SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
TAMU TAK DI UNDANG



Hampir 3 pekan perjalanan telah mereka lalui, tempat dimana Pertama kali Diah Pitaloka dan Wisang Geni bertemu telah mereka lewati, tak lama lagi perjalanan akan sampai.


"Sebentar lagi akan samapai" Suara lirih pelan dari Wisang Geni sambil menatap gadis yang ada disampingnya.


"Apa benar kang? Berarti tak lama lagi aku akan bertemu ibu dan ayahanda" Ucap Pitaloka dengan mimik muka berseri-seri.


Wisang Geni mengingatkan kembali kepada 7 orang bawahannya tentang ciri desa daun hijau serta tempat berlabuhnya nanti. Dia tak ingin karna teledor perjalanan bisa menempuh waktu lebih lama lagi, pemuda ini ingin segera menjalankan rencana yang telah lama dia susun.


Tiga malam telah berlalu dari terakhir Wisang Geni memperingatkan bawahannya. Pemuda ini tidur dengan pulas ditemani gadis yang selama ini telah bersamanya.


"Tuan...tuan... Apa itu desa yang tuan maksud?" Ucap Macan Kumbang dengan sedikit ragu, ditambah perjalanan mereka malam ini belum begitu lama, dia seakan takut membangunkan Wisang Geni dan Pitaloka.


"Apalagi paman Kumbang ini, bikin kaget saja" Gerutu Pitaloka yang terbangun oleh panggilan oleh Macan Kumbang.


"Sudah kau istirahat lagi saja, biar aku yang memeriksanya" Ucap Wisang Geni yang juga terbangun oleh pangilan tersebut.


Pemuda ini keluar dan segera memeriksa apa yang mereka lihat. Tampak begitu ramai indah lentera-lentera yang menghiasi desa tersebut, jelas ini begitu berbeda kala waktu dia pertama kali sampai pada desa ini.


Dari kejauhan nampak jelas bangunan rumah yang terlihat cukup indah dan besar, karna rumah tersebut berada tepat di tepi tebing atas sungai yang mereka lalui.


"Benar paman, itu desa daun hijau, paman tepikan perahunya aku akan membangunkan Pitaloka" Ucap Wisang Geni sembari masuk kedalam tempat dimana dia beristirahat.


"Ayo cepat bangun...! Kita sudah sampai, nanti tidurnya dilanjut lagi" Ucap Geni membangunkan dengan halus gadis yang masih pulas tidur itu.


"Kenapa cepat sekali kang, apa tidak bisa nanti saja turun nya" Ucap Pitaloka dengan malas karna baru saja gadis ini memejamkan matanya.


"Sudah ayo bangun..." Ajak Geni dengan tetap bernada halus, karna dia tahu gadis ini memang sulit bangun apalagi dia juga baru saja tidur.


Kedatangan mereka pun diketahui oleh sekelompok orang yang memang bertugas menjaga desa tersebut. Tak kurang dari 20 orang telah bersiap dengan senjata andalan mereka, sekelompok orang berbaju hitam masih bersembunyi dan menunggu perintah lebih lanjut dari kepala Keamanan. Mereka curiga dengan gerak-gerik kapal yang bersandar pada tepi sungai tersebut. Jelas mereka bukan nelayan atau pedagang, apalagi di tunjang dengan postur badan yang lebih tepat seperti seorang pendekar.


Mereka adalah pasukan Jogo Boyo bentukan Wisang Geni dan yang bertugas mengendalikan pasukan ini adalah Paman Loka Jaya. Pasukan yang cukup hebat dalam bergerak serta di tambah kemampuan yang diajarkan Wisang Geni tentang ilmu beladiri serta senjata rahasia, mereka seperti Ninja atau organisasi pembunuh yang bisa menghabisi lawan dengan cepat. Pasukan ini bersiap-siap akan menyerang kapal yang baru saja bersandar pada tepi sungai.


Setelah kapal bersandar ke tujuh bawahan Wisang Geni pun dapat merasakan kehadiran pasukan Jogo Boyo, tapi mereka tidak terlalu memusingkan tentang semua itu, ditambah mereka bertujuh bukan lah lawan dari orang yang sedang mengintai di atas tebing tersebut.


"Tuan...Sepertinya kedatangan kita telah di ketahui" Ucap Macan Lembah sambil berbisik di telinga Wisang Geni.


"Tapi tuan tidak usah kawatir mereka hanya menang jumlah saja, masalah kekuatan kita lebih unggul" Kata Macan Kumbang sambil merapikan tali yang digunakan untuk menambatkan kapal tersebut.


"Apa kalian yakin dapat melawan mereka? Pasukan itu aku sendiri yang membentuknya, jadi kemampuan mereka sangat hebat, boleh kalian mencobanya, tapi jangan sampai ada yang mati" Tantang Geni pada bawahan barunya sambil tersenyum sinis.


Merasa dapat tantangan dari tuannya ke tujuh orang ini ingin sekali unjuk kemampuan, ditambah lagi mereka juga ingin melihat bagai mana pasukan bentukan tuan mereka.


"Kalian keluarlah! Kami sudah tahu akan kedatangan kalian" Ucap Macan Kumbang mencoba memprovokasi pasukan Jogo Boyo. Perkataan dari Macan Kumbang pun tidak ada tanggapan sama sekali.


Tak berapa dari provokasi Macan kumbang, Tiba-tiba terlihat belati serta beberapa senjata rahasia menyerang ke tujuh orang yang sedang bersiap untuk bertarung tersebut.


Wuzzzss... Crap.... Crap.... Bunyi senjata menancap di tanah yang berhasil dihindari oleh ke tujuh orang tersebut. Mereka melompat bersama-sama karna senjata tersebut menyerang silih berganti secara berurutan.


"Dasar pengecut... " Triak Macan putih yang baru saja memegang belati yang mengarah pada kepalanya.


Dari semak-semak yang ada disamping ke tujuh orang ini muncul tak kurang dari 10 orang dengan pakaian serba hitam mirip dengan Ninja dari Nihon (Jepang).


"Maaf...apa tujuan kisanak ke desa kami" Ucap dari seorang yang diantara mereka.


"Kami adalah tamu, apa begini desa ini menyambut tamu!?" Ucap Macan Kumbang pada kumpulan orang berbaju hitam yang ada di hadapannya.


"Desa ini tidak pernah mengundang seseorang dan kami juga bukan desa yang ramai dengan perdagangan, jadi lebih baik anda sekalian pergi" Ucap sinis salah satu dari penghadang tersebut.


" Dasar pengecut... Setelah menyerang kami kalian malah mau mengusir begitu saja" Ucap Macan Hitam yang berada tak jauh dari rombongannya.


Mencium gelagat tidak baik salah seorang pun langsung maju menyerang ke tujuh orang ini.


"Serang mereka.... " Sambil menyerang orang tersebut memerintahkan yang lain untuk maju bersama.


Plak... Tak... Wusss... Serangan demi serangan pun terjadi.


Dalam gelap malam serang mereka sungguh sangat merpotkan ketujuh orang ini, di tambah mereka diserang dengan senjata rahasia yang dilancarkan entah dari mana.


"Awas kakang... " Teriak macan loreng melihat kelebatan belati menuju punggung dari macan hitam.


Wusss,... Macam Hitam menghindar kesamping, tapi sebelum kakinya menginjak tanah, sebuah tendangan mendarat telak pada dada pria tersebut.


Plak... Buk... Bunyi macan hitam jatuh terjengkang akibat tendangan tersebut.


Macam Loreng yang konsentrasinya terpecah mendapat serangan senjata dari tiga arah yang berbeda. Dia menghindar kesana-kemari, tak jauh berbeda dengan macam hitam, macan lorong pun mendapat tendangan pada punggungnya, dia jatuh tengkurap.


Anehnya setelah melakukan serangan, Orang-orang ini seakan menghilang ditelan gelapnya malam. Entah bagai mana mereka melakukan tersebut, Seakan-akan gerakan mereka tak terlihat, untungnya serangan mereka tidak disertai tenaga dalam yang kuat, ketuhuh orang ini hanya luka memar dan lebam di sekujur tubuhnya.


Mereka bukan maksud mengalah, tapi perintah dari sang tuan tidak boleh membunuh para penyerang tersebut. Jadi mereka tidak bisa bertarung secara maksimal, sedang disisi lain orang-orang yang menyerang mereka bertujuh mengerahkan kemampuan maksimal.