
Terlihat dua pemuda pemudi yang sedang duduk mengobrol diatas perahu yang sedang melaju entah kemana. Wisang Geni sedang memancing ikan dia baru terbangun dari tidurnya,meninggalkan seorang gadis yang sedang duduk bermeditasi.
"Maaf pendekar boleh saya duduk disini ?" Pinta Lokahita pada Wisang Geni yang sedang memancing di tepi perahu itu. Wisang geni tidak segera menyandarkan perahu karna takut masih ada kawanan penjahat yang mengejar mereka.
"Silahkan nona...perkenalkan aku Wisang Geni, panggil sesuka nona Tampa embel-embel pendekar" Wisang Geni menjawab pertanyaan sang gadis yang terlihat kaku dan canggung.
"Baik paman Wisang Geni..." Ucap gadis itu sesopan mungkin, dia tak ingin menyinggung Penolongnya tersebut.
"Oh iya...nona usia ku baru 19 tahun harap jangan memanggil ku dengan sebutan paman..." Ucap Wisang Geni sambil menggaruk kepala yang tak gatal itu.
Lokahita yang mendengar jawaban dari wisang Geni sontak kaget dengan usia yang disebutkan oleh pemuda yang ada di depannya tersebut. Dengan usia masih muda tapi mempunyai kemampuan yang begitu hebat.
"Nona...maaf kalau boleh saya tahu kenapa nona dan rombongan menyerang saya?" Tanya Wisang Geni sambil memperhatikan kail pancing yang dia lempar. Sontak pertanyaan tersebut membuat gadis itu kaget.
"Kakang...Nama ku Lokahita bukan nona" sanggah sang gadis merasa tidak enak dengan panggilan nona.
"Baik...Lokahita bisa kau jelaskan kenapa menyerang ku?" Tanya Wisang Geni pada gadis tersebu,walau sebelum nya dia sudah tahu nama gadis tersebut dari Patih yang dia selamatkan kemarin.
"Maaf kakang aku adalah sukarelawan atau pendekar yang berjuang untuk memberantas kejahatan yang terjadi pada kerajaan Mataram. Melihat penampilan kang Geni yang seperti ini,kami kira kakang salah satu dari penjahat itu." Terang Lokahita pada pemuda yang ada di sampingnya.
"Aku hargai perjuangan mu dalam menumpas para penjahat, tapi untuk membela kerajaan Mataram mungkin itu tindakan yang kurang tepat. Aku sendiri menyaksikan para prajurit kerajaan memungut pajak pada penduduk dengan paksa, bahkan tidak sedikit mereka merampas harta penduduk." Ucap pemuda tersebut dengan nada yang terkesan tidak senang dengan kerajaan Mataram.
"Apa kakang yakin dengan apa yang kakang lihat prajurit Mataram? Yang aku tahu kerajaan serta raja Mataram ada raja yang bijaksana dan berbudi baik" sanggah gadis itu merasa ada janggal pada keterangan sang penolong. Dia tidak membuka jati dirinya pada pemuda ini, dia ingin menggali informasi yang lebih dari pemuda bertopeng ini.
"Mendengar perkataan dari Lokahita,Wisang Geni merasa bahwa sang gadis benar-benar membela kerajaan Mataram , dia ingin memberikan bukti lebih pada sang gadis. Bahkan dia sendiri adalah korban dari keganasan kerajaan Mataram.
"Menurutku kerajaan Mataram cepat atau lambat akan hancur dengan sendirinya, karena raja serta pemerintah yang kejam dan semena-mena. Bahkan aku pernah menolong sebuah keluarga yang mana keluarga tersebut hampir kehilangan anggota keluarga akibat dihajar prajurit kerajaan." Terang Wisang Geni pada Lokahita.
"Kenapa kakang Geni seakan tak senang dengan kerajaan Mataram? Apa kakang punya dendam pribadi dengan kerajaan Mataram?"tanya Lokahita yang sedikit penasaran dengan keterrangan yang di berikan pemuda tersebut.
Melihat sang gadis yang selalu membela kerajaan Mataram, dia berencana menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
"Baik...aku akan bercerita kisah perjalanan ku...." Wisang Geni menceritakan tentang kejadian 4 tahun lalu.
Wisang Geni juga menyerahkan tanda pengenal prajurit kerajaan Mataram yang selama ini dia simpan. Tanda pengal berbentuk kotak kecil dari tembaga.
Sontak Lokahita kaget melihat tanda pengenal prajurit Mataram yang di serah kan Wisang Geni, dan dia lebih kaget lagi melihat wajah Wisang Geni sebagian tampak seperti sudah tua atau mungkin luka itu disebabkan sayatan atau luka bakar yang telah mengering.
Melihat kondisi wajah penyelamat Lokahita merasa iba dan kasihan. Entah dia harus berbuat apa? Semua kejadian itu menjurus pada kerajaan yang selama ini di bela dan dia banggakan.
"Apa aku salah jika tidak suka dengan kerajaan Mataram?" Ucap Wisang Geni mengakhiri ceritanya.
Entah keberanian dari mana tiba-tiba Lokahita pun meraba wajah yang tampak keriput itu.
"Apa luka ini dari peristiwa itu?" Tanya Lokahita. Wisang Geni tak menjawab pertanyaan tersebut, pemuda itu kembali mengenakan topeng itu kembali.
"Sudahlah...lebih baik kita bakar ikan itu dari pada memikirkan kejadian yang telah lalu..." Wisang Geni berdiri dan segera membersihkan ikan yang mereka dapat.
\* \* \* \* \*
Perjalanan dengan perahu ini sudah 2 pekan atau 14 hari, perbekalan dalam perahu ini masih cukup banyak, hanya saja mereka sudah mulai jenuh. Dan lagi Wisang Geni merasa sudah cukup aman. Kondisi pemudanya serta Lokahita sudah kembali seperti sedia kala.
"Lokahita...besok kita akan melakukan perjalanan lewat darat, bagai mana menurut pendapat mu?" Wisang Geni bertanya pada lokahita. Kedua remaja tersebut sudah tak canggung lagi, perjalanan dua pekan membuat hubungan mereka semakin akrab.
"Terserah kakang saja, yang pasti tolong antar aku kepada orang tua ku." Pinta Lokahita pada pemuda itu. Entah dari mana timbul perasaan nyaman dengan pemuda ini. Walau terkadang dia merasa malu kalau mengingat kejadian 2 pekan lalu waktu dia tetangkap Wisang Geni.
Perasaan aneh yang selama ini belum pernah dia rasakan. Wisang Geni pun mempunyai perasaan yang sama, mana kala tubuh mereka saling berdekatan. Pemuda itu seakan rindu dengan aroma bau badan gadis ini.
"Kenapa aku harus mengantarmu...bagai mana dengan tujuan ku selanjutnya?" Protes Wisang Geni mendengar dia dipaksa harus mengantar gadis ini pulang.
"Apa kakang tega melihat gadis secantik aku nanti dikeroyok penjahat,lalu...?" Ucap Lokahita mencari pembenaran. Tujuan sebenarnya Lokahita ingin sekali meminta penjelasan langsung kepada ayahnya raja Cokro perihal masalah penyerbuan di kadipaten Pati seperti yang di ceritakan Wisang Geni padanya.
Terbayang dalam fikiran Wisang Geni tentang ucapan para penjahat yang menculik gadis ini, mereka hendak memperkosa gadis cantik ini sewaktu masih pingsan. Dia tak akan tega apalagi dia teringat akan adik perempuannya Rahayu serta wanita yang telah mengisi relung hatinya Diah Ayu.
"Baiklah...tapi ingat sesampainya di rumah mu aku akan segera pergi" ucap Wisang Geni sedikit kesal. Tapi didalam lubuk hatinya sempat membandingkan kecantikan kedua gadis ini. Tapi kejadian itu hanya sepintas saja, dia kembali berfikir apa dia layak untuk mereka berdua.