SATRIA PININGIT

SATRIA PININGIT
PERTARUNGAN PERTAMA



"Cepat...serang dia!" Perintah sang ketua pada semua pasukan.


"Aku harus gunakan semua kemampuanku" ucap lirih Wisang Geni. Patih Wiryo dan Lokahita sudah tak dapat melakukan pertempuran dengan kondisi mereka yang kelelahan serta luka-luka yang diderita.


Wisang Geni menguatkan batinnya,seketika dia teringat peristiwa 4 tahun lalu. Dimana kelompok calon prajurit dibunuh oleh orang-orang yang sama persis dengan lawannya saat ini. Kejadian tersebut membakar jiwa mudanya, perasaan balas dendam muncul dalam batinnya.


Tring...Trang... Wuszzt...tring... Crap...bunyi pertarungan antar senjata. Pemuda yang dari luar hanya terlihat tingkat pendekar utama kini menjadi sosok dewa kematian bagi orang-orang yang menyerangnya.


"Jurus pedang musim semi!" Teriak Wisang Geni menggunakan jurus kedua dari kitab pedang dewa Yama. Dia baru mampu menggunakan ilmu pedang ini karena tenaga dalam yang di milikinya belum begitu kuat.


Swing...crap...swing...tring...crap...bunyi sabetan pedang membelah serta membelah tubuh kolompok bertopeng yang berada paling depan. Kondisi mereka pun sangat mengenaskan,10 orang paling depan mati dengan tubuh terbelah menjadi dua, kepala yang terpengal dan to y kondisi ini sangat menyeram


Kejadian ini di saksikan Lokahita dan Patih Wiryo,mereka melihat dengan tatapan ngeri. Melihat jurus serta cara membunuh Wisang Geni yang begitu kejam.


Wisang Geni terus bertarung dengan aura membunuh yang begitu tinggi,dia seakan-akan tak peduli dengan orang disekitar nya. Entah dari jurus atau memang dia menggunakan pedang pusaka pemberian sang guru, Pada kenyataannya cara membunuh Wisang amat sadis hampir separuh dari musuh-musuhnya meninggal dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh yang terbelah serta tak sedikit jasad Tampa kepala yang utuh.


"Cepat tangkap bunuh gadis itu...!" Perintah ketua kelompok itu pada sisa anak buahnya.


Dia merasa kawatir jika dibiarkan maka seluruh anak buahnya akan musnah.


Wisang Geni masih dalam peperangan, semua sisa kawanan penjahat itu termasuk sang ketua maju untuk Menyerang wisang Geni. Tak jauh dari tempat Wisang Geni 10 anggota lain berhasil menculik Lokahita, gadis itu tak dapat bergerak karena dada sebelah kiri terkena anak panah yang mengandung racun yang amat berbahaya.


"Kisanak ada dendam apa kau dengan kami, sehingga begitu kejam kau membunuh anggota ku?" Ucap ketua kelompok itu.


"Lalu punya dendam apa kau dengan kelompok gadis itu sehingga kau ingin membunuhnya?!"balas Wisang Geni dengan nada sinis.


" Baik jika itu yang kau inginkan!" Ucap ketua kelompok penjahat itu sambil mencabut pedang andalan nya.


Wisang Geni yang sadar akan hebat nya sang ketua tak berani memandang remeh. Di tambah lagi Tanaga dalam nya sudah banyak terbuang.


Ketua beserta sisa anak buah menyerang bersama, kombinasi serangan Sangat cepat dah hebat.


Mereka bergantian menyarang bagian vital Wisang Geni.


"Gunakan formasi pedang badai!" Perintah ketua pada anak buahnya.


Pedang mereka laksana badai yang menggulung-gulung. Wisang Geni mulai terpojok,sedang dirinya baru mampu menggunakan jurus kedua dari kitab pedang dewa Yama.


"Akan ku gunakan semua kemampuan ku...!" Batin Wisang Geni. Dia langsung mengunakan jurus pedang hujan musim semi dengan kekuatan penuh.


Tring...Trang...tring...Trang bunyi senjata saling beradu. Dari pihak lawan serangnya


seperti angin badai,sayatan serta tusukan selalu datang silih berganti.


Crap...tring...Trang...crap suara yang muncul dari tusukan serta sabetan dari Wisang Geni membatai pasukan itu. Tinggal satu orang yang tersisa yaitu ketua kelompok. Pertarungan sengit pun terjadi, walau ketua bandit kemampuan masih dibawah Wisang Geni, tapi tenaga dalam pemuda itu sudah hampir pada batas kemampuannya.


Kemampuan ketua kelompok tersebut sudah dapat dikatakan tingkat tinggi, tapi bertemu dengan Wisang Geni yang mempunyai kualitas tubuh naga serta kemampuan bela diri serta tenaga dalam yang hebat itu semua tidak ada artinya.


Walau tenaga Wisang Geni sudah banyak berkurang, dia percaya akan mampu mengatasi ketua dari para penjahat ini. Wisang Geni mulai memasang kuda-kuda, dia ingin sekali menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat.


"Pedang Hujan musim semi" teriak Wisang Geni sambil maju menyerang.


"Jurus pedang naga sakti" teriak sang ketua tersebut.


Tring...Trang...wuzzzst crap, bunyi pedang saling beradu, pertarungan terjadi begitu dahsyat hingga mengakibatkan pohon radius 30 langkah dari posisi pertempuran tumbang. Debu beterbangan, hal ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh ketua itu.


Wisang Geni yang tenaga hampir habis tetap menyerang dengan kekuatan penuh. Tapi sayang, walau kemampuan Wisang Geni hebat tapi pengalaman bertarung baru kali dia berhadapan dengan musuh secara langsung.


Crap....swing.... Wisang Geni terkena sabetan pedang pada bagian dadanya,walau pun tak begitu parah tapi pedang sang lawan adalah senjata beracun.


"Sialan...ternyata pedang ini beracun!" Batin Wisang Geni yang berusaha menghindari serangan lawannya. Dia segera mengeluarkan penawar racun dari gelang ruang naga langsung dia minum.


Lawan Wisang Geni dapat mengimbanginya karena sang ketua kelompok sudah tahu jurus-jurus andalan Wisang Geni. Akhirnya Wisang Geni menggunakan ajian gumbolo geni yang dia pelajari dari guru keduanya.


"Akan aku kecoh dia" batin Wisang Geni.


"Jurus pedang hujan musim semi" teriak Wisang Geni sedikit lebih keras agar terdengar ketua tersebut, tapi tangan kirinya sudah dia aliri dengan tenaga ajian gumbolo geni.


Ketua tersebut sudah tahu jurus itu, dia merasa Wisang Geni akan kalah, disamping dia telah tahu jurus Wisang Geni dia juga tahu bahwa Wisang Geni sudah kehabisan tenaga.


Benturan pedang saling beradu, pertarungan epik kembali terjadi.


Sang ketua tidak memperhatikan tangan lawannya yang berubah merah di sertai kilatan-kilatan petir.


Wisang Geni yang berusaha mencari celah kurang konsentrasi dengan jurus pedang sang ketua itu. Sang ketua yang merasa sudah diatas angin dia melupakan pertahanannya.dia hanya fokus pada serangan.


Keteledoran ini dapat di lihat Wisang Geni, dia malah seakan-akan menangkis serangan sang ketua dengan sedikit melemah seperti kehabisan tenaga. Sang ketua lebih gencar melancarkan serangan.


Akhirnya kesempatan pun datang, Wisang Geni jongkok menahan serangan, sang ketua sekali lagi mencoba menusuk perut sang lawan. Pertahanan dia terlupakan. Wisang Geni yang mendapat kesempatan tak disia-siakan lagi.


Tangan kiri Wisang Geni yang berubah warna merah disertai kilatan petir tiba-tiba menghantam dada dari sang ketua. Dia kerah kan seluruh tenaga dalam yang dia miliki.


Ketua itu tak menyadari pukulan dari wisang geni telah telak menghantam dadanya. Dia terlempar kebelakang denga wajah menghitam seperti terbakar. Ketua tersebut mati seketika karena organ dalam rusak parah.