SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
JIWA MUDA



"Entah...biar waktu yang menjawabnya" ucap lirih Wisang Geni.


"Hayo...apa kakang memikirkan aku...?" Goda sang gadis pada pemuda bertopeng tersebut, sontak Wisang Geni kaget.


"Siapa yang memikirkan gadis centil sepertimu?" Jawab Wisang Geni menyembunyikan rasa malunya.


"Kakang...baju yang kakang berikan ini apa punya kekasih mu kang?" Tanya Lokahita menyadarkan lamunan pemuda itu.


"Kekasih?..apa ada yang mau padaku? Itu baju yang aku beli buat Rahayu adik ku" jawab Wisang Geni menjelaskan pada Lokahita. Dia tak berani mengatakan tentang Diah Ayu, karena hubungan mereka berdua juga belum begitu jelas.


"Owh begitu...syukurlah!" Ucap penuh bahagia dihati gadis itu, entah mengapa dia merasa bahagia sewaktu mendengar jawaban Wisang Geni belum punya kekasih.


Mereka berdua menghabiskan malam di atas perahu yang hanyut terbawa arus sembari melihat bintang di atas langit malam itu. Tak terasa perjalan mereka berdua sudah 14 hari diatas perahu itu, mereka pun sudah tak canggung satu dengan yang lain. Seperti sahabat lama yang sudah akrab, mereka bercerita kehidupan sebelum bertemu satu dengan yang lain.


Tapi dalam hal ini masih banyak rahasia yang di sembunyikan sang gadis. Dia belum berani jujur pada pemuda ini tentang identitas aslinya.


"Bangun Lokahita!... Sudah pagi" bisik lirih Wisang Geni pada gadis itu, dia sudah membersihkan diri sebelum membangunkan gadis ini. Wisang Geni melihat dari kejauhan terdapat banyak kapal bersandar disana. Dia berfikir disitulah pelabuhan tempat kapal bersandar batin nya.


Lokahita terbangun oleh ucapan pemuda itu, nampak pemuda yang cukup gagah dan berkarisma.


"Sebenarnya kakang Geni cukup tampan juga" batin gadis itu memperhatikan pemuda yang sedang mengemudi perahu yang mereka tumpangi.


Tidak berapa lama perahu yang mereka tumpangi sudah dapat di sandarkan. Wisang Geni merasa bahwa perahu ini pasti berguna kelak, jadi dia bermaksud menitipkan pada seseorang.


Di dermaga tersebut ada seorang laleki paruh baya yang kerjanya menjadi juru sandar perahu-perahu pedagang. Perahu yang dimiliki Wisang Geni tergolong perahu yang paling besar, bahkan perahu itu bisa dimuati 100 orang, bahkan pedagang paling kaya pun tak memiliki kapal seperti ini.


Perahu ini memang awalnya di gunakan untuk mengangkut pasukan perang dari satu wilayah ke wilayah lain. Tapi sekarang perahu ini menjadi miliknya.


"Paman...apakah paman orang yang membatu para pedagang untuk sandar pada dermaga ini?" Tanya Wisang Geni pada lelaki paruh baya tersebut.


"Benar tuan...saya Waryo petugas yang membatu para pedagang itu serta menjaga perahu-perahu mereka" jawab paman itu.


"Baik paman Waryo...saya ingin paman menjaga perahu ini, paman boleh mengunakan untuk berlayar mencari ikan atau apapun tapi hak milik perahu ini tetap milikku..." Ucap Geni pada Waryo.


"Ba...baik maaf dengan siapa saya bicara?" Tanya Waryo pada pemuda itu.


"Aku Wisang Geni paman...dan tolong paman cat ulang kapal ini serta perbaiki peralatan yang sudah rusak..!" Perintah wisang Geni pada laki-laki tersebut sambil menyerah kan 5 Kupang emas.


Waryo kaget dengan pemberian Geni, perawatan perahu mungkin sekitar 2 Kupang emas, sedang pemuda ini dengan mudah menyerahkan 5 Kupang emas.


"I..ini terlalu banyak Tuan." Ucap Waryo pada orang asing ini.


"Ambil saja paman sisanya buat paman, serta biaya perawatan perahu " jawab pemuda itu sambil menunggu seseatu. Paman Waryo pun bingung kapal sebesar ini hanya dia yang mengemudikan.


"Paman kami pergi dulu" ucapan Wisang Geni menyadarkan lamunan laki-laki paruh baya itu. Wisang Geni pergi sambil melambaikan tangan pada paman Waryo.


"Kakang kita mau kemana?" Tanya Lokahita yang berbicara disamping Wisang Geni.


"Kita akan cari desa terdekat untuk mencari tempat menginap dulu, sambil mengumpulkan informasi." Jawab Wisang Geni datar.


Gadis ini ingin menggoda pemuda itu,entah apa yang dia fikirkan, saat ini Lokahita begitu senang menggoda Wisang Geni. Dia merasa senang melihat reaksi malu-malu dari Wisang Geni.


"Kakang aku cantik tidak...?" Tanya Lokahita sambil berbisik di telinga Wisang Geni.


"Can...cantik" jawab Wisang Geni sambil mengalihkan pandangannya. Sebijaksana apapun Wisang Geni, dia tetap pemuda yang beranjak dewasa, rasa ketertarikan pada lawan jenis pun ada dan tak dapat daipungkiri dia pun senang dengan godaan serta candaan gadis ini.


Mereka berdua berjalan beriringan laksana sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Tak jarang sang gadis memberikan candaan pada pemuda yang ada disampingnya. Walau sang pemuda tampak sedikit malu-malu.


Setelah sampai sebuah penginapan yang cukup mewah itu ,mereka berdua hendak masuk. Tiba-tiba tangan Wisang Geni di pegang Lokahita.


"Kakang apa kita akan masuk?aku tak punya Kupang kakang." Jelas Lokahita merasa kawatir bagai mana mereka membayarnya, sedang penampilan Wisang Geni sendiri seperti sangat sederhana dan biasa-biasa saja.


"Tenang Lokahita aku punya sedikit Kupang untuk bekal perjalanan mengantar kamu pulang" jawab Wisang Geni menenangkan keraguan Lokahita. Gadis ini merasa tak enak dengan Geni, selama perjalan dengan sang Patih Wiryo sangkolo dia telah menyerahkan semua Kupang pada sang Patih. Sekarang dia tak punya apa-apa.


"Baik kakang...aku yang akan memesan kamar kalau begitu." Gadis itu menuju pelayan. Dia memesan satu kamar dengan 2 tempat tidur, kalau seandainya memesan 2 kamar pasti perlu banyak biaya batin sang gadis.


Wisang Geni sempat kaget dengan keputusan gadis itu. Tapi dia menurut saja keputusan sang gadis.


"Apa nona dan tuan pasangan suami istri?" Tanya pelayan itu dengan sedikit senyum di wajah tua itu.


"Benar paman kami baru menikah"jawab Lokahita sambil meraih tangan Wisang geni. Mereka berjalan menuju kamar yang sudah disediakan.


Lokahita percaya pemuda yang ada dengan nya saat ini adalah pria baik, maka diapun yakin walau satu kamar tak jadi masalah. Lokahita ingin lebih dekat dengan pemuda ini.


"Paman ini daerah mana? Tanya Geni pada paman pelayan tadi sambil berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.


"Ini kadipaten Semarang Tuan muda" jawab paman itu.


Wisang Geni dan Lokahita kaget bukan main, mereka tahu Semarang adalah kekuasan kerajaan Pajang. Tapi mereka berdua bisa menguasai keadaan dan berusaha tetap tenang.


Setelah sampai kamar tampak panik diantara mereka berdua, baik itu Lokahita atau pun Wisang Geni.


"Kakang bagaimana ini? Ternyata kita tersesat jauh" ucap Lokahita tetap tenang walau sedikit panik nampak pada raut muka cantiknya.


"Tak apa Lokahita...aku tetap akan mengantar mu pulang" jawab Wisang Geni dengan nada tenang. Wisang Geni tahu jika mereka berjalan kaki dari Semarang ke Mataram setidaknya membutuhkan waktu 3 pekan sampai 30 hari,sungguh bukan jarak yang dekat batin pemuda itu.