SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
WANITA, MAKLUK YANG SULIT DIMENGERTI.



Wisang Geni telah mengakhiri meditasi sebelum Lokahita bangun. Geni sudah memanggang ikan yang dia dapat dari sungai yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Lokahita merasakan badannya sangat lelah, dia lupa dengan belum begitu sadar tentang kejadian semalam. Dia seperti mimpi indah tadi malam hingga dia terbanyang bagai mana jika itu nyata.


"Ach...aku lelah sekali, kenapa dengan baju ku..." batin sang gadis. Sambil merapikan baju yang sudah tak beraturan sama sskali. Dia kembali mengingat-ingat kejadian semalam.


"Dasar lelaki mesum...penilaianku selama ini ternyata salah!" Lokahita seketika merah mukanya ketika mengingat kejadian semalam ternyata bukan mimpi. Dia mencabut pedang dan berusaha menyarang Geni yang asik memanggang ikan.


Wust...wust... plak..plok suara wajah Geni terkena pukul Lokahita. Geni kaget mengapa tiba-tiba di diserang oleh Lokahita.


"Hentikan...tolong hentikan,kenapa kau menyerangku?"tanya Geni menghindari serangan pedang yang dilancarkan Lokahita.


"Ternyata kau laki-laki busuk...aku tak menyangka kakang berbuat serendah itu?!" Ucap Lokahita sambil terisak menahan tangis yang hampir meledak.


"Aku tak berbuat kurang ajar... lalu apa salah ku,justru kamu yang mulai duluan...aku takut terjadi hal yang tak di inginkan maka dari itu aku membuat pingsan dirimu..." Geni coba membela diri dari tuduhan yang dilemparkan padanya.


"Coba kau ingat kejadian semalam...silahkan kau periksa apa kau masih apa ada yang kurang dari dirimu..." Lanjut Geni menenangkang Lokahita.


Lokahita mengingat kembali kejadian semalam,dan benar saja pakaian yang dia kenakan hanya berantakan pada bagian atas itu pun ulah dirinya sendiri. Bahkan sampai bangun pun pakaian bawah yang dia kenakan masih tetap sama dan tidak ada bekas pernah di buka.


"Kakang tetap salah,kenapa kakang..." ucap Lokahita terhenti sambil memegang bibirnya.


"Kau yang memulai kenapa aku yang salah."ucap Geni membela diri.


"Aku mau mandi...awas kalau kakang ngintip,aku congkel mata kakang!" Lokahita berkata menutupi malunya. Geni yang mendengar ucapan sang gadis hanya bisa menelah ludah ngeri.


Setelah makan pagi mereka berdua melanjutkan perjalanan. Sikap Lokahita kembali seperti semula cuman sekarang dia sedikit labih akrab tak seperti sebelumnya.


"Kakang...kenapa kakang kemarin mengaku bahwa aku wanitamu?" tanya Lokahita yang berjalan disamping Geni.


"Itu...aku...aku tidak ingin mereka mengganggu mu" jawab singkat Geni menyembunyikan malu sambil mempercepat langkah kakinya.


"Kakang tunggu..." Lokahita berlari mengejar Geni. Pemuda itu istirahat di bawah pohon rindang sambil bersandar. Lokahita pun duduk disamping pemuda itu.


"Kakang pernah itu sebelumnya?..."ucapan Lokahita terhenti,dia hanya menunjukan kode dengan memegang bibirnya.


Lokahita memang dari awal suka menggoda pemuda ini. Dia suka melihat tampang Wisang Geni yang menahan malu serta gugup, entah mengapa dia suka menggoda pemuda ini.


"Belum..." jawab singkat Geni sambil menundukan muka, Geni sangat malu menjawab pertanyaan dari Lokahita tersebut.


"Tapi kenapa kakang terlihat menikmati dan begitu pengalaman?" Lokahita memberikan pertanyaan yang membuat Geni terasa begitu malu untuk menjawabnya.


Pemuda tersebut tak tahu harus menjawab bagai mana, tak dapat disangkal pada saat kejadian tersebut memang dia sangat menikmati. Geni berfikir gantian dia mengerjai gadis bawel ini batinnya.


Wajah Lokahita berubah merah padam menahan malu yang teramat sangat, pertanyaan yang seharus nya jadi senjata nya kini berbalik pada dirinya sendiri.


"Kakang yang menikmati bukan aku!..." sanggah sang gadis sambil berdiri lalu pergi berjalan dengan cepat meninggalkan Geni yang masih duduk di bawah pohon tersebut.


"Dia yang bertanya,aku jawab...kenapa aku lagi yang salah?... biarlah." Batin Wisang Geni sambol berlari mengejar Lokahita.


Perjalanan yang semula mereka tempuh menggunakan kuda,kini kembali ditempuh dengan berjalan kaki. Setidaknya perjalan yang kurang setengahnya harus ditempuh paling cepat 10 sampai 15 hari, sungguh perjalanan pajang.


"Kakang...ilmu silat kakang sungguh hebat, boleh aku belajar dengan kakang?" Pinta Lokahita pada Wisang Geni kala waktu mereka beristirahat melepas lelah.


"Ilmu itu aku tidak berhak mengajari mu, tapi aku akan mengajarimu bagai mana cara bertarung. Kemenangan sebuah pertarungan tidak hanya bisa dilihat dari seberapa hebat jurus yang di gunakan, seni bertarung juga dibutuhkan" terang Wisang Geni pada Lokahita.


"Memang ada yang salah dengan cara bertarungku kang?" Jawab Lokahita bingung, kenapa kemenangan tidak di tentukan dari jurus yang digunakan,melainkan ada faktor lain yang menunjang.


"Bukan begitu Lokahita bawel... dalam hal bertarung harus menguasai seni bertarung juga..." Lanjut geni menjelaskan pada Lokahita.


Geni Mengajari seni bertarung pada Lokahita, gadis ini cukup berbakat, hanya beberapa hari dia belajar dia sudah mampu menguasai seni bertarung walau hanya 50 persen, itu sudah dapat dikatakan berbakat. untuk masalah ilmu yang di miliki itu tidak boleh di ajarkan selain keluarga sang guru,resi Tomo.


"Kakang setalah mengantar ku kakang benar akan ke Nihon,apa aku boleh ikut kang?" Tanya serta pinta Lokahita pada Wisang Geni. Gadis ini ingin bersama Geni terus, dia merasa nyaman bersama Geni.


"Benar...setelah mengantar mu aku akan ke Nihon...kesana aku juga tak tahu tujuan ku kemana, kalau kamu ikut lalu bagaimana dengan ibu bopo mu?" Jelas Wisang Geni pada Lokahita.


"Kalau ibu dan bopo ku pasti mengijinkan kakang, tapi aku sendiri juga tak akan tahu bisa kembali apa tidak? Jawab Geni, dia mencoba menolak dengan halus pinta dari sang gadis. Geni tak mau perjalanan guna menghantar Lokahita sudah di tempuh lebih dari setengah perjalanan harus di batalkan.


"Lokahita rumah mu dengan pusat kerajaan mataram jauh apa dekat?" Tanya Geni memecah kesunyian diantara mereka.


"Tak jauh kakang ...di sekitaran kerajaan mataram." Jelas Lokahita pada kakang Geni. Gadis ini masih tetap berusaha menyembunyikan identitas aslinya.


"Berarti kamu tahu bagai mana raja mataram dalam kesehariannya?" Tanya Geni, karna dia begitu penasaran dengan cerita dari Lokahita yang menyatakan kebaikan serta kebijaksanaan raja mataram.


"Tahu kakang,...tapi aku malas bercerita dengan orang yang tak percaya dengan keterangan yang aku berikan!" Jawab ketus Lokahita, dia tak mau berdebat dengan Wisang Geni. Dia yakin bahwa Geni dapat keterangan dari orang yang tak pasti sumbernya.


Wisang Geni yang merasa tersindir dengan ucapan Lokahita hanya menundukkan muka dengan Lemas.


"Aku mohon padamu...tolong ceritakan dengan sebenar-benarnya..."pinta Geni pada gadis itu, dia ingat pesan sang guru. Bijaksana dalam memutuskan segala sesuatu. Sedangkan selama ini dia hanya dipenuhi rasa dendam dalam hatinya.


"Baik kang,tapi kakang janji harus mendengar dengan baik, dan jangan mencela beliau....."


Lokahita menceritakan semua keterangan yang dibutuhkan Wisang Geni tanpa ada yang disembunyikan.