SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
SIAPA KAU SEBENARNYA?



"Aku hanya menjenguk kerabat" jawab pemuda bertopeng itu dengan santai.


"Kau memberi obat pada raja apa tujuan mu?" Bentak Kebo Edan yang memang sedikit lebih emosi di banding lainnya.


"Apa kau hendak menyelamatkan raja Cokro Gilang...atau Wisang Geni?"Ucap Karno dengan tenang sembari memperhatikan mimik dibalik topeng ninja yang di kenakan Wisang Geni.


Sontak bagai tersambar petir tanpa hujan Wisang Geni kaget bukan main, ternyata penyamarannya selama ini telah diketahui. Seingat dia pernah menyebutkan nama 2 minggu lalu waktu menyelinap dan memberitahukan identitas aslinya pada raja Cokro.


"Sekarang sudah jelas dan tak dapat di pungkiri lagi memang benar aku hendak menyelamatkan raja Cokro."Ucap Wisang Geni sambil melepas penutup kepala yang dia kenakan.


"Lalu siapa kau sebenarnya Gilang ataukah Wisang Geni?" Tanya Sukmo Aji yang dari tadi belum bersuara.


Batin Wisang Geni kacau,tapi pemuda ini bersikap tetap tenang. Ingin sekali dia membunuh 3 orang yang ada di hadapannya,tapi jika itu dilakukan maka kerajaan akan kacau karna mereka adalah peserta dalam kompetisi yang sedang berlangsung.


Dan jika mereka bertiga tak dibunuh maka akan menyulitkan bahkan dapat menggagalkan rencana pembebasan raja Cokro.


Wisang Geni berencana membunuh mereka bertiga dengan cepat,dan rencana pembebasan akan dilaksanakan malam ini. Tak ada jalan lain yang lebih baik dari membunuh mereka bertiga,setidaknya ini lebih baik dari rencana sebelumnya pikir Wisang Geni.


"Apakah perlu memberi tahu kepada orang yang akan mati?!" Jawab Wisang Geni sambil tersenyum sinis. Senyuman yang sangat menakutkan bagi ketiga orang yang ada di hadapannya. Pedang yang dia gunakan sebelum nya sudah berganti dengan pedang kematian,pedang pemberian sang guru.


Mereka bertiga kaget bukan main melihat perubahan sikap dari pemuda yang ada di depan mereka ini, sungguh berbeda dengan sebelumnya. Mereka bertiga pun bersiap-siap melakukan pertarungan.


"Mati kalian semua...jurus pedang kilat!" Teriak Wisang Geni yang tiba-tiba lenyap dari hadapan mereka bertiga. Sontak ketiga orang tersebut kaget menyaksikan kecepatan pemuda ini,walau sebelumnya sudah pernah melihat kemampuan yang dimiliki pemuda ini.


Blom...duar tiba-tiba telapak tangan Wisang Geni di tangkis oleh Sukmo Aji, pukulan tangan kiri yang begitu kuat, sehingga Sukmo Aji yang menangkis terpental kebelakang. Diwaktu yang sama Karno juga menangkis sabetan pedang pemuda ini.


Mereka bertiga mengengepung dan menyerang secara bersamaan,tapi terlihat bahwa Wisang Geni tak mengalami kesulitan menangkis serangan mereka bertiga. Wisang Geni mengunakan kecepatan penuh dengan jurus pedang kilat.


Yang awalnya rombongan karno dapat mengimbangi serangan Wisang Geni kini mereka terpojok,senjata Kebo Edan  yang berupa golok itu sudah patah,tak beda dengan tombak yang digunakan oleh Sukmo Aji telah patah jadi dua.


Hanya senjata Karno yang masih bertahan melawan serangan yang dilancarkan Geni, karno pun sadar tanpa pandang pemberian pemuda yang sekarang jadi lawannya kini mungkin mereka sudah tak akan bertahan lagi.


Wisang Geni melihat diantara mereka bertiga Sukmo Aji  yang paling lemah,dia berencana membunuh pemuda itu terlebih dahulu. Geni menyerang Sukmo Aji yang masih limbung karna serangan dadakan yang di lancarkan  Wisang Geni.


Melihat rekannya dalam bahaya Karno langsung melepar belati yang di miliki.


Wusszz...tring...bunyi besi saling beradu antara belati dan pedang.


Wisang Geni seketika menghentikan serangan lalu mundur kebelakang menghindari serangan yang mungkin akan membahayakan dirinya.


"Apa maksud mu kita orang sendiri?"kini giliran Wisang Geni yang bertanya pada Karno yang mengatakan hal tersebut.


"Baik aku akan ceritakan semua... kami sebenarnya punya rencana yang sama seperti kamu,membebaskan raja. Tapi kami memang bingung dan tak tahu harus bagai mana,kami hanya menunggu waktu yang tepat, aku adalah salah satu perwira muda yang bertugas membantu pembersihan....." akhirnya Karno menjelaskan semua yang terjadi di kerajaan mataram.


Dan kedua rekannya adalah anggota pasukan yang dia miliki, mereka menyamar dan mencoba masuk kedalam kerajaan untuk menyelamatkan sang raja. Karno juga menjelaskan siapa yang berada dalam penjara,semua yang ditahan oleh kerajaan adalah pasukan pengawal sang raja yang tertangkap.


"Nama ku adalah patih Kecik" lanjut Karno mengungkap identitas aslinya. Patih Kecik dulu pernah membantu penumpasan gerombolan Batara kala. Dia hendak memberikan laporan penugasan pada raja Cokro,tapi setelah tahu keadaan kerajaan dia mengurungkan niatnya dan ingin membebaskan sang raja.


Wisang Geni tak lantas percaya dengan keterangan yang di berikan mereka bertiga. Walaupun keterangan yang mereka berikan sama dengan keterangan yang di sampai kan pangeran Gesang dan permaisuri.


"Kalian minumlah obat ini agar kondisi kalian kembali pulih" ucap Wisang Geni memberikan 3 butir pil pada mereka.


Mereka bertiga langsung meminum pil tersebut tanpa bertanya lagi. Mereka langsung merasakan reaksi luar biasa,kondisi letih capek seketika langsung pulih.


"Obat ini benar-benar luar biasa" ucap Kebo Edan kagum dengan obat buatan Wisang Geni.


"Itu bukan obat,melainkan racun penghancur raga, organ dalam kalian akan hancur setelah tiga hari jika tidak minum penawar nya."Ucap Wisang Geni dengan ekspresi datar.


"Dasar sialan...kenapa kau memberi racun pada kami? Cepat berikan penawarnya!" Perintah Kebo Edan pada Wisang Geni. Wisang Geni hanya tersenyum sinis mendengar bentakan Kebo Edan.


"Tenang Kebo Edan, kita pasti akan diberi penawar nanti, Gilang pasti punya rencana lain" perintah Karno atau patih Kecik pada bawahannya. Patih Kecik mengerti kenapa mereka bertiga diberi racun oleh pemuda ini.


Sukma Aji hanya diam tanpa protes sedikit pun dia tahu maksud Wisang Geni,pasti dia akan berlaku sama dengan Wisang kalau berada di posisi pemuda itu.


"Kalian bertiga dengar rencana ku...." Wisang Geni memberikan arahan kepada ketiga orang tersebut. Rencana yang sangat baik dan akhirnya mereka setuju dengan rencana dari Wisang Geni.


"Aku harap kalian tahu harus berbuat apa, dan untuk kakang Kebo Edan jangan gegabah" pinta Geni pada Kebo Edan dan di jawab dengan anggukan.


Jauh dari kerajaan Mataram terlihat seorang gadis melamun,menatap pinggir sungai entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Gadis ini adalah Diah Pitaloka yang sedang menanti pemuda yang menjadi pujaan hatinya,


"Sudah 2 pekan lebih kakang juga belum kembali...awas kalau dia main mata dengan gadis lain..." celoteh jengkel Pitaloka untuk melampiaskan kekesalannya. Bukan dia cemburu tapi lebih tepatnya mengkhawatirkan keadaan ayahandanya terutama kakang Geni yang sudah bersemayam dalam hatinya.Sang ibu yang melihat anak gadisnya hanya bisa tersenyum kecut.