak bertemu dengan Diah Ayu, ditambah adegan dengan Pitaloka selalu terngiang di kepala pumuda ini. Hal wajar karna Wisang Geni adalah pemuda normal ditambah kehadiran Pitaloka yang berpenapilan seperti saat ini, membuat darah mudanya naik. Laksana harimau yang bertemu kijang muda, batin Geni ingin sekali menerkam Pitaloka.
"Kenapa kakang berkeringat, apa kakang sakit?" Suara serak dari Pitaloka laksana nyanyian yang begitu merdu, walau tak bernada Geni seakan ingin terus mendengar suara tersebut.
Wisang Geni hanya geleng kepala menandakan apa yang di kawatir kan Pitaloka salah, itu karna tenggorokan pemuda ini seakan kering hingga tak mampu berucap satu kata pun.
Blar... Duar... Blar... Blar suara petir serta guntur saling bersautan seperti nyanyian para punjangga.
"Ach... Aku takut kakang" Gerak cepat Pitaloka langsung memeluk pemuda yang berada di pinggir ranjang tersebut. Bukannya menghindar Wisang Geni malah merentangkan tangan menyambut pelukan sang gadis. Wajah mereka begitu dekat, kali ini Geni yang mengambil ini siatif mererang duluan.
Pemuda ini langsung menerkam Pitaloka, bibir ranum Sang gadis pun menjadi sasaran Wisang Geni. Pitaloka pun membalas perlakuan pemuda ini dengan ganas. Hal semacam ini tak perlu belajar, tak perlu pengalaman, hanya naluri dan insting yang berjalan.
Pergulatan dua insan yang sedang di amuk gelombang birahi tampak begitu seru dan menegangkan. Tangan nakal Wisang Geni mulai menyapu setiap jengkal dari tubuh gadis ini. Pitaloka pun tak mau kalah dengan perlakuan Geni. Tangan Sang gadis pun iku ber-gerilya mengelus dada pemuda ini lalu turun. Tampak kaget pada wajah Pitaloka, gadis ini memegang ular yang luar biasa besarnya lebih besar dari ular yang di temui di goa waktu itu, ini ukuran tak wajar batin gadis ini.
Seperti ada magnet bukan nya dilepas malah dielus dan diremas Pitaloka, mendapat perlakuan seperti itu Wisang Geni mulai menaikan tempo serangan. Tangan Geni yang dari tadi hanya mengelus serta mengusap mangga ranum Pitaloka kini malah ikut meremasnya seakan membalas perlakuan Sang gadis. Tak cukup samapai disitu saja, kini dia berencana melahap mangga tersebut dengan bibirnya.
Pakaian atas Pitaloka dan Geni pun sudah acak-acakan, antah-berantah tak jelas kemana mereka membuangnya. Gigitan serta cumbuan Wisang Geni pada mangga itu sontak membuat sang gadis berteriak histeris, Wisang Geni sudah tak memperdulikan teriakan nikmat gadis ini karna dia yakin suaranya pasti akan tersamar oleh hujan dan petir diluar sana.